Nyepuh, Membesihkan Diri Sekaligus Merawat Alam

245
Tradisi Nyepuh Masyarakat Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Tradisi Nyepuh atau ritual pembersihan diri menjelang bulan suci Ramadhan dijalankan oleh masyarakat Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. (Foto: diciamis.com)

1001indonesia.net – Ratusan warga Desa Ciomas berpakaian putih membawa pohon untuk ditanam di hutan Sukarame di kaki Gunung Sawal, Ciamis bagian utara. Ritual ini menjadi bagian dari tradisi adat Nyepuh yang merupakan warisan dari karuhun (leluhur) mereka, yakni Eyang Penghulu Gusti.

Kiai Haji Eyang Penghulu Gusti yang hidup di masa lalu tampaknya telah memiliki pandangan jauh ke depan dengan meninggalkan tradisi ini. Beliau berpesan agar keturunannya untuk ngamumule (melestarikan) hutan Sukarame. Hutan seluas 35 hektare itu terletak pada ketinggian 730 meter di atas permukaan laut di lereng utara Gunung Sawal. Warga desa menyebut hutan yang lokasinya tepat di tengah kampung itu sebagai Hutan Karomah.

Selama ini, Gunung Sawal merupakan sumber air bagi masyarakat Ciamis. Masyarakat Ciomas yang sebagian besar bekerja sebagai petani menggantungkan hidupnya pada alam. Masyarakat desa sejak dulu sadar bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang damai dan bahagia, mereka harus menjaga hubungan yang serasi dan selaras dengan alam.

Tradisi Nyepuh dilaksanakan setiap menjelang bulan puasa. Selain untuk melestarikan alam, ritual ini juga bermakna sebagai pembersihan diri sebelum memasuki Bulan Ramadhan.

Kesadaran untuk melestarikan alam berarti juga kemauan untuk membersihkan diri dari perilaku-perilaku yang merusak alam. Ketika jiwa manusia sudah bersih, tidak mungkin ia akan merusak sumber air yang merupakan sumber kehidupan.

Perintah untuk menanam pohon dari leluhur Panjalu tidak terbatas pada hutan Sukarame saja, tetapi juga untuk keseluruhan Gunung Sawal yang merupakan sumber air bagi warga Ciamis. Warga yang datang dari penjuru seluruh mata angin ke acara Nyepuh juga dipesan untuk menanam pohon di tempat tinggalnya.

Pohon diyakini oleh warga Ciomas sebagai sumber kehidupan. Pada ritual itu mereka membawa bibit pohon dari berbagai jenis. Penanaman disesuaikan dengan kecocokan antara bibit pohon dengan kondisi tanahnya. Saat menanam pun harus didasari dengan niat yang tulus. Tanpa niat yang tulus, tanaman dipercaya tidak akan tumbuh dengan baik.

Persiapan

Tradisi Nyepuh dilaksanakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Sehari sebelumnya dilaksanakan tradisi mulung pangpung (pengambilan kayu bakar) dan nalekan (menanyai). Dua acara ini merupakan kegiatan dalam rangka memasak tiga nasi tumpeng untuk melengkapi upacara Nyepuh keesokan harinya. Ritual memasak nasi tumpeng dilakukan secara gotong royong.

Kedua ritual mulung pangpung dan nalekan ini pun menunjukkan sikap hidup yang sangat menghargai alam. Pengambilan kayu tidak boleh dilakukan sembarangan. Kayu diambil dari hutan dan hanya kayu yang sudah jatuh dari pohonnya saja yang boleh diambil. Prosesnya disertai dengan doa-doa agar kayu yang digunakan untuk memasak membawa keberkahan.

Bila keperluan kayu bakar dirasa telah mencukupi, para pemuda desa yang mendapat tugas mengambil kayu harus menunjukkan kayu-kayu tersebut pada tetua desa. Sebelum dibawa ke kampung, tetua memeriksa kayu-kayu itu. Kayu yang ada rayapnya atau sudah rapuh tak boleh dibawa pulang dan harus dikembalikan lagi ke dalam hutan.

Setelah bahan persiapan pemasakan nasi tumpeng lengkap, diadakanlah ritual nalekan, yaitu ritual menanyai tentang segala hal berkait pembuatan tiga nasi tumpeng, mulai dari bahan-bahan hingga proses memasaknya. Sesuai aturan adat, bahan-bahan tumpeng harus berasal dari kebaikan dan harus halal. Bila ada yang diperoleh dari jalan tidak halal, maka harus disingkirkan. Selain itu, yang memasak tiga tumpeng ini pun harus dilakukan oleh 17 wanita yang sudah menopause.

Dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan pun tak lepas dari pengawasan para tetua. Sejumlah persyaratan harus dipatuhi. Terutama penggunaan kayu bakar dan air. Air untuk memasak haruslah diambil dari mata air di gunung.

Makna pemeriksaan bahan-bahan dan proses pembuatan nasi tumpeng ini sebenarnya sesuai dengan pesan bulan suci Ramadhan yang akan segera datang. Di bulan suci, umat yang menjalankan ibadah puasa diharapkan dapat menjaga segala tingkah lakunya. Itu pulalah yang diharapkan dari Upacara Nyepuh. Melalui ritual ini yang berarti pembersihan diri. Melalui ritual ini, warga Ciomas disadarkan tentang arti menyucikan diri untuk menjadi manusia yang kembali pada fitrahnya.

Pembersihan Diri

Tradisi pembersihan diri ini disimbolkan dengan pakaian putih-putih yang dikenakan oleh para peserta. Mereka berjalan sejauh tiga kilometer menuju hutan Sukarame.

Di puncak ritual, warga akan berziarah ke makam Eyang Penghulu Gusti di hutan Sukarame. Salah satu dari makna ziarah ini adalah sebagai pepeling atau pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan mati dan kembali ke asalnya. Sebab itu, kehidupan ini harus diisi dengan perbuatan yang bermanfaat bagi sesama manusia.

Tradisi Nyepuh diakhiri dengan sesenting tilu congcot atau membagikan nasi tumpeng ke semua peserta dan acara makan bersama di rumah kuncen hutan Sukarame. Tradisi ini merupakan kearifan lokal yang mengajarkan bahwa manusia dapat hidup bahagia dan sejahtera bila ia mampu menjalin hubungan yang harmonis baik tuhan, sesama manusia, maupun dengan alam.

LEAVE A REPLY

6 + eighteen =