Raden Ngabehi Ranggawarsita, Titik Balik Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

429
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Foto: batamtoday.com

1001indonesia.net – Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) merupakan pujangga yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Karya-karyanya tak hanya indah, tapi memiliki kedalaman makna dan menjadi sumber penting bagi ajaran spiritual Jawa sampai saat ini. Kiprahnya dalam menulis kembali pengetahuan Jawa kuno yang juga memuat kritik sosial menjadi titik balik perjuangan bangsa ini dalam melawan penjajah Belanda pasca-Perang Diponegoro.

Keluarga Yasadipura

Ranggawarsita bernama kecil Bagus Burham, merupakan anggota keluarga Yasadipura. Keluarga ini merupakan kasus istimewa di tengah anonimitas dalam dunia penulisan Jawa. Berlangsung selama empat generasi—dari Raden Tumenggung Yasadipura I hingga Raden Ngabehi Ranggawarsita—mulai awal abad ke-18 hingga akhir abad ke-19, keluarga Yasadipura menguasai sastra Jawa di Kasunanan Surakarta (Solo), yang merupakan istana Jawa yang paling kaya dengan sastra.

Ranggawarsita mewarisi kedudukan sebagai pujangga keraton Kasusunan Surakarta dari kakeknya, Raden Ngabehi Yasadipura II. Namun, ia tidak mengambil gelar Yasadipura III sebagaimana semestinya.

Menurut Ki Herman Sinung Janutama, ada makna tertentu di balik nama Ranggawarsita. Nama Ranggawarsita berasal dari kata rangga dan warsita. Rangga berarti senapati atau panglima, sementara warsita berarti wacana atau wejangan atau pengetahuan hidup.

Lanjutnya, nama Ranggawarsita menunjukkan perubahan strategi perjuangan para pemimpin Jawa melawan Belanda. Kekalahan orang Jawa dalam perjuangan fisik dalam Perang Jawa melawan Belanda dan imbasnya yang sangat merugikan kehidupan rakyat menjadi pembelajaran penting. Perjuangan kemudian diubah, tidak lagi melalui perjuangan fisik, melainkan melalui pengetahuan. Tujuannya adalah membangkitkan kesadaran dan kepercayaan diri masyarakat untuk melawan segala penindasan.

Sebab itu, kegairahan untuk menuliskan pengetahuan Jawa masa silam bangkit kembali. Penulisan tidak dilakukan sekadar sebagai catatan ajaran masa silam, tapi juga menggunakan pengetahuan tersebut sebagai kritik sosial. Bersamaan dengan Ranggawarsita adalah KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) dari Pura Mangkunegaran, Surakarta, yang juga menjadi sahabat karibnya.

Strategi perjuangan ini kemudian diikuti pula dengan mengirimkan generasi muda cendekia untuk bersekolah ke mancanegara, baik ke negeri Belanda untuk mempelajari pengetahuan Barat, maupun ke Mekah untuk mendalami agama Islam. Gerakan ini melahirkan kalangan intelektualitas dan ulama yang kemudian melahirkan pergerakan kebangsaan.

Meski demikian, gelar Ranggawarsita sebenarnya sudah dipakai oleh kakek dan ayahnya. Kakeknya, Yasadipura II, bergelar Raden Ngabehi Ranggawarsita ketika menjadi penewu. Sementara ayahnya, Mas Panjangswara, bergelar Mas Ngabehi Ranggawarsita II. Mas Panjangswara adalah juru tulis keraton yang tewas disiksa Belanda karena mendukung Pangeran Diponegoro.

Dengan demikian, nama lengkap Ranggawarsita sebenarnya adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita III. Namun, dalam pandangan umum hanya dialah yang dikenal sebagai Ranggawarsita.

Pujangga Penutup

Ranggawarsita merupakan pujangga terakhir dan paling terkenal dari keluarga Yasadipura. Ia menempati kedudukan yang sangat istimewa dalam pikiran orang Jawa sebagai “Pujangga Penutup Jawa,” yang berarti pujangga yang terakhir dan terbesar di antara yang lain. Sebutan tersebut merupakan sebuah apresiasi atas kualitas karya-karyanya yang tidak tertandingi sampai sekarang.

Ranggawarsita merupakan tokoh eksentrik. Saat menjadi santri di Pesantren Gebang Tinatar, ia adalah seorang santri yang pemalas dan tidak tekun belajar, kerjanya mengganggu santri-santri lainnya. Ia suka berdandan, seorang penjudi yang selalu tidak beruntung dan senantiasa berutang pada orang di sekitarnya, juga seorang pegawai yang merana karena keinginannya untuk naik pangkat menjadi tumenggung tidak tercapai.

Namun, ia seorang tokoh yang luar biasa. Ia merupakan cendekia sastra Jawa kuno yang menjadi guru bagi beberapa orang Belanda terpelajar di zamannya, salah satunya adalah C.F. Winter. Meskipun kemudian pengetahuannya ditolak karena dianggap “tak ilmiah” dan sederhana, sebenarnya ia telah membantu menetapkan dasar bagi kajian modern dalam studi bahasa Jawa Kuno.

Sebagai pujangga, Ranggawarsita paling diingat untuk pembaruannya yang radikal. Ia penyair Jawa modern pertama yang menulis secara luas dan artistik dalam bentuk prosa. Ia memainkan peran penting dalam merasionalisasikan ilmu pengetahuan Jawa kala itu. Ia menyatukan sejarah dan kisah yang berlainan yang tersebar di berbagai khazanah sastra Jawa dalam satu sistem tunggal. Dalam prosesnya, ia mengatur kisah-kisah tersebut secara kronologis dan mencantumkan tanggal pada setiap peristiwa.

Kebesarannya sebagai penyair layak diterimanya, baik sebagai ahli kata-kata, bahasanya aliteratif, allusif, dan tersusun, belum lagi menuntut, maupun sebagai intelektual dan penata gaya pertama di antara penyair Jawa yang mengungkapkan kepribadian yang kompleks dan kekhasan individual dalam karyanya alih-alih menyembunyikan jati dirinya di balik jubah tradisi.

Kematiannya yang misterius pada 24 Desember 1873 masih meninggalkan tanda tanya. Anehnya, tanggal kematiannya tertulis dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajati yang ia tulis sendiri.

Peristiwa ini menimbulkan setidaknya dua dugaan. Dugaan pertama, ia dihukum mati oleh pihak Belanda yang tidak suka akan tulisan-tulisannya yang dianggap menyulut semangat juang kaum pribumi untuk memberontak. Maka itu, ia tahu persis tanggal kematiannya.

Dugaan kedua, Ranggawarsita meninggal dengan wajar. Ia tahu tanggal kematiannya karena ia mampu meramalkan kematiannya sendiri. Semasa hidupnya, Ranggawarsita memang dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam kesaktian.

Sumber:

  • John H. McGlynn, Indonesian Heritage: Bahasa dan Sastra, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • Ki Herman Sinung Janutama, “Raden Ngabehi Ranggawarsita,” Kalam 28/2016. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 + 4 =