Teh Kejek, Teknik Pembuatan Teh Tradisonal Ala Garut

695
Teh Kejek
Seseorang sedang memilah daun teh dalam proses pembuatan teh kejek di Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Foto: The Jakarta Post/Arya Dipa)

1001indonesia.net – Pembuatan teh kejek asal Kabupaten Garut diyakini sudah ada sejak awal 1900-an. Proses pembuatan teh tradisional ini adalah potret bagaimana masyarakat pedesaan mempertahankan tradisi di tengah derasnya kemajuan zaman. Dalam kesederhanaannya, proses produksi manual ini menghasilkan teh dengan cita rasa yang khas yang membuatnya mampu bertahan hingga kini.

Tidak ada data yang pasti mengenai asal-usul teh kejek Garut. Namun, kuat dugaan pembuatan teh kejek muncul seiring munculnya perkebunan teh Waspada yang dirintis Karel Frederik Holle di dataran tinggi yang kini masuk wilayah Cikajang dan Cigedug pada 1865.

Selain merekrut warga setempat, Holle dibantu pekerja asal Tiongkok yang berpengalaman membudidayakan dan mengolah teh menjadi siap seduh. Ada kemungkinan teh kejek adalah hasil kolaborasi antara Holle dan pekerja asal negeri tirai bambu itu. Pasalnya, proses pembuatan teh kejek sama dengan yang biasa dilakukan pembuat teh di Tiongkok atau Eropa hingga saat ini. Bedanya, jika proses pembuatan teh di tempat lain sudah menggunakan mesin pemanas dan penggilingan yang digerakkan oleh listrik, proses pembuatan teh kejek di Kabupaten Garut ini masih dilakukan secara manual dengan peralatan tradisional.

Teh kejek diproses dengan cara disangrai di penggorengan berbahan besi kira-kira selama setengah jam. Selama itu, teh terus-menerus diaduk menggunakan tongkat kayu. Seusai disangrai, teh kemudian dipindahkan ke tempat khusus serupa parit panjang. Parit yang salah satu sisinya dibuat miring 30 derajat ini dinamakan wadah kejek.

Dalam bahasa sunda, kejek berarti diinjak. Daun teh yang telah disangrai lantas dinjak-injak di parit panjang itu. Tujuannya untuk menyempurnakan proses mengeluarkan getah daun teh sehingga hasil fermentasinya yang lebih baik.

Seusai di-kejek, daun teh kembali ke penggorengan. Disangrai lagi, tapi lebih singkat dari proses penyangraian yang pertama. Setelah itu, teh disimpan selama 2-3 hari. Seusai disimpan, teh kemudian dipilah berdasarkan kualitas dan siap dijual.

Banyak Peminatnya

Meski dibuat secara tradisional, banyak yang menggemari teh kejek. Kegemaran ini bahkan secara perlahan telah melahirkan kebiasaan minum teh baru, yaitu tradisi nyaneut. Tradisi minum teh ini berguna untuk menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara malam.

Dalam tradisi nyaneut, air dimasak di atas anglo yang berbahan bakar arang. Air panas kemudian diisikan ke dalam poci yang terbuat dari tanah liat. Satu sendok makan teh kejek kemudian dimasukkan ke dalam poci.

Sebagai makanan pendamping, disajikan talas, kacang tanah, singkong, ubi, dan pisang. Semuanya dikukus di atas anglo. Gula merah dipakai untuk mempermanis teh, juga untuk dimakan bersama singkong kukus.

Tradisi ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk menikmati teh, tapi sekaligus sebagai ajang silaturahmi. Teh dan makanan penyertanya dinikmati bersama keluarga atau kerabat. Tradisi nyaneut biasanya digelar setiap malam hari secara lesehan. Jika memungkinkan, api unggun dibuat di sekitar tempat berkumpul tersebut untuk menghangatkan tubuh. Saat minum teh bersama menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan.

Namun, ledakan komoditas teh tak bertahan lama. Kualitas teh rakyat, termasuk di Jabar, anjlok. Minimnya harga jual teh diduga menjadi salah satu penyebabnya. Teh menjadi usaha yang tidak menguntungkan bagi petani, terutama yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 ha. Akibatnya, banyak petani yang menelantarkan kebun. Sebagian lain lebih memilih menggantinya dengan tanaman sayuran yang dinilai lebih menguntungkan.

Kondisi ini diperparah dengan perlakuan pascapanen yang buruk dari kebun teh yang masih tersisa. Jika sebelumnya pemetikan pucuk daun teh dilakukan dengan teliti menggunakan tangan, saat ini sebagian petani tergoda menggunakan mesin pemotong dengan alasan efisiensi. Tak jarang ada petani yang membabat teh menggunakan parang.

Semua ini mengakibatkan sulitnya mendapat bahan baku teh dengan kualitas yang baik. Hal ini yang membuat banyak usaha pembuatan teh kejek baik yang berada di Cigedug maupun di Cikajang tutup. Di Cigedug, kini hanya menyisakan satu tempat produksi yang dimiliki keluarga Oos. Padahal sebelumnya terdapat puluhan usaha pembuatan teh.

Namun, di tengah kondisi yang tidak menggembirakan tersebut masih ada yang mencoba bertahan. Mereka percaya bahwa usaha ini layak diteruskan karena dapat memberikan penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Apalagi, teh kejek memiliki cita rasa yang khas dibanding teh lain yang diproduksi dengan mesin. Ini membuat teh kejek memiliki pasarnya sendiri.

Teh kejek juga menjadi pengingat kejayaan usaha teh di Kecamatan Cikajang dan Cigedug di masa lalu. Siapa tahu, orang-orang akan termotivasi untuk mengembangkan usaha ini kembali. Usaha-usaha unik seperti ini terbukti bisa menjadi andalan daerah untuk memberdayakan warganya.

Sumber:

  • Kompas, Sabtu, 10 September 2016.
  • http://www.garutkab.go.id/pub/news/plain/10177-nikmatnya-nyaneut-di-palabuhan-bulan/

LEAVE A REPLY

seven + 7 =