Rumah Panjang, Rumah Tradisional Suku Dayak

1480
Rumah Panjang, Rumah Tradisional Suku Dayak
Rumah Panjang Suku Dayak Kalimantan. Meskipun setiap suku mengembangkan arsitekturnya sendiri, terdapat ciri umum pada rumah-rumah asli Indonesia sebagai warisan dari budaya Austronesia. (Foto: popeti.com)

1001indonesia.net – Rumah panjang adalah rumah tradisional suku Dayak, penghuni asli pulau Kalimantan. Rumah ini dibuat sangat panjang sehingga dapat memuat puluhan hingga ratusan keluarga.

Keberadaan rumah yang dapat menampung satu komunitas ini mencerminkan sikap masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong. Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, rumah tradisional ini dinamakan rumah betang.

Bentuk dan Ciri-ciri Rumah Panjang

Disebut rumah panjang karena bentuk bangunannya yang memang memanjang. Panjangnya bisa mencapai 180 meter, tergantung berapa orang yang menempati. Lebarnya 10 sampai 30 meter.

Rumah yang berukuran besar ini biasanya terbuat dari kayu berkualitas tinggi, yakni kayu ulin atau kayu bulian. Kayu khas Kalimantan tersebut termasuk kelas satu kualitasnya. Sangat keras, tahan air, dan antirayap. Tidak heran jika rumah panjang yang dibangun dengan kayu ini dapat bertahan lama, bahkan hingga ratusan tahun.

Rumah panjang berbentuk rumah panggung dengan tinggi tiang sekitar 3-5 meter. Dibangun di atas tanah dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti serangan tiba-tiba dari musuh dan binatang buas serta bencana banjir. Letak rumah panjang yang berada di pinggir sungai membuatnya rawan banjir.

Sebagian rumah panjang adalah ruang terbuka yang digunakan untuk berbagai kegiatan bersama oleh para penghuninya. Sebagian lagi merupakan bilik-bilik yang menjadi tempat tinggal para penghuni yang terdiri atas beberapa keluarga. Masing-masing keluarga menempati biliknya masing-masing.

Cerminan Sikap Orang Dayak

Rumah panjang merupakan pusat kehidupan masyarakat Dayak. Rumah ini mencerminkan sikap suku Dayak yang mencintai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah tata kehidupan sehari-hari baik pribadi maupun sosial diatur berdasarkan kesepakatan bersama. Dalam rumah tradisional ini, relasi antarsesama penghuni terjalin lebih erat dan lengkap. Kerja sama terjalin hampir dalam segala hal.

Konon, sejatinya rumah panjang dibangun karena adanya rasa senasib, sepenanggungan, dan seperjuangan. Rumah-rumah yang umumnya dibangun secara terpisah, kemudian dibangun sebagai satu kesatuan.

Individu kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari komunitas. Sikap solidaritas terbangun dengan kuatnya. Persoalan yang dihadapi individu menjadi persoalan masyarakat.

Tata kehidupan keluarga dan masyarakat dipecahkan berdasarkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Pengaturan aktivitas-aktivitas seperti pembagian makanan, pekerjaan ladang, penjagaan keamanan, dan lain-lain menjadi lebih mudah ditata.

Kehidupan sehari-hari di rumah panjang. (Foto: kompas.com)
Kehidupan sehari-hari di rumah panjang. (Foto: kompas.com)

Selain sebagai tempat tinggal, rumah panjang juga berfungsi sebagai pengembangan budaya masyarakat Dayak. Hampir segala aktivitas adat diadakan di rumah ini, seperti upacara adat, perkawinan, dan musyawarah menyangkut masalah adat.

Rumah Panjang Saat Ini

Saat ini, keberadaan rumah tradisional suku Dayak ini sudah sangat jarang, bahkan hampir punah. Sangat sedikit suku Dayak yang masih mempertahankan tata kehidupan asli di rumah panjang.

Meski demikian, kita masih bisa menyaksikan rumah panjang dalam bentuk aslinya. Beberapa rumah panjang yang tersisa, meski tidak lagi ditinggali, tetap dirawat sebagai pusat kegiatan adat masyarakat suku Dayak. Juga ada yang sudah difungsikan sebagai monumen bersejarah untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + ten =