Mane’e, Tradisi Menangkap Ikan dengan Janur Masyarakat Sulut

32
Mane'e
Masyarakat Kakorotan di Kepulauan Talaud, Sulut, menangkap ikan dengan janur saat prosesi ritual Mane'e. (Foto: lalaukan.com)

1001indonesia.net – Masyarakat Kakorotan-Intata di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, memiliki tradisi menangkap ikan menggunakan janur yang disebut Mane’e. Tradisi itu dilakukan saat air laut mengalami pasang tertinggi dan surut terendah mencapai puncaknya, sebagai pertanda diakhirinya masa Eha.

Masa Eha merupakan periode pelarangan mengambil hasil laut dan daratan di Intata yang berlangsung antara 3 hingga 6 bulan. Bagi warga yang melanggar akan diberi sanksi adat. Pelaku akan dipermalukan dengan cara berkeliling kampung dengan ikan-ikan digantung di badannya.

Ritual setelah bencana melanda

Tradisi Mane’e diwariskan secara turun-temurun dan tetap terjaga hingga kini. Awalnya tradisi ini merupakan sebuah ritual yang dilakukan setelah terjadinya gempa bumi yang menyebabkan tsunami pada 1628 yang menerjang Pulau Kakorotan induk.

Begitu dahsyatnya bencana alam itu hingga Pulau Kakorotan induk terbelah menjadi tiga bagian, yaitu Pulau Kakorotan, Pulau Intata, dan Pulau Malo. Konon, hanya 8 warga yang selamat dari bencana tersebut. Mereka kemudian menjadi cikal bakal empat suku yang mendiami Kepulauan Kakorotan-Intata, yakni Waleuala, Pondo, Melonca dan Parapa.

Bencana alam tersebut juga menimbulkan dampak psikologis. Penduduk menjadi trauma untuk berlayar ke tengah lautan untuk menangkap ikan. Akibatnya, penduduk pun kekurangan pangan karena memang nelayan merupakan satu-satunya profesi mereka pada saat itu.

Di masa susah itu, datanglah dua orang asing yang mengentak-entakkan dedaunan ke air. Tiba-tiba muncullah ikan. Penduduk yang tersisa memohon agar mereka diajari cara menangkap ikan itu. Kedua orang asing itu kemudian menyerahkan alat itu lalu pergi berlayar kembali.

Sejak saat itulah diyakini tradisi Mane’e dimulai. Kini upacara tersebut diselenggarakan secara rutin setiap tahun antara bulan Mei atau Juni saat air laut mengalami pasang tertinggi dan surut terendah mencapai puncaknya. Waktu pelaksanaannya diputuskan sesuai dengan kesepakatan tua-tua adat kampung dengan menyesuaikan waktu bulan Purnama kedua.

Pelaksanaan Mane’e

Prosesi Mane’e mengikuti arahan dari petuah adat setempat sesuai dengan tahapan-tahapan yang sudah ditentukan hingga waktu penangkapan ikan. Pelaksanaannya terdiri atas 9 tahap.

Tahap pertama disebut dengan Maraca Pundangi atau memotong dan mengambil tali hutan, termasuk mengumpulkan janur. Prosesi ini dilakukan 3-4 hari sebelum acara utama dilaksanakan.

Yang kedua adalah upacara permohonan kepada Tuhan yang disebut Mangolompara. Kegiatan dilaksanakan pada subuh sebelum alat penangkapan ikan disebar ke laut.

Kemudian dilanjutkan dengan Matuda Tampa Panee atau acara menuju lokasi upacara Mane’e. Di sana mereka akan membuat perangkap ikan menggunakan janur. Prosesi ini dinamakan Mamabi U Sammi.

Setelah semua peralatan siap, mereka lalu menebar sammi atau perangkap ikan dari janur yang telah dibuat ke tengah laut. Tahap ini dinamakan Mamoto U Sammi. Selanjutnya warga akan menarik sammi ke darat yang disebut Mamole U Sammi.

Setelah ikan mendarat mereka mengambil hasil tangkapan ( Manganu Ina) dan membaginya (Matahia Ina). Prosesi acara diakhiri dengan kegiatan syukuran (Manarima alami).

Menjaga hubungan baik dengan alam

Tujuan Tradisi Mane’e mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan yang baik dengan alam. Dengan menjaga hubungan yang harmonis dengan alam, para nelayan akan diberikan kelancaran dan keselamatan saat melaut. Selain itu, apabila manusia mau menjaga kelestarian alam, maka alam pun akan bermurah hati kepada mereka.

Pada masa Eha saat larangan mengambil hasil bumi dan laut diberlakukan, alam terbebas dari gangguan manusia. Saat itulah beragam biota laut dapat berkembang biak dengan baik. Dan hasilnya pun dapat dinikmati untuk kesejahteraan warga. Hal ini terbukti dengan melimpahnya ikan hasil tangkapan warga Kokorotan-Intata saat acara Mane’e berlangsung dan hari-hari setelahnya ketika mereka melaut.

Tradisi ini memang terbukti ampuh menjaga kelestarian alam di perairan Intata. Di sekeliling pulau ini terdapat rataan terumbu karang yang cukup lebar dengan kemiringan yang landai, terutama di bagian barat, dengan tutupan karang hidup lebih dari 30 persen. Kondisi itu memungkinkan populasi ikan-ikan karang relatif banyak.

Baca juga: Taman Nasional Bunaken, Keindahan Taman Laut di Sulawesi Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.