Sepak Raga, Permainan Tradisional Cikal Bakal Sepak Takraw

232
Sepak Raga
Para pemuda Minang bermain sepak raga dengan latar belakang Sunset di Murao Lasak, Kota Padang, Sumatra Barat. (Foto: wahyuku.com)

1001indonesia.net – Sepak raga (sipak rago) adalah salah satu permainan tradisional yang berkembang di wilayah Minangkabau. Permainan tradisional ini menjadi cikal bakal olahraga sepak takraw. Bedanya, pada permainan ini belum ada jaring (net) seperti yang digunakan dalam sepak takraw.

Sepak raga dimainkan oleh enam sampai sepuluh orang. Para pemain membentuk lingkaran. Bola dimainkan dari kaki ke kaki para pemain tanpa jatuh ke tanah. Bola raga yang dimainkan terbuat dari anyaman rotan.

Di masa silam, permainan sepak raga dilakukan di sore hari oleh para pemuda di kampung-kampung pada sore hari untuk mengisi waktu luang. Karena tidak dipertandingkan, tidak ada penilaian yang baku pada permainan ini. Para pemain hanya dinilai dari kemahirannya dalam mengolah bola agar tidak jatuh ke tanah.

Konon, gerakan dalam permainan sepak raga berawal dari gerakan silek yang dikembangkan menjadi permainan. Misalnya, bola yang datang dari arah kanan diambil dengan kaki kiri dan sebaliknya bola yang datang dari arah kiri diambil dengan kaki kanan. Gerakan tersebut merupakan salah satu gerakan dalam silek yang disebut manggelek.

Namun, tak hanya sekadar menghibur, permainan tradisional ini juga memiliki nilai di dalamnya. Misalnya, nilai yang terkandung dalam bola yang dimainkan. Bola rago yang terdiri atas dua lapis merupakan simbol dari raga manusia yang terdiri atas tubuh kasar (jasmani) dan tubuh halus (batin).

Para pemain yang menjaga agar bola tidak jatuh ke tanah melambangkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang harus menjaga dirinya agar tidak jatuh ke dalam perbuatan yang merusak dirinya, baik lahir maupun batin.

Sampai sekarang, permainan tradisional ini masih dapat dijumpai di pinggiran kota Padang dan juga daerah-daerah lain di Sumatra Barat. Namun, di wilayah perkotaan, olahraga tradisional ini sudah mulai ditinggalkan. Sebab itu, ada upaya dari masyarakat Minang untuk melestarikan permainan tradisional ini. Salah satu caranya dengan melombakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 − nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.