Songket Bali, Kekayaan Kerajinan Tradisional Pulau Dewata

537

1001indonesia.net – Selain kain tenun ikat atau kain endek, Bali memiliki juga tenun songket. Dulu, masyarakat Bali tak sembarangan menenun songket karena kain ini sangat terkait dengan adat tradisi di sana. Songket Bali memiliki ciri dan corak tersendiri dibanding tenun songket dari daerah lain, dan menjadi bagian dari kekayaan kain tenun Nusantara yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Sampai tahun 1930, kegiatan menenun songket adalah kegiatan keluarga bangsawan. Songket berkembang di Karangasem, Klungkung, Buleleng, Jembrana, dan Badung.

Kain songket Bali tradisional merupakan tenunan dari sutra murni berwarna dengan benang emas yang membentuk pola hiasan berbagai motif, yang disediakan untuk penduduk Bali dari keturunan Brahmana, kasta tertinggi dalam agama Hindu.

Kain songket merupakan salah satu jenis kain tradisional yang terkait dengan ritual pemujaan. Sebab itu, penenun songket di lingkungan puri mengerjakan berdasarkan fungsi dan tujuan. Untuk masing-masing penggunaan, diperlukan proses pembuatan yang berbeda.

Saat ini, songket Bali dapat digunakan oleh semua kalangan untuk acara resmi dan acara keagamaan. Kain songket digunakan untuk beragam upacara penting dalam siklus kehidupan masyarakat Bali, antara lain upacara potong gigi, perkawinan, hari raya, kremasi, dan upacara keagamaan serta dalam acara adat. Di luar upacara adat dan keagamaan, songket jarang dipakai karena harganya mahal, kainnya lebih berat, dan butuh perawatan khusus.

Salah satu daerah di Bali yang pusat kerajinan songket adalah Desa Sidemen di Karangasem yang juga memproduksi kain tenun ikat yang disebut kain endek.  Menenun kain menjadi aktivitas sehari-hari di hampir semua rumah di desa Sidemen ini melakukan kegiatan rutinnya sebagai penenun. Hampir semua orang di desa ini bisa menenun, belajar dari orang tua mereka secara turun temurun.

Namun, seperti yang ditulis Kompas (28/4/2017), penggunaan songket saat ini tidak lagi sesuai fungsi karena desakan faktor ekonomi. Perajin hanya mengejar agar kain cepat terjual.

Songket Bali pun makin tergerus di era modernisasi ini sehingga potensi yang dikandungnya tidak berkembang. Mereka yang peduli eksistensi songket Bali kesulitan dalam meregenerasi perajin, desainer, hingga pasokan bahan baku yang harus impor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − eleven =