Muayak, Sastra Lisan Masyarakat Lampung

149
Menara Siger Lampung
Ilustrasi. Menara Siger Lampung. Foto: Backpackerjakarta.com

1001indonesia.net – Indonesia memiliki kekayaan sastra lisan yang sangat kaya dan beragam. Tak terkecuali daerah Lampung. Dekat dengan budaya Melayu, sastra Lampung kuat dengan pepatah-petitih, mantra, pantun, syair, dan cerita rakyat. Salah satunya adalah Muayak.

Muayak yang juga disebut dengan nama Hahiwang merupakan sastra lisan berbentuk pantun atau sejenis puisi. Setiap baitnya terdiri dari 4 baris, bersajak a-b-a-b. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi.

Dahulu sastra lisan ini hanya dapat dibawakan saat-saat tertentu saja dengan suara lepas tanpa musik pengiring. Kini muayak dapat dijadikan sebagai kesenian pertunjukan.

Istilah muayak dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Barat khususnya di daerah Belalau. Muayak berasal dari kata waya yang berarti senang atau gembira.

Pada masyarakat Belalau, Lampung Barat, jenis-jenis muayak dikenal dengan istilah ”sujak”. Ada 3 macam sujak.

Pertama, muayak sujak jebus. Muayak ini dibawakan dengan nada yang tinggi yang dikenal dengan istilah ”Nguin” (melengking) mulai dari awal hingga akhir. Maksudnya agar apa yang disampaikan dapat terdengar hingga jarak jauh.

Muayak jebus sebagai tanda dari pihak yang akan berkunjung ke suatu desa. Kira-kira 40 meter menjelang masuk desa, tamu akan menyampaikan muayak sebagai sarana pemberitahuan. Dengan begitu, para gadis di desa yang akan didatangi tahu ada tamu yang akan berkunjung sehingga mereka dapat bersiap-siap.

Kedua, muayak sujak pulangan. Muayak ini dilakukan dengan nada yang sedang. Biasanya dimulai dengan kata ai-ai. Antar bait juga diselingi dengan ai-ai. Muayak ini dibawakan oleh bujang dan gadis yang akan berumah tangga terhadap teman-temannya yang ditandai dengan saling memaafkan.

Ketiga, muayak sujak kecambay. Muayak ini dilakukan dengan melantunkan lagu dengan nada yang bervariasi antara nada tinggi dan nada rendah atau menggunakan sujak jebus dan sujak pulangan. Biasanya dibawakan secara bersamaan dengan kelompok bujang dengan kelompok gadis.

Baca juga: Krinok, Sastra Lisan Asal Jambi yang Sudah Ada Sejak Zaman Prasejarah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.