Pondok Pesantren Kauman di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem

373
Pondok Pesantren Kauman Lasem
Foto: suarapesantren.net

1001indonesia.net – Pondok Pesantren Kauman Lasem tumbuh di tengah kompleks pemukiman warga Tionghoa di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Didirikan tahun 2003, pesantren ini menjadi sarana untuk menegakkan nilai toleransi dan hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam.

Di Kota Lasem, banyak terdapat perkampungan Tionghoa. Warga Tionghoa datang ke Lasem sekitar abad ke-15 bersama rombongan Laksamana Cheng Ho. Karena itu, kawasan ini diuluki sebagai “Tiongkok Kecil”.

Selain itu, wilayah juga dijuluki sebagai Kota Santri atau Kota Pelajar. Banyak pesantren yang ada di wilayah ini, sebagian bahkan pesantren yang sudah tua dengan sejarah yang panjang.

Hal ini menunjukkan Lasem sebagai kawasan yang plural. Etnis Jawa, Tionghoa, Arab, dan beragam etnis lainnya membaur menjadi satu.

Keragaman budaya dan etnis inilah mengilhami Gus Zaim untuk terus berjuang. Melalui pesantrennya, ia mengajarkan nilai toleransi, serta menegakkan nilai-nilai Islam yang menjadi rahmat bagi semesta.

Itu sebabnya, meski terletak di tengah pemukiman etnis Tionghoa, relasi santri Pondok Pesantren Kauman Lasem dengan masyarakat sekitarnya berlangsung dengan baiknya.

Arsitektur

Pondok Pesantren Kauman didirikan oleh KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem atau Gus Zaim beserta sang istri, Durrotun Nafisah, pada 21 November 2003. Nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan tidak hanya menjiwai dalam proses belajar-mengajar sehari-hari, tetapi juga tercermin pada bangunan pesantren.

Arsitektur bangunan pondok pesantren merupakan hasil dari perpaduan budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa, mencerminkan toleransi yang mengakar di kota juga terkenal akan batiknya yang berwarna lembut itu.

Arsitektur tempat ibadah dan Pondok Pesantren Kauman Lasem didominasi perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa. Di atas pintu masuk bangunan utama, terdapat ornamen kayu berbentuk 12 anak panah melingkar mirip simbol Mataram Kuno. Panah itu mengarah ke 12 arah mata angin dalam kepercayaan warga Tionghoa. Maknanya agar hal-hal positif datang dari berbagai arah.

Ornamen aksara Mandarin juga menghiasi bagian depan pintu bangunan utama. Aksara Mandarin pada bagian kanan berbunyi, “Semoga panjang umur setinggi gunung Himalaya.” Pada pintu kiri tertulis, “Semoga luas rezekinya sedalam Lautan Hindia.” Warga Tionghoa di Lasem memang kerap menuliskan doa dan harapan hidup di pintu masuki rumah.

Gus Zaim mengatakan tulisan kanji tersebut sudah ada ketika ia menempati rumah tersebut. Ia memilih untuk tidak menghapusnya.

Bangunan utama pesantren, yang kini dijadikan kediaman keluarga, dibeli dari pengusaha keturunan Tionghoa pada 2001. Bangunan yang berdiri sejak 1880 itu konon sempat difungsikan sebagai pabrik ciu dan tempat pembuatan batik.

Tak jauh dari ponpes, terdapat pos keamanan lingkungan (pos kamling) berwarna merah mirip bangunan kelenteng. Uniknya, di pos kamling itu terdapat tulisan dalam aksara Mandarin dan Arab. Inti tulisan tersebut menyiratkan kebersamaan menjaga Desa Karangturi.

Pos kamling juga menjadi ruang interaksi para santri dengan penduduk pribumi Jawa dan peranakan Tionghoa.

LEAVE A REPLY

5 × 4 =