Mengenal Candi Pulo di Padang Lawas Utara Sumut

163
Candi Pulo
Reruntuhan Candi Pulo yang dibangun di atas bukit buatan. (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

1001indonesia.net – Candi Pulo terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumut. Bangunan berlatar agama Hindu-Buddha ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijawa.

Seperti yang dilansir kebudayaan.kemdikbud.go.id, situs bersejarah ini merupakan satu-satunya candi di Kawasan Percandian Padanglawas yang menghadap ke utara. Lokasi Candi Pulo dekat Candi Bahal I, sekitar 500 meter di sebelah timur. Untuk sampai ke situs candi ini, pengunjung harus melalui jalan desa di sebelah utara.

Candi Pulo didirikan di bukit buatan yang sisi-sisi tebingnya diperkuat dengan batu. Lahan di sebelah timur dan selatan bukit terlihat terjal hingga menyerupai jurang. Hal itu membuat pengunjung dapat melihat pemandangan alam yang indah berupa persawahan, perkebunan sawit, dan perbukitan yang jauh di arah tenggara.

Tidak jauh dari Candi Pulo, tepatnya di sebelah selatan, terdapat sisa aliran air. Mengalir dari Candi Pulo ke bagian di bawahnya yang sekarang telah menjadi persawahan. Mungkin dahulu, aliran tersebut merupakan Sungai Batang Pane, yang kini alirannya berada lebih ke selatan.

Sementara itu, di sisi barat, lahannya relatif landai. Kini dimanfaatkan untuk perkebunan sawit.

Selain bangunan induk Candi Pulo, di situs ini juga terdapat bagian-bagian bangunan lain yang tersebar di halaman candi. Bagian bangunan yang berbahan batu itu di antaranya lapik, stupa, umpak, kemuncak, dan stambha.

Tampak pohon besar tumbuh di halaman situs yang akarnya menjalar di atas permukaan tanah. Apabila diamati akar-akar tersebut tumbuh di atas struktur bata, yang susunannya diduga merupakan gapura candi.

Bangunan induk Candi Pulo berbentuk persegi panjang. Jika dilihat dari reruntuhan tangga, candi ini menghadap ke arah ke utara. Struktur bangunan tersusun dari bata dan batu. Saat ini tampak bahwa susunan teratas bangunan adalah batu slab yang berwarna putih. Bagian yang tersisa hanya kaki candi yang memiliki panil berisi relief sulur-suluran.

Dengan adanya gapura di sebelah utara candi dan reruntuhan tangga di sisi utara, dapat disimpulkan Candi Pulo menghadap ke utara. Di antara semua candi di Padanglawas hanya Candi Pulo yang memiliki arah hadap ke utara, sedangkan candi-candi lainnya menghadap ke timur.

F.M. Schnitger, dalam bukunya Archaeology of Hindoo Sumatra, mengungkapkan bahwa Candi Pulo tidak mempunyai ruang dan memiliki tiga stupa pada bangunan induknya. Pada masing-masing sisi bangunan terdapat menara yang hiasannya berupa untaian mutiara yang keluar dari mulut raksasa. Di antaranya terdapat genta-genta, dan pahatan tokoh makhluk kayangan yang sedang terbang.

Relief-relief yang yang dilaporkan oleh Schnitger, antara lain relief manusia berkepala sapi yang dipahatkan di sebelah kiri tangga. Pada sisi bagian timur dipahatkan relief manusia berkepala gajah menari dan raksasa dengan kaki terangkat tinggi.

Sebagian mengatakan bahwa candi ini bercorak Hindu karena terdapat figur sapi dan gajah yang mengingatkan kita pada tokoh Nandi dan Ganesa. Namun, sebagian lagi mengatakan bahwa Candi Pulo bersifat Buddha karena didapatkannya lapik-lapik stupa. Saat ini relief-relief tersebut disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Candi Pulo pernah diusulkan oleh tim ahli cagar budaya nasional untuk masuk ke dalam Kawasan Kompleks Candi Bahal yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Hal tersebut karena letak situs ini yang berdekatan dengan Percandian Bahal (± 500 m dari Candi Bahal I) dan berkaitan dengan Sungai Batang Pane yang berada di selatan.

Baca juga: Kompleks Candi Bahal, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.