Sambatan Gawe Omah

223
Sambatan
Sambatan menjadi wujud dari sikap tolong-menolong dan gotong royong pada masyarakat Jawa pedesaan. (Foto: kabarhandayani.com)

1001indonesia.net – Nilai gotong royong dan sikap saling tolong-menolong melekat kuat dalam masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Jawa di pedesaan. Ini terlihat dengan masih lestarinya kebiasaan masyarakat Jawa untuk bekerja bersama dalam membantu tetangga yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai tradisi sambatan.

Sambatan berarti kegiatan bergotong royong dengan rasa kekeluargaan yang sasarannya perseorangan. Salah satu pekerjaan yang membutuhkan tenaga sambatan adalah membangun rumah (gawe omah). Di daerah pedesaan Jawa, apabila ada tetangga yang kesusahan pada saat mendirikan atau memperbaiki rumah, tetangga sekitarnya akan datang membantu secara sukarela sebagai tenaga sambatan.

Sambatan sendiri berasal dari kata sambat yang berarti mengaduh atau berkeluh kesah. Tradisi ini menunjukkan tingginya rasa empati serta kuatnya semangat kekeluargaan dan kebersamaan pada masyarakat Jawa pedesaan. Satu pemandangan yang hampir tidak kita jumpai di masyarakat perkotaan.

Ada tiga ciri dalam tradisi sambatan. Pertama, sambatan bukanlah kerja bakti. Kerja bakti atau yang disebut gugur gunung pada masyarakat Jawa ditujukan untuk kepentingan bersama. Sedangkan sambatan ditujukan untuk membantu seorang individu atau satu keluarga tertentu yang membutuhkan bantuan. Ini dilakukan karena individu atau keluarga tersebut tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri sehingga membutuhkan uluran tangan dari orang lain.

Adapun ciri yang kedua adalah pekerjaan dilakukan secara sukarela atau tidak ada upah. Kegiatan sambatan memang dimaksudkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan orang lain. Tenaga sambatan akan bekerja secara secara ikhlas tanpa mengharap imbalan uang atas pekerjaannya. Sebagai rasa terima kasih, orang yang dibantu akan melayani para pekerja dengan suguhan makanan dan minuman.

Tradisi sambatan ini sangat berguna untuk menciptakan jaring pengaman bagi masyarakat tidak mampu. Orang-orang yang hidupnya pas-pasan, hanya mampu memenuhi kebutuhan pokoknya saja, sering kali mengalami kesulitan ketika mereka terbebani oleh persoalan lain. Sebab itu, mereka membutuhkan pertolongan orang lain. Pada saat itulah tenaga sambatan dibutuhkan karena dilakukan dengan sukarela dan tidak ada sistem upah. Sambatan menjadi solusi untuk meringankan beban pekerjaan orang yang meminta tolong.

Ciri yang ketiga adalah adanya asas timbal balik (prinsip resiprositas). Kegiatan sambatan merupakan salah satu perwujudan semangat persaudaraan dan kerukunan dalam masyarakat pedesaan. Kerukunan masyarakat desa dapat dilihat dari bagaimana warganya saling bantu-membantu untuk meringankan beban orang lain. Tidak ada bayaran bagi yang melakukan kegiatan sambatan. Namun, ada kecenderungan di mana seseorang yang telah dibantu akan mengingat jasa orang-orang yang telah menolongnya dan akan membalas kebaikannya ketika mereka membutuhkan bantuan.

Adanya asas timbal balik dalam praktik sambatan tersebut memberikan rasa keterikatan yang positif yang bermanfaat untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan menjadi perekat kerukunan di dalam masyarakat pedesaan. Masyarakat tahu bahwa pada hakikatnya manusia saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada orang yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Itu sebabnya, sikap saling tolong-menolong sangat diperlukan untuk kebaika bersama.

Dari ketiga ciri tersebut di atas, kita bisa melihat ada beberapa nilai yang terkandung di dalam sambatan, yaitu tolong-menolong, kerja sama, sukarela, kekeluargaan, solidaritas, empati, kesetaraan sosial, dan kepercayaan.

