Sanggar Anak Alam (SALAM), Pendidikan Alternatif di Yogyakarta

709
Sanggar Anak Alam
Sekolah Alam Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta (Foto: sdsalamjogja.blogspot.co.id)

1001indonesia.net – Sanggar Anak Alam (SALAM) yang terletak di Yogyakarta merupakan komunitas yang bergerak di bidang pendidikan alternatif. Berbeda dengan pendidikan konvensional dalam ruang kelas yang seakan memisahkan diri dari lingkungan sekitar, SALAM justru mendekatkan anak-anak pada alam. Karakter pendidikan yang menekankan keterbukaan dan kebebasan mewujud dalam proses belajar-mengajar yang berlangsung dalam bangunan sederhana yang terbuka di tengah sawah dan lalu lalang kehidupan.

Komunitas Sanggar Anak Alam menyadari bahwa pendidikan tidak cukup hanya dilakukan oleh guru dan murid dalam ruang kelas semata. Proses pendidikan harus bersifat menyeluruh karena peran orangtua dan lingkungan sekitar sangat besar bagi kualitas pendidikan. Inilah sekolah kehidupan yang senyatanya, yang mengajak anak-anak untuk menemukan pemahaman dan pengertian dalam proses menjadi manusia yang lebih baik.

Sekolah selayaknya semacam oasis, seperti tempat teduh dan sumber air di tengah padang pasir untuk melepas lelah. Mustinya sekolah merupakan tempat di mana orang-orang dapat memuaskan dahaga keingintahuannya, mewujudkan impian-impian dan imajinasi kekaryaannya.

Toto Rahardjo

Untuk itu, Sanggar Anak Alam melibatkan orangtua dalam proses belajar-mengajar. Menjelang masa pendidikan anak akan dimulai, orangtua dan guru berdiskusi mengenai arah pendidikan dan bagaimana proses belajar-mengajar akan berlangsung.

Selama pendidikan berlangsung, juga terjadi komunikasi dua arah antara guru dan orangtua. Mereka saling bertukar pengalaman dan pendapat terkait perkembangan anak didik maupun keterlibatan orangtua dalam proses belajar-mengajar baik di sekolah maupun di rumahnya masing-masing.

Sanggar Anak Alam pun menyediakan ruang yang terbuka bagi anak-anak agar mereka dapat belajar dan mengaplikasikan langsung ilmunya pada kehidupan keseharian. Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar, anak-anak benar-benar “belajar dari kenyataan.” Dengan demikian, mereka akan memahami lingkungannya dengan jauh lebih baik sehingga lebih siap menghadapi dunia nyata.

Bukankah ini yang menjadi masalah utama pendidikan konvensional Indonesia sekarang: anak-anak muda yang baru lulus  sekolah ataupun kuliah bingung mau berbuat apa karena ternyata dunia tidak seperti yang digambarkan buku pelajaran. Model pendidikan yang memisahkan kelas dari kehidupan keseharian membuat anak-anak menjadi gagap menghadapi kenyataan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − 6 =