Ritual-Ritual Satu Suro di Pulau Jawa

oleh Siti Muniroh

134
Peringatan Satu Suro (Foto: liputan6.com)

1001indonesia.net – Di Indonesia, satu Muharram tidak hanya dikenal sebagai tahun baru Islam, tetapi juga tahun baru Jawa dan diperingati sebagai malam satu Suro. Pada masa sebelumnya, sampai sekitar tahun 1613, masyarakat Jawa masih memakai penanggalan tahun Saka yang merupakan warisan tradisi Hindu.

Alkisah, Sultan Agung yang telah menganut agama Islam, mencoba mendasarkan aktivitas penanggalan kepada penanggalan Qomariah atau penanggalan dalam kalender Islam yang berbasis pada perputaran Bulan. Uniknya, angka tahun Saka tetap digunakan dan diteruskan, tidak mengikuti perhitungan Hijriyah pada saat itu, dengan alasan kesinambungan peralihan Hindu menjadi Islam. Saat itu tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Lama-kelamaan, aktivitas ini berjalan dan menyebar. Hingga akhirnya, masyarakat Jawa memakai penanggalan yang dicoba oleh Sultan Agung ini diikuti dengan pelbagai macam ritualnya.

Ritual ini lantas menjadi aktivitas tahunan yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual satu Suro dilakukan selepas Magrib menjelang tanggal 1 Muharram. Hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya. Jadi, tanggal 1 pada penanggalan Jawa, bukanlah seperti penanggalan Masehi di mana hari bermula saat tengah malam tiba.

Satu Suro pada sebagian masyarakat Jawa dianggap keramat apalagi jika jatuh pada Jumat Legi. Pada malam satu Suro, sebagian masyarakat dilarang untuk pergi ke mana-mana kecuali untuk berdoa, merenung, ataupun melakukan ibadah lain.

Tradisi-Tradisi Satu Suro di Pulau Jawa

Pulau di Indonesia yang paling padat penduduknya ini mempunyai tradisi peringatan satu Suro yang berbeda-beda di tiap daerahnya.

Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta misalnya, meski sama-sama keturunan langsung dari Kerajaan Mataram Islam, tetapi keduanya mempunyai tradisi memperingati tahun baru Jawa secara berbeda.

Kirab dengan Kebo (Kerbau) Bule

Keraton Surakarta menggelar kirab dengan melibatkan kerbau. Kerbau ini bukan sembarang kerbau, melainkan jenis kerbau albino yang memiliki corak kulit berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Masyarakat Solo menyebutnya Kebo Bule keturunan Kiai Slamet.

Kebo Bule keturunan Kiai Slamet pada peringatan malam satu Suro. (Foto: tribunnews.com)

Kerbau bule benar-benar dikeramatkan dan menjadi salah satu “pusaka” yang paling penting di Kasunanan Surakarta. Riwayatnya terdapat dalam beberapa literatur Jawa Kuno, seperti pada Babad Giyanti karya pujangga kuno dan Babad Sala karya Raden Mas Said yang juga bergelar Mangkunegara I. Kesemuanya mengisahkan bahwa nenek moyang Kebo Bule adalah binatang kesayangan Sunan Paku Buwono II.

Prosesi dimulai ketika ratusan abdi dalem, baik kakung maupun putri, memanjatkan doa-doa di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seusai berdoa, para abdi dalem tersebut kemudian menyebar singkong dan taburan kembang tujuh rupa untuk menyambut kedatangan si Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu.

Konon, ritual baru akan dimulai bila Kebo Bule mau berjalan keluar kandang dengan sendirinya. Bila kerbau tersebut belum mau keluar kandang, maka prosesi ritual belum dapat dimulai. Tak ada satu pun yang berani memaksa kerbau tersebut keluar karena hewan tersebut sangat dikeramatkan.

Setelah kerbau tersebut telah tiba di depan Kori, para abdi dalem pun menyambutnya dengan penghormatan gaya kejawen, yakni berupa sungkem di depan kerbau, lalu mengalungkannya dengan untaian kembang melati dan kantil. Setelah itu, sang kerbau dibiarkan memakan tebaran singkong di depan Kori Kemandungan Keraton.

Saat kawanan Kebo Bule tiba, banyak warga yang ingin menyentuhnya berharap guna mendapatkan berkah. Kondisi ini dihalau oleh para pengawal kirab lantaran Kebo Bule ini amat sensitif sehingga sentuhan-sentuhan warga dikhawatirkan dapat mengganggu jalannya kirab.

