Pulau Garam Madura, Riwayat Produksi Garam di Indonesia

oleh Ach. Fadil

2089
Pulau Garam Madura
Ilustrasi Pulau Garam Madura (Foto: surabayaonline.co)

1001indonesia.net – Pulau Garam bukanlah sebutan yang berlebihan bagi Pulau Madura. Pulau ini terkenal sebagai salah satu wilayah Indonesia yang paling banyak memproduksi garam. Tambak garam yang dimilikinya sebanyak 4.572 petak dengan wilayah-wilayah utama penghasil garam antara lain Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.

Wilayah Madura yang biasa dijadikan lahan untuk memproduksi garam berada di sepanjang pantai bagian selatan. Wilayah ini sering kali disebut sebagai wilayah garam. Pada zaman VOC, wilayah garam dikenal dengan zoutnegorizen, dan di zaman Belanda setelah berakhirnya VOC dikenal dengan istilah zoutlanden.

Wilayah Madura yang selalu bersinggungan dengan laut dengan airnya yang pekat memungkinkan masyarakatnya untuk membangun tambak dan mengubah air laut menjadi butiran-butiran kristal garam yang bagus.

Secara historis, ide menyulap air laut menjadi garam di Madura bermula pada sekitar abad ke-15. Saat itu, orang-orang Gir Papas (Pinggir Papas) yang terletak beberapa kilometer di antara Sumenep dan Kalianget yang memulainya.

Orang-orang ini konon bekas tentara perang dari Bali yang berusaha menuntut balas atas kekalahan raja Blambangan yang pernah ditaklukkan oleh leluhur orang Madura, Jokotole, saat raja Balambangan berperang melawan Majapahit.

Namun, saat mereka coba menyerang keturunan Jokotole di Madura (Sumenep), mereka mengalami kekalahan. Mereka melarikan diri ke daerah Gir Papas. Beberapa saat setelah terdesak, akhirnya mereka menyerah pada raja yang berkuasa pada saat itu, yaitu Pangeran Wetan. Atas kemurahan hati raja ini, mereka akhirnya diampuni dan dianugerahi beberapa petak tanah untuk membangun desa.

Salah satu pimpinan perang mereka, Anggosuto (Anggasuto), berinisiatif untuk mengkristalisasi air laut menjadi butiran-butiran garam melalui terik panas matahari. Ternyata, garam yang dihasilkan layak dikonsumsi sebagai salah satu bumbu dasar makanan.

Versi yang lain menyebut sosok Anggosuto sebagai seorang ulama keturunan Arab (Parsi) yang berniat mendakwahkan Islam di Madura (khususnya di Sumenep). Ia berjalan menyusuri Gir Papas. Pada satu kesempatan ia menemukan bekas telapak kakinya yang sudah dipenuhi kristal garam.

Sesaat kemudian ia mendapat petunjuk untuk mencipta garam melalui panas matahari. Sejak saat itulah, ia coba menjalankan misi dakwahnya melalui medium mengajar membuat garam kepada masyarakat.

Mulanya pembuatan garam sangat sederhana. Anggosuto hanya menggunakan beberapa alat seperti canteng (semacam gayung dari batok kelapa menaikkan air laut), rabunan (alat semacam kukusan nasi untuk menyaring air), dan pakem(sendok besar dari kayu untuk mengumpulkan garam).

Lambat laun, alat-alat yang awalnya diapakai itu, dinilai kurang memadai. Karena itu, Anggosuto berupaya mencari cara agar hasil produksi garam menjadi efektif dan menghasilkan garam yang lebih banyak.

Maka dibuatlah peralatan semacam ghulu’ (berbentuk silinder terbuat dari kayu untuk meratakan dan memadatkan tanah), senggut (untuk memindahkan air dengan bantuan kincir angin dari kanal-kanal ke petakan tambak), sorkot (untuk meratakan garam di petakan tambak atau untuk mengumpulkan garam saat panen), kancor(sendok garam yang berukuran agak besar), raca(terbuat dari kayu untuk membolak-balikkan garam agar semakin mengkristal),renjing atau bhejut (wadah garam untuk mengangkut garam), dan pak tepak (alat untuk meratakan garam di karung atau di bhajut).

Dalam proses pembuatannya, petani garam memerlukan waktu sekitar 25-28 hari untuk menguapkan air laut di tambak. Setelah benar-benar mengkristal dalam rentang waktu itu, maka garam sudah siap untuk dipanen. Biasanya proses produksinya dilakukan pada bulan April.

Butiran garam yang baru diangkat dari petakan tambak belum benar-benar kering. Karena itu, garam yang sudah dipanen masih dipanaskan lagi di bawah terik matahari serta dianginkan melalui embusan angin pantai sekitar 4-10 hari.

Belakangan, petani garam harus bersaing dengan kebijakan pemerintah untuk mengimpor garam dari luar. Hal itu mengakibatkan menurunnya produksi garam secara tradisional di Madura.

Penurunan angka produksi  ini sejatinya sudah bisa dirasakan sejak pulau itu mengalami modernisasi pada kisaran akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang juga menyentuh produksi garam.

Namun demikian, hingga tahun 1970-an, petani garam tradisional di Madura masih menunjukkan eksistensinya, bahkan hingga kini, walaupun tidak semasif dahulu.

Sumber:

Dody Susanto, “Garam, Madura dan Indonesia”, dari tribunnews.com.

1 Komentar

LEAVE A REPLY

two × 5 =