Sedulur Sikep, Menjaga Warisan Ajaran Samin

929
Sedulur Sikep
Foto: nusantaranews.co

1001indonesia.net – Masyarakat Samin atau yang dikenal juga dengan nama Sedulur Sikep menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga alam dan tradisi leluhurnya.  Komunitas ini bertahan untuk hidup secara tradisional dan bersahaja sebagai petani. Bagi mereka, alam adalah sumber penghidupan yang mesti dijaga dan dirawat kelestariannya.

Masyarakat Sedulur Sikep yang tersebar di daerah Blora, Kudus, dan Pati ini sudah ada sejak akhir abad ke-19. Komunitas ini didirikan oleh Samin Surosentiko.

Samin lahir pada 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Blora, dengan nama Raden Kohar. Ayahnya bernama Raden Surowijaya. Raden Kohar kemudian mengganti namanya menjadi Samin untuk lebih merakyat.

Pada 1890, Samin Surosentiko mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di daerah sekitar yang tertarik dengan ajarannya. Dalam waktu singkat, ia sudah memiliki banyak pengikut.

Pada 1903, Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin.

Pada 1907, jumlah pengikut Samin mencapai 3.000 orang. Akibat penyebarannya yang semakin masif, pemerintah kolonial mulai merasa was-was. Samin sendiri memelopori sebuah gerakan untuk melawan kebijakan penjajah Belanda yang merugikan rakyat kecil.

Penolakan terhadap penjajah ditunjukkan dengan cara menolak membayar pajak, menolak menyetor padi ke lumbung milik desa, menolak bekerja bakti desa, dan menolak menyerahkan tanah pekarangan miliknya untuk perluasan hutan jati.

Tak hanya dalam bidang kebijakan, komunitas Samin juga melakukan perlawanan melalui bidang budaya, antara lain dengan menolak menggunakan bahasa Jawa krama kepada kalangan priyayi. Mereka cenderung menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada semua lapisan masyarakat.

Komunitas Samin juga menolak mendidik keturunannya pada lembaga pendidikan formal, suatu hal yang masih mereka lakukan sampai belum lama ini.

Perlawanan terhadap kebijakan kolonial itu membuat banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Samin sendiri ditangkap dan diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat hingga meninggal pada 1914 dalam status tahanan.

Namun, kepergian Samin tidak membuat komunitas yang dibangunnya lantas bubar. Ajarannya bahkan terus dipelihara hingga kini oleh para pengikutnya.

Sedulur Sikep
Foto: nusantara.news

Ajaran Samin, yang disebut sebagai Agama Adam, disampaikan ke pengikutnya dengan cara ceramah (sesoroh) di rumah atau di tanah lapang. Hal ini dilakukan karena waktu itu pengikutnya yang terdiri atas masyarakat kecil di pedesaan tidak dapat membaca dan menulis.

Samin Surosentiko mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang luhur, sikap mental, dan Pranata Mangsa kepada para pengikutnya. Ajaran tersebut dituangkannya dalam bentuk tulisan menjadi beberapa kepek (semacam buku primbon). Kepek tersebut dikenal dengan nama Kitab Jamus Kalimasada.

Pokok ajaran Samin yang menyangkut nilai-nilai kehidupan manusia digunakan sebagai pedoman dalam bertingkah laku oleh para pengikutnya. Inti ajarannya ada 3, yaitu angger-angger pangucap (hukum bicara), angger-angger pratikel (hukum tindak tanduk), dan angger-angger lakonono (hukum perihal yang perlu dijalankan).

Adeg-adeg atau prinsip dasar yang ditanamkan sejak kecil dalam komunitas masyarakat Samin, yaitu “aja drengki srei, tukar padu, dahwen kemeren, kutil jumput, lan mbedhog colong, mbegal kecu aja dilakoni, nemu wae emoh.”

Arti bebasnya, tidak boleh memiliki rasa dengki, iri, selalu curiga, dan bertengkar. Juga tidak boleh mencuri, merampok, mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan bahkan menemukan sesuatu yang bukan miliknya.

Juga ada ujaran, “Pangucap saka lima bundhelane ana pitu, lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu.” Maksudnya, perkataan dari angka lima ikatannya ada tujuh, dan perkataan dari angka sembilan ikatannya ada tujuh. Maksud ungkapan itu adalah agar manusia memelihara mulut dari tutur kata yang tidak berguna dan menyakiti hati orang lain.

Budi Santoso dalam buku berjudul Hanggo Puso Aji: Ajaran dan Sejarah Pergerakan Ki Samin Surosentiko menyebutkan, orang Samin mendasarkan perilaku pada empat hal. Mereka tidak mengganggu siapa pun, tidak mengambil milik orang lain, mencari makan dari miliknya sendiri, dan menjaga perilaku dengan baik.

Sampai saat ini, komunitas yang menghayati Agama Adam ini dikenal sebagai orang-orang yang jujur, sederhana, dan memegang teguh keyakinannya. Wong Samin atau yang kini lebih dikenal sebagai Sedulur Sikep mendalami dan menghayati ajaran-ajaran kebajikan itu dalam kehidupan keseharian mereka.

Penghargaan

Pada 2018, Sedulur Sikep terpilih menjadi pemenang Anugerah Yap Thiam Hien 2018. Anugerah Yap Thiam Hien merupakan penghargaan yang diberikan kepada pihak-pihak yang dinilai memiliki dedikasi luar biasa dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Anugerah tersebut didapat karena perjuangan Sedulur Sikep menolak upaya penambangan PT Semen Indonesia di pegunungan Kendeng. Mereka berjuang mempertahankan tanah adat dari kerusakan lingkungan. Dalam kehidupan keseharian, mereka juga menerapkan kearifan lokal untuk menjaga dan merawat Ibu Bumi.

Perjuangan Sedulur Sikep mengingatkan pada kita semua akan pentingnya menjaga tanah dan air yang menjadi sumber bagi kehidupan manusia.

Baca juga: Talang Mamak, Kisah Pilu Suku Asli Indragiri Hulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.