Di masa lalu, sambatan menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat pedesaan di Jawa. Dilaporkan, di beberapa daerah pedesaan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta tradisi ini masih dilakukan sampai sekarang. Setidaknya sampai tahun 2013, sambatan bahkan masih dilakukan oleh orang Jawa di daerah transmigrasi, seperti yang terjadi di Desa Meranti Jaya, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sorolangun, Jambi. Namun, harus diakui, saat ini intensitas pelaksanaan sambatan tidak seperti dulu. Tidak semua warga yang sedang membangun atau memperbaiki rumah di pedesaan Jawa mengadakan sambatan. Hanya warga tertentu saja yang masih melaksanakan sambatan.

Salah satu sebab semakin jarangnya sambatan adalah material dan proses pembangunan rumah yang semakin berkembang. Jika dulu, rumah-rumah dibangun secara tradisional dengan kayu, bambu, dan bahan-bahan alami lainnya sehingga masyarakat sekitar relatif bisa membantu. Saat ini, umumnya rumah dibangun dengan material (batu bata, pasir, dan semen) dan cara yang lebih modern sehingga membutuhkan keahlian khusus dalam proses pembangunan. Lagi pula, spesialisasi di bidang pekerjaan yang berkembang di zaman ini juga membuat semakin sedikit orang yang mampu bekerja di bidang pertukangan.

Penyebab lainnya adalah pengaruh uang dan berkembangnya sikap individualisme. Tekanan hidup masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya semakin besar. Uang dan waktu menjadi hal yang semakin penting sehingga tumbuh rasa enggan untuk bekerja tanpa bayaran. Nilai-nilai yang dulu kuat di masyarakat pedesaan, seperti kekeluargaan, sukarela, kerja sama, dan tolong menolong, mulai memudar. Ini membuat kerja sambatan yang tidak menuntut bayaran secara langsung berupa uang semakin jarang dilakukan.

Selain itu, meningkatnya perekonomian masyarakat juga menyebabkan berkurangnya intensitas tradisi sambatan. Masyarakat yang mampu membangun atau merenovasi rumah dengan biaya sendiri tentu tidak membutuhkan bantuan sambatan. Mereka juga lebih memilih membayar orang untuk membangun rumahnya karena menganggap prinsip resiprositas dalam tradisi sambatan sebagai hal yang merepotkan. Mereka merasa enggan ketika harus melakukan “pekerjaan kasar” untuk membantu membangun rumah tetangga mereka. Lagi pula orang-orang semakin terikat dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa sewaktu-waktu terlibat dalam sambatan. Orang-orang juga menganggap menyambat tetangga dengan tuntutan adat sikap sopan santun dan kewajiban untuk menjamu amat merepotkan.

Mengingat manfaatnya yang besar, baik sebagai jaring pengaman sosial maupun perekat hubungan antarwarga, sangat penting untuk melestarikan tradisi gotong royong ini. Keberlanjutan sambatan merupakan hal penting karena merupakan salah satu wadah pemersatu masyarakat. Merasakan kesusahan dan kesenangan orang lain, menimbulkan nilai solidaritas dan empati. Terlebih lestarinya sambatan ini dapat menjadi indikator keberlanjutan masyarakat desa. Kerukunan merupakan kunci keberlangsungan dan kesejahteraan hidup masyarakat, terutama bagi warga yang hidup di pedesaan yang dicirikan dengan budaya komunalnya.

Tentu yang terutama sekali harus dilestarikan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu nilai gotong royong, kebersamaan, dan saling tolong-menolong. Sementara bagaimana tradisi ini dilaksanakan tentu harus menyesuaikan diri dengan di kondisi masyarakat yang ada sehingga tidak memberatkan dan dapat membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan bersama. Misalnya, di Desa Suruhan, sambatan biasanya dilakukan pada awal pembuatan fondasi rumah, sedangkan tahap penyelesaiannya (finishing) biasanya dilakukan oleh tukang. Dengan cara ini, tetangga sekitar masih bisa membantu sebagai tenaga sambatan, meskipun untuk pekerjaan yang dibutuhkan keahlian khusus dilakukan oleh orang yang lebih ahli.

*Tulisan ini dipublikasikan dalam buku Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional. Selengkapnya bisa diunduh di psikindonesia.org.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.