Ngobeng, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Palembang

233
Ngobeng
Ilustrasi. (Foto: tua-tradisionil.blogspot.co.id)

1001indonesia.net – Ngobeng atau ngidang merupakan tradisi makan bersama masyarakat Palembang yang berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi. Tradisi warisan leluhur itu merupakan wujud dari rasa penghargaan terhadap tamu. Ketika masuk rumah, tamu langsung disiapkan air cuci tangan lalu diajak santap bersama secara lesehan.

Tradisi ngobeng biasanya diadakan saat ada acara sedekahan (kendurian), pernikahan, dan lain sebagainya. Satu hidangan dengan menu beragam, akan disantap oleh delapan orang. Mereka makan bersama dengan duduk lesehan.

Lihat juga: Tradisi Kenduri Laut Masyarakat Pesisir Pulau Sumatra

Biasanya, nasi minyak adalah santapan utama yang dilengkapi dengan opor ayam, gulai kambing, dan daging sapi masak malbi. Yang disebut terakhir merupakan masakan olahan daging khas Palembang.

Kadang kala, menu hidangan dilengkapi acar serta tumisan buncis yang diberi santan dan sambal nanas. Makanan penutupnya adalah srikaya yang dibuat dari campuran telur, santan, dan gula yang diberi pewarna dari perasan daun suji.

Tempat hidangannya sendiri ditata dengan cara khusus. Pertama-tama, taplak meja dibentangkan di lantai. Di atasnya dihidangkan nasi yang ditaruh di atas dulang atau nampan. Setelah itu, dikeluarkan pulur atau aneka sambal, seperti sambal mangga dan sambal cobek. Aneka sambal itu ditaruh di sudut-sudut taplak meja. Terakhir, dihidangkanlah aneka macam lauk-pauk.

Baca juga: Nganggung, Semangat Kebersamaan Masyarakat Bangka Belitung

Orang-orang kemudian duduk lesehan membentuk lingkaran, mengelilingi hidangan yang sudah tersaji itu. Masing-masing lingkaran terdiri dari 8 orang. Dengan demikian, jumlah lingkaran beserta hidangannya tergantung dari jumlah tamu dan disesuaikan dengan luas ruangan.

Ngobeng
Ilustrasi (Foto: ANTARA FOTO/Feny Selly/kye/17)

Selain tradisi ngobeng yang terdiri atas 8 orang, juga ada tradisi makan kambangan atau ngobeng panjang. Terlihat dari namanya, jumlah orang yang makan bersama pada ngobeng panjang berjumlah banyak. Semua tamu yang hadir bersama-sama mengelilingi beragam menu makanan yang tersedia, tidak lagi membentuk lingkaran-lingkaran kecil.

Sayang, tradisi yang berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi ini semakin jarang dijumpai. Saat ini, tak banyak generasi muda Palembang yang mengenal budaya makan bersama warisan leluhur itu. Seiring waktu, masyarakat Palembang tidak lagi makan bersama secara lesehan. Mereka cenderung menggunakan sistem prasmanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − ten =