Semangat Kebangkitan Nasional

216
Hari Kebangkitan Nasional
Foto: sdnegeri2jetaksari.blogspot.com

1001indonesia.net –  Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini terasa istimewa. Hampir di setiap pelosok Nusantara digelar aksi bersama. Bahkan di beberapa tempat, peringatan hari lahirnya Budi Utomo itu dirayakan nyaris seharian penuh (Kompas, Minggu 21 Mei 2017).

Namun, di balik semangatnya bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional terdapat keprihatinan mendalam dengan kondisi bangsa saat ini. Mungkin adanya keprihatinan itu pula yang membuat peringatan tahun ini terasa beda.

Hari lahir Budi Utomo yang dinilai sebagai momentum lahirnya semangat kebangsaan Indonesia terjadi 109 tahun yang lalu. Setelah sekian lama semangat kebangkitan nasional digaungkan, idealnya bangsa yang memiliki sumber daya alam dan manusia yang sangat kaya ini sudah menjadi bangsa yang besar, kuat, mandiri, dan disegani bangsa-bangsa lain.

Yang terjadi saat ini, Indonesia seperti berada dalam sebuah kegamangan dan disorientasi.  Setelah lebih dari 70 tahun merdeka dan perdebatan mengenai Pancasila sebagai dasar negara kita sudah selesai, kita masih disibukkan dengan isu SARA dan persoalan-persoalan sosial lainnya. Saat bangsa lain mampu menyatukan kekuatan mereka dan melesat maju, kita masih berkutat pada persoalan mendasar seperti perbedaan pandangan politik dan agama yang berpotensi memecah bangsa dan mengancam kebinekaan.

Padahal, kebangsaan Indonesia yang tidak didasarkan hanya pada satu suku, agama, ras, atau golongan tertentu sudah kita pupuk sejak dulu. Bangsa kita telah mencetuskan semangat untuk bersatu membangun kebangsaan Indonesia yang melampaui akar primordial dan kepentingan golongan terutama dengan Sumpah Pemuda tahun 1928. Namun, kini perbedaan malah dijadikan alat untuk memuaskan keserakahan sekelompok orang yang membuat bangsa ini terpecah belah.

Untuk itu, kita memang harus mengapresiasi kegairahan sebagian masyarakat Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan nasional harus terus ditumbuhkan dan dipupuk dalam setiap sanubari masyarakat untuk terus optimis membangun Indonesia dan melawan segala persoalan yang menghambat kemajuan bangsa.

Berbagai permasalahan akut, seperti korupsi, kesenjangan ekonomi, radikalisme, dan merebaknya sikap intoleransi perlu mendapat perhatian serius dan segera ditangani. Jika tidak, kebangkitan nasional yang kita rayakan setiap tahun ini bisa jadi tidak lagi memiliki makna.  Kita memang pernah bangkit [baca: bersatu untuk menghadapi penjajahan], tapi kemudian tidur kembali dan bermimpi mengenai kebangkitan nasional.

Ayo bangkit!!!

LEAVE A REPLY

3 × 5 =