Pulau Bali, Surga Dunia Terakhir dengan Masyarakat yang Multikultur

323
Pulau Bali, Surga Dunia Terakhir dengan Masyarakat yang Multikultur
Para wisatawan menyaksikan pertunjukan Tari Kecak di Pura Uluwatu Bali. (Foto: THE JAKARTA POST)

1001indonesia.net – Pulau Bali mulai menjadi perhatian para wisatawan sejak seabad lalu, tepatnya ketika maskapai pelayaran Belanda KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschapij) melalui promosinya tentang Bali berhasil menarik minat penumpang-penumpang Eropa untuk mengunjungi pulau ini. Sejak itu, pulau yang ukurannya tidak besar ini (5.632,86 km2) atau sekitar 0,29% dari total luas kepulauan Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata terfavorit di dunia.

Alamnya yang sangat menawan, budaya yang unik tiada duanya, dan penduduknya yang ramah membuat pulau ini sangat terkenal di dunia. Tidak heran, pada 2015, majalah
Travel and Leisure memberikan Bali predikat sebagai pulau wisata terbaik kedua setelah Kepulauan Galapagos di Ekuador, atau menjadi yang terbaik di Asia. Prestasi ini bukan yang pertama kali. Bali menjadi tiga besar pulau wisata terbaik dunia versi Travel and Leisure sejak 2009.

Begitu terkenalnya Pulau Bali di mata dunia sehingga banyak orang mengira Bali merupakan negara tersendiri dan bukan merupakan bagian dari Indonesia. Beberapa wisatawan asing yang datang ke Bali terkejut saat tiba di bandara, mereka disambut oleh pihak imigrasi Indonesia dan bukan Bali.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa di mata dunia, Bali lebih terkenal ketimbang Indonesia.

Masyarakat Multikultur

Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu menjadi anomali di Indonesia yang mayoritas muslim. Dalam agama Hindu di Bali, unsur-unsur lokal lebih banyak menonjol. Antara agama dengan adat istiadat terjalin erat sehingga sulit membedakan mana agama dan mana budaya.

Menyangkut praktik keagamaan Hindu, masing-masing daerah di Bali memiliki variasi lokalnya sendiri. Adanya variasi lokal itu justru memperkaya khasanah budaya dan justru menjadi corak masing-masing daerah di Bali. Budaya di Bali menjadi lebih beragam.

Namun, dalam keberagaman corak ini, masyarakat Bali tetap memiliki kebersamaan dan
kesatuan pandangan terhadap nilai-nilai ajaran Hindu. Tugas untuk merangkai kesatuan ini diemban oleh Majelis Agama Hindu, yang disebut Parisadha Hindu Dharma.

Selain umat Hindu, ada juga penganut agama lain yang tinggal di pulau ini, seperti penganut Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu. Sebagian masyarakat non-Hindu adalah para pendatang.

Sebagian lain, merupakan penduduk Bali asli, terutama pada perkampungan-perkampungan Islam di Bali, seperti Pegayaman di Buleleng, Loloan di Jembrana, serta Kepaon dan Gelgel di Denpasar. Kampung-kampung Islam ini sudah ada di Bali sejak ratusan tahun lalu.

Di Bali juga banyak bermukim orang-orang Tionghoa. Sebagian dari mereka, khususnya yang berada di pedesaan, telah menyatu dengan masyarakat dan kebudayaan Bali.

Keragaman budaya di pulau Bali bertambah lagi dengan membanjirnya turis-turis ke Bali dari berbagai negara di dunia. Mereka membawa budaya dan cara hidupnya masing-masing. Di antara mereka, ada yang akhirnya memilih menetap di Bali.

Kedatangan para turis asing membuat tempat-tempat wisata, seperti Kuta, tak ubahnya perkampungan internasional. Berbagai bahasa dunia bercampur. Bali menjadi sebuah tempat yang benar-benar multikultur.

Yang menarik, di tengah gempuran berbagai budaya Barat yang dibawa para turis itu, masyarakat Bali tetap mampu mempertahankan tradisi yang menjadi identitasnya. Di rumah-rumah, orang-orang tetap menggunakan bahasa Bali. Upacara melasti di pantai tetap berlangsung dengan khusyuk, tak terganggu oleh turis-turis berbikini nyaris telanjang sedang berjemur di sekitarnya.

Memang, masyarakat Bali umumnya tidak menganggap keragaman agama dan budaya sebagai ancaman terhadap identitas kebalian mereka. Mereka punya masalah lain.

Turisme membawa banyak perubahan. Di satu sisi, turisme menjadi andalan Bali untuk meraih kemakmuran. Namun, turisme pula yang membuat seni Bali yang sakral menjadi barang tontonan, tanah-tanah adat menjadi tempat pelesir, sehingga orang Bali tidak lagi leluasa melaksanakan ritualnya.

Merangseknya bisnis turisme ke wilayah-wilayah sakral yang menjadi sendi-sendi utama
peradaban mereka inilah yang menjadi keprihatinan sebagian masyarakat Bali.

Meski demikian, tidak sedikit juga pandangan optimis bahwa masyarakat Bali mampu bertahan menghadapi perubahan yang diakibatkan turisme. Menurut mereka, komersialisasi seni dan produksi cenderamata tidak mengakibatkan pendangkalan nilai.

Sebaliknya, justru memacu para seniman untuk terus berkreasi. Mereka percaya bahwa masyarakat Bali mampu mempertahankan yang sakral sambil terus menciptakan produk-produk baru untuk ditawarkan ke wisatawan.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud ToleransiDimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − eleven =