Reog BKAK, Grup Lawak dari Institusi Kepolisian Indonesia

824
Reog BKAK
(Kiri ke kanan) Mang Diman, Mang Hari, Mang Dudung, dan Mang Udi merupakan personil inti Reog BKAK. (Foto KOMPAS)

1001indonesia.net – Pada era 1960-1970-an, institusi polisi memiliki cara tersendiri untuk mendekati masyarakat sebagai langkah mendukung tugas utamanya untuk menjaga keamanan dan menanggulangi kriminalitas. Di antaranya dengan membentuk sebuah grup kesenian bernama Reog Nasional Badan Kesenian Angkatan Kepolisian (Reog BKAK).

Melalui Lawakan

Melalui Reog BKAK, institusi polisi menyebarkan informasi terkait kebijakan pemerintah juga berbagai masalah dalam kehidupan bermasyarakat dalam cara yang jenaka. Pendekatan ini ternyata efektif karena pesan tersampaikan dalam suasana gembira.

Pada eranya, Reog BKAK sangat populer. Kelompok yang dimotori oleh empat polisi aktif ini kerap tampil di TVRI. Mereka adalah Inspektur Satu (Iptu) Dudung Endang yang populer dengan nama Mang Dudung, Iptu Karmudi atau Mang Udi, Ajun Brigadir Polisi tingkat Satu (Abriptu) Suhari atau Mang Hari, dan Brigadir Polisi tingkat Dua (Bripda) Supardiman atau Mang Diman.

Aksi banyolan Mang Diman dkk tidak hanya di layar kaca saja. Reog BKAK juga sering naik panggung menjelajah berbagai pelosok tanah air, bahkan sampai ke negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Kelompok kesenian ini dirintis tahun 1956, antara lain oleh Umar Katab, Moh. Saleh, Barnas Lesmana, Salmun, dan Affandi. Awalnya bernama Reog BKKN, singkatan dari Badan Kesenian Kepolisian Negara. Reog yang dikembangan BKKN berasal dari tatar Sunda, Jawa Barat, tetapi bisa diterima secara nasional.

Saat kita mendengar kata reog, kita biasanya berpikir tentang reog Ponorogo, sebuah kesenian barongan yang dikembangkan di Ponorogo, Jawa Timur. Namun, reog Sunda yang diperkenalkan Reog BKAK secara nasional bukanlah seni barongan.

Reog Sunda merupakan kesenian pertunjukan dengan gaya bodoran (lawakan) dan gerak tari diiringi tetabuhan alat musik tradisional, seperti dogdog atau gendang terbuka, angklung, gendang tertutup, terompet, dan kecrek. Dalam pertunjukan ini biasanya disampaikan dengan pesan-pesan sosial dan keagamaan.

Reog BKAK menggunakan bahasa Indonesia yang kerap bercampur dengan bahasa daerah. Tak hanya bahasa Sunda, tetapi juga bahasa Jawa ataupun bahasa setempat di mana mereka manggung.

Lewat Banyolan

Reog BKAK menyebarkan berbagai informasi lewat guyonan. Berbagai masalah, seperti soal keluarga berencana (KB) sampai keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibnas) disampaikan dengan cara jenaka lewat sindiran dan saling meledek di antara para pemain. Dengan cara ini, masyarakat dengan mudah menyerap informasi yang disampaikan karena terasa ringan.

Tentu saja, membuat penonton tertawa sekaligus menyampaikan pesan bukanlah hal yang mudah. Diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai pesan yang akan disampaikan sekaligus situasi dan kondisi penonton sehingga dapat membuat formulasi banyolan yang pas.

Untuk itu, sebelum tampil, mereka melakukan survei tentang topik dan kondisi penontonnya. Hasilnya dikombinasikan dengan pesan yang ingin disampaikan lewat banyolan. Mereka kemudian menyampaikannya di panggung secara spontan sehingga lelucon muncul tanpa skenario dan terasa apa adanya.

Contoh, Reog BKAK membawa pesan pentingnya warga mengikuti program keluarga berencana (KB). Namun, dalam kehidupan nyata, Mang Dudung memiliki sembilan anak. Jadilah dia bahan olok-olok rekan-rekannya. Mang Dudung berkilah, waktu itu belum ada KB hingga anaknya terlanjur sembilan.

Kepopuleran Reog BKAK membuat kelompok lawak dari Kepolisian ini kerap naik panggung bersama penyanyi dan band papan atas kala itu, seperti band Dara Puspita, penyanyi Lilis Suryani, Elly Kasim, dan Ida Royani.

Sumber:

  • Chris Pudjiastuti, “Rindu Polisi yang Bisa Melucu,” Kompas, Minggu, 13 November 2016.
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Sunda)

LEAVE A REPLY

18 + twelve =