Kerbau-kerbau ini didampingi srati atau pawang kerbau berbaju putih. Empat ekor Kebo Bule keturunan Kiai Slamet memimpin jalannya kirab di barisan paling depan. Keluarnya kerbau-kerbau ini dari kompleks keraton menandai dimulainya prosesi kirab pusaka.

Suasana hening mengiringi prosesi kirab. Para peserta kirab pun tak beralas kaki sehingga tidak terdengar keriuhan. Di belakang sang kerbau keramat, barisan punggawa kerajaan membawa tombak dan sejumlah koleksi pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Kerbau yang berwarna bule ini menjadi dikeramatkan, didasari pada kisah Sri Susuhunan Paku Buwono II yang hendak mencari lahan untuk dijadikan Keraton yang baru. Ia mempercayakan kerbau (Kebo Bule Kiai Slamet) yang dimilikinya dari pemberian Bupati Ponorogo. Ketika itu, pusat pemerintahan masih berada di Keraton Kartasura.

Kerbau itu dibiarkan saja berjalan sendiri, namun tetap diikuti para abdi dalem dari kejauhan. Ketika kerbau-kerbau itu berhenti di Desa yang bernama Sala maka dibangunlah keraton. Desa ini lantas terkenal menjadi Kota Solo dengan Keraton Kasunanan Surakarta sebagai istana kerajaannya.

Mubeng Benteng atau Tapa Bisu

Di keraton Daerah Istimewa Yogyakarta,  kirab dilakukan dengan Tapa Bisu, yakni berjalan dalam diam. Acara ini juga disebut Mubeng Beteng. Kirab ini dilakukan sambil membawa keris dan pusaka-pusaka lainnya mengelilingi benteng keraton.

Tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng digelar oleh keraton Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dalam rangka memperingati malam satu Suro. (Foto: jogja.semberani.com)

Rute perjalanan dimulai dari halaman Keraton menuju Alun-Alun Utara, kemudian ke Barat melalui Jalan Kauman hingga Pojok Beteng Lor. Dari situ, perjalanan dilanjutkan ke arah kiri menuju Pojok Beteng Kulon sebelum menuju ke Pojok Beteng Wetan, dan kembali lagi ke titik awal.

Ritual Tapa Bisu dimaknai sebagai usaha merenung, bermawas dan berkaca diri atas apa yang telah dilakukan selama setahun penuh sebelumnya dan cara bersikap yang lebih baik di waktu mendatang agar terhindar dari marabahaya.

Tradisi Satu Suro Masyarakat Umum Pulau Jawa

Masyarakat umum Yogyakarta memperingati satu Suro dengan tirakatan atau lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk). Kondisi keterjagaan ini diisi dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) maupun Pagelaran Wayang Kulit pada masyarakat lainnya.

Di Semarang, dikenal tradisi kungkum atau berendam di sungai besar, sendang, ataupun sumber mata air tertentu. Salah satu lokasi berendam adalah di Tugu Soeharto, kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Surakarta, Semarang. Tugu Soeharto sendiri terletak di antara pertemuan Kali Kreo dan Kali Kripik.

Masyarakat memperingati satu Suro dengan berendam (kungkum) di Tugu Soeharto Semarang. (Foto: viva.co.id)

Ada pula masyarakat yang memandikan benda kesayangan, entah keris maupun benda pusaka lainnya, saat satu Suro. Segala ubo rampe dipersiapkan. Pertama, campuran air dengan bunga setaman di dalam baskom. Kembang setaman terdiri dari lima macam bunga, yakni kembang kantil, kembang melati, mawar merah dan putih, serta bunga kenanga.

Kedua, kemenyan atau dupa disertakan sebagai pengiring dalam ritual jamasan ini. Ketiga, buah belimbing wuluh atau jeruk nipis yang airnya digunakan untuk menghilangkan karat yang ada pada benda pusaka. Keempat, minyak misik, minyak zakfaron, minyak jamas, minyak kayu cendana, minyak melati, dan minyak seribu bunga. Kelima, kain kafan atau kain mori yang akan digunakan untuk membungkus pusaka keris yang sudah dimandikan.

Sebagian masyarakat lain biasanya mengisi malam satu Suro dengan berziarah ke pusara tokoh-tokoh besar Islam. Sebagian lainnya melakukan pawai obor sambil bersalawat.

LEAVE A REPLY

seventeen + 2 =