Rahung Nasution, Si Koki Gadungan yang Cinta Masakan Indonesia

894
Rahung Nasution
Rahung Nasution (Foto: tigap.com/@aji_bonn)

1001indonesia.net – Rahung Nasution menjadi orang yang sangat peduli pada kekayaan kuliner tradisional Indonesia. Menurut pria kelahiran Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan ini, Indonesia punya kekayaan kuliner luar biasa, mulai dari bahan mentah, bumbu atau rempah-rempah, hingga teknik memasak. Sayangnya, keistimewaan kuliner Indonesia belum banyak terdengar di panggung internasional.

Pria bertato khas suku Koita, Papua, ini berpendapat kurang dikenalnya kuliner Indonesia di panggung dunia dikarenakan kita belum menempatkannya sebagai ilmu pengetahuan. Kuliner Indonesia diposisikan sebatas sajian di atas piring atau sekadar urusan pekerjaan domestik. Kuliner kita tidak ada dalam pendidikan.

Padahal, di balik kuliner Indonesia terdapat banyak kisah dan pengetahuan, mulai dari sejarah asal-usul makanan, nilai pandangan hidup atau falsafah suatu bangsa, hingga kebudayaan yang lebih luas.

Di negeri kita, apresiasi dan rekaman terhadap makanan khas cuma sampai di buku resep. Sementara itu, negeri lain, seperti Jepang, Korea, dan negara-negara Barat, sudah dengan serius mengembangkan kuliner mereka menjadi ilmu pengetahuan.

Rahung yang sedari remaja sudah terbiasa memasak ini prihatin dengan keadaan tersebut. Menurutnya, persoalan ini bersumber dari lidah kita yang kebanyakan tidak “demokratis”. Pada umumnya, kita hanya mau memakan makanan yang terbiasa kita makan sejak kecil. Kita enggan mencoba masakan-masakan dari daerah lain.

Ia mencontohkan dirinya sendiri semama SMA di Yogyakarta. Waktu itu, Rahung tidak memberi kesempatan lidahnya untuk menjajal masakan lain. Ia hanya mau masakan yang ia buat sendiri atau rasa masakan yang sama yang telah ia cecap sejak kecil.

Terhadap masakan Jawa, terutama Yogyakarta, yang rasanya cenderung manis, ia kurang suka. Baru setelah ia berkeliling Nusantara melalui profesinya sebagai videografer, ia mulai mencicipi beragam masakan tradisional Indonesia. Sejak itu, ia sadar dan mulai mencintai keanekaragaman masakan tradisional Nusantara.

Terbiasa Memasak

Rahung mulai sering memasak sejak remaja. Menurutnya, memasak—terutama untuk anak pertama—adalah hal yang biasa dalam tradisi Batak Mandailing. Kebetulan ia anak pertama sehingga ia mendapat pengajaran memasak dari ibunya. Ia pun sering mendapat tugas memasak karena ibunya harus membantu ayahnya menghidupi keluarga.

Kebiasaan memasak kemudian berlanjut saat ia melanjutkan sekolah SMP di ibu kota kabupaten dan SMA di Yogyakarta. Begitu pula ketika ia bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Timor Leste pasca referendum.

Rahung Nasution (Foto: flickr.com)
Rahung Nasution (Foto: flickr.com)

Rahung kemudian aktif dalam gerakan Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) yang diprakarsai oleh William Wongso dan Santhi Serad. ACMI merupakan wadah untuk menekuni, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan keragamaan serta kekayaan kuliner tradisional Nusantara.

Saat ini, Rahung aktif berbagi kesenangan memasak atau jalan-jalan menjajal kuliner dan menggali cerita di baliknya lewat program di televisi, saluran Youtube atau berbagai kanal lainnya. Keprihatinan dan kecintaannya pada kuliner Indonesia ia tumpahkan lewat film dokumenter.

Kesukaannya mendokumentasikan masakan Nusantara membuat orang mengenalnya sebagai chef. Panggilan ini membuatnya risi. Menurut dia, sebutan chef hanya layak disematkan kepada orang-orang yang bisa membuat kreasi menu makanan baru, bukan cuma membaca resep atau memasak makanan yang sudah menjadi tradisi.

Ia lebih senang menyebut diri sebagai videografer independen, pecinta kuliner tradisional, atau aktivis budaya masakan. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “koki gadungan”. Ia memang sangat menyukai masakan tradisional berbagai daerah dan mendokumentasikannya, tapi ia bukanlah chef profesional.

Rahung menilai maraknya perhatian terhadap kuliner Nusantara merupakan awal yang bagus. Sejak beberapa tahun terakhir diselenggarakan banyak festival kuliner, termasuk festival kopi di sejumlah daerah. Melalui berbagai ajang ini, pengetahuan dan kesadaran orang terhadap kuliner Indonesia kian terbangun.

Maraknya media sosial juga membawa tren baru. Ada banyak orang, terutama anak muda, yang membuat konten makanan termasuk traveling makanan. Tren ini diperkirakan akan semakin naik pada tahun-tahun mendatang.

Namun, segala peluang ini harus diiringi dengan inovasi. Bisa soal sajian, bahan-bahan, teknik memasak, hingga pengolahan bahan makanan pascapanen. Misalnya, memasak rendang yang cepat, mengolah cabai agar tidak cepat busuk dan menghindari harganya meroket. Inovesi terutama juga dibutuhkan dalam pengolahan hasil laut. Banyak ikan hasil tangkapan nelayan yang terbuang percuma tak bisa terserap pasar karena minimnya infrastruktur.

 

Sumber tulisan:

  • http://www.damniloveindonesia.com/explore/1-people/detail/96/rahung-nasution:-
  • https://m.tempo.co/read/news/2015/05/03/201662942/rahung-nasution-chef-itu-jenderalnya-dapur
  • Sri Rejeki, “Rahung Nasution: Demokrasi Lidah,” dalam Kompas, Minggu, 8 Januari 2017.

LEAVE A REPLY

five × five =