Masjid Keraton Soko Tunggal, Bangunan yang Sarat Makna

488
Masjid Keraton Soko Tunggal
Bangunan Masjid Keraton Soko Tunggal yang terletak di kompleks Keraton Yogyakarta ini sarat akan makna. (Foto: Tribun Jogja/ Hamim Thohari)

1001indonesia.net – Masjid yang terletak di Kompleks Benteng Keraton Yogyakarta ini dinamakan Masjid Keraton Soko Tunggal karena memang bangunannya hanya memiliki satu saka guru (tiang penyangga utama).

Masjid Keraton Soko Tunggal terletak di Kompleks Keraton Kesultanan Yogyakarta, Jl. Taman 1, No. 318, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, tepatnya di depan pintu masuk objek wisata Taman Sari. Masjid ini tergolong baru. Diresmikan pada 28 Februari 1973.

Masjid ini selesai dibangun pada Jumat Pon tanggal 21 Rajab tahun Be, ditandai dengan candrasengkala Hanembah Trus Gunaning Janma 1392 H atau 1 September dengan suryasengkala Nayana Resi Anggatra Gusti 1972 M.

Masjid yang dapat menampung 600 jemaah ini dibangun oleh Sultan Hamengkubowono IX untuk menghormati para pahlawan yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda pada Serangan Umum 1 Maret 1949. Di lokasi masjid terdapat makam 10 orang pejuang yang meninggal saat pertempuran besar yang berlangsung di Kota Yogyakarta tersebut.

Keistimewaan masjid yang memiliki tiga ruangan ini terlihat pada tiang penyangga utama (saka guru) yang hanya satu buah, terletak di tengah ruangan. Biasanya bangunan dalam tradisi Jawa menggunakan 4 tiang utama.

Penyangga utama masjid berukuran 50 cm x 50 cm, terbuat dari kayu jati gelondongan berusia lebih dari seratus tahun yang didatangkan dari daerah Cepu. Landasan tiang penyangga (ompak) khusus didatangkan dari bekas istana atau petilasan Sultan Agung di Plered, Bantul.

Keunikan lainnya adalah konstruksi masjid yang tidak menggunakan paku.

Arsitek Masjid Soko Tunggal adalah R. Ngabehi Mintobudoyo, arsitek Keraton Yogyakarta yang terakhir.

Sarat Makna

Gagas Ulung dalam buku Wisata Ziarah (Gramedia Pustaka Utama, 2013) menjabarkan bagaimana arsitektur bangunan Masjid Keraton Soko Tunggal sarat dengan makna. Di ruangan masjid, terdapat 4 buah saka bentung dan 1 buah saka guru. Semuanya berjumlah 5 buah, sesuai lima prinsip Pancasila yang menjadi dasar bangunan Indonesia merdeka.

Saka guru mewakili sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Puncaknya usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung) disebut juga peniung, merupakan lambang kewibawaan negara yang melindungi rakyat.

Keunikan Masjid Keraton Soko Tunggal Yogyakarta adalah tiang penyangga utamanya hanya satu buah. Dari sinilah nama masjid yang berada di lingkungan Keraton Yogyakarta ini berasal. (Foto: Tribun Jogja/ Hamim Thohari)
Keunikan Masjid Keraton Soko Tunggal Yogyakarta adalah tiang penyangga utamanya hanya satu buah. Dari sinilah nama masjid yang berada di lingkungan Keraton Yogyakarta ini berasal. (Foto: Tribun Jogja/ Hamim Thohari)

Beragam ukiran pada tiang penyangga tidak hanya untuk memambah keindahan dan kewibawaan semata, tapi juga mengandung makna tertentu. Ukiran probo, berarti bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran saton, berarti menyendiri, sawiji. Sorot berarti sinar matahari. Tlacapan berarti panggah, tabah, dan tangguh. Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan, bahwa semuanya kelak pasti akan kembali ke Sang Pencipta. Ukiran tetesan embun di antara daun dan bunga di balok uleng artinya siapa yang salat di Masjid Keraton Soko Tunggal semoga mendapat anugerah dari Allah.

Selain itu, ada bagian berbentuk bahu dayung. Maknanya, orang yang rajin salat menghadapi godaan iblis angkara murka dari 4 penjuru. Sunduk, artinya menjalar untuk sampai pada tujuan. Santen, artinya bersih suci (kejujuran). Uleng, artinya wibawa. Singup, artinya keramat. Bandoga, artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Dan tawonan, yang berati manis, penuh.

Rangka masjid juga memiliki makna. Soko brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan. Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo. Sirah godo, melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, sempurna jasmani rohani. Dan, mustoko yang melambangkan keluhuran dan kewibawaan.

Pada bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, masjid ini selalu dipadati jemaah. Saat liburan, banyak wisatawan mampir untuk salat, setelah berwisata ke Kompleks Keraton Yogyakarta atau Taman Sari.

Sumber:

  • Gagas Ulung, Wisata Ziarah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.
  • http://www.tribunnews.com/travel/2015/06/21/makna-agung-ukir-ukiran-di-masjid-keraton-soko-tunggal-di-komplek-keraton-yogyakarta

1 Komentar

LEAVE A REPLY

3 × 3 =