Legen, Minuman Khas Wilayah Pantai Utara (Pantura)

oleh Siti Muniroh

514
Menyadap pohon siwalan untuk membuat legen.
Seseorang sedang memanjat pohon lontar atau siwalan untuk menyadap nira. Hasilnya yang disebut legen merupakan minuman tradisional khas pesisir Lamongan. (Foto: lamonganoke.wordpress.com)

1001indonesia.net – Ada sebuah minuman tradisional di kawasan Pantura yang warna airnya mirip dengan air kelapa, hanya saja lebih keruh. Kandungannya pun hampir sama dengan air kelapa, yakni memiliki isotonik yang dapat menggantikan cairan tubuh setelah berkurang karena aktivitas keseharian. Dengan meminumnya, tubuh akan terasa hangat kembali. Minuman tersebut dikenal dengan nama legen. Di masa silam, legen banyak digunakan untuk persembahan ritual keagamaan.

Jenis tumbuhan

Legen merupakan minuman tradisional yang terbuat dari nira, hasil sadapan pohon lontar.  Bagi penduduk Pantura Lamongan, Tuban, dan daerah sekitarnya, pohon ini disebut pohon siwalan.

Lontar merupakan jenis tanaman palem-paleman. Tinggi pohon ini bisa mencapai puluhan meter. Buah siwalan mirip dengan kolang-kaling atau buah dari pohon aren.

Lontar tumbuh di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di daerah kering. Anda akan menjumpai pohon-pohon siwalan di sepanjang kanan-kiri jalan ketika melintasi pesisir Lamongan, terutama di Kecamatan Paciran. Karakteristik udara dan iklim Paciran memang cocok sebagai habitat pohon ini.

Meski begitu, ada daerah-daerah lain yang membuat sejenis minuman tradisional ini dari nira kelapa dan aren. Minuman ini juga ditemukan di sekitar wilayah Jawa Tengah.

Proses pembuatan legen

Pohon-pohon siwalan di sepanjang jalan Pesisir Jawa Timur ini biasa disadap dua kali sehari oleh para petani, yakni di pagi dan sore hari. Pada pagi hari, sekitar pukul 07.00, mereka mengambil nira hasil sadapannya.

Cara mengambilnya adalah dengan memanjat pohon-pohon tersebut yang tingginya kira-kira 9 meter. Cukup mengkhawatirkan bagi orang yang belum biasa melihatnya lantaran orang yang memanjat tidak memakai pengaman apa pun. Namun bagi penduduk setempat, pekerjaan yang sangat berisiko ini sudah kegiatan yang biasa.

Saat tiba di penghujung pohon, terdapat bumbung bambu yang telah dipasang kemarin sore, yang biasa digunakan sebagai tempat menampung tetesan nira mayang siwalan yang sudah dipotong ujungnya.

Bumbung yang telah penuh dengan tetesan nira, dituang ke jeriken (wadah minuman yang cukup besar). Bumbung ini lalu dipasang kembali untuk menampung tetesan nira berikutnya. Tetesan ini diperkirakan akan penuh kembali pada sore hari. Di saat inilah muatan bumbung bambu dituangkan lagi ke jeriken. Begitulah seterusnya. Satu buah pohon siwalan bisa menghasilkan sekitar 6 liter nira sekali panen.

Hasil sadapan ini lantas dijual ke pedagang-pedagang legen di pinggir jalan. Gubuk-gubuk yang beratapkan daun lontar atau genteng tanah liat di sepanjang jalan Pantura Paciran adalah tempat khas para pedagang ini beroperasi. Mereka buka setiap hari. Dari pagi hingga menjelang petang.

Di Situbondo, terdapat dua jenis legen, yakni hasil sadapan langsung dan yang melalui proses perebusan. Minuman yang berasal dari sadapan langsung, rasanya terasa lebih segar. Ia mempunyai rasa yang manis, namun dengan sedikit getir. Inilah kekhasannya ketimbang rasa air kelapa tua maupun muda. Untuk yang melalui proses perebusan, minuman akan mengeluarkan rasa lebih gurih dan wangi. Jika direbus lama, maka minuman ini akan menjadi gula merah.

Pohon siwalan sendiri memiliki daging buah yang berwarna putih transparan (bening). Memiliki kandungan karbohidrat berupa sukrosa, glukosa, dan air. Kadar protein dan lemaknya sangat rendah, yakni di bahwa 1%. Serat yang dimilikinya sedikit.

Khasiat legen dipercaya dapat membantu kesehatan fungsi ginjal. Bahkan ada beberapa jenis (tergantung kualitas pohon) yang diyakini bisa mengobati impotensi dan menambah air mani.

Karena legen mengandung nutrisi yang lengkap, seperti gula, protein, lemak, dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba, maka ia tidak dapat bertahan lama.  Proses fermentasi akibat aktivitas mikroba tertentu membuatnya lebih cepat basi ketimbang air kelapa. Bisa dikatakan tidak dapat bertahan hingga satu hari.

Oleh karena itu, bila hendak membeli legen, sebaiknya Anda pastikan dulu bahwa legen yang Anda beli masih baru dan belum basi. Apabila sudah basi, legen ini akan menjadi tuak yang memabukkan.

Para penjual di sepanjang jalan pun tidak semua jujur. Apabila pesanan legen sedang  banyak, tidak jarang para penjual mencampur legen dengan air kelapa tua. Ini dilakukan untuk memenuhi semua permintaan. Tentu, hal tersebut akan mengurangi rasa getir pada legen yang menjadi kekhasannya.

Ciri-ciri legen yang sudah basi dapat dikenali dari beberapa hal. Bila tutup botol minuman ini dibuka, lalu muncul letupan dan keluarlah busa, maka legen ini sudah basi. Minuman yang sudah basi rasanya kecut dan panas ditenggorokan. Warnanya pun lebih keruh, putih kekuning-kunginan. Ini merupakan efek fermentasi dari kandungan gula di dalam legen.

Minuman basi ini tidak perlu dibuang. Ia dapat dimanfaatkan sebagai cuka maupun alkohol. Fermentasi legen lainnya adalah tuak.

Penjualan

Terdapat pedagang legen yang khusus menyewa pohon siwalan per tahun. Sewa di lokasi milik petani di mana pohon siwalan ditanam. Adapun jumlah legen yang bisa dijual per hari adalah sekitar 40 sampai 60 liter. Wadahnya adalah botol-botol bekas minuman yang berukuran 1,5 liter dari pelbagai merk, seperti Aqua, Indomaret, Club, dan lain sebagainya. Harga perbotol kira-kira Rp10.000. Sedangkan satu gelas air minum biasa, harganya kira-kira Rp2.000.

Lain halnya dengan pedagang legen keliling. Wadah yang digunakan terbuat dari bambu. Gelas yang digunakannya pun terbuat dari batang bambu. Hal ini untuk membuat air legen selalu dingin meskipun tidak diberi es batu.

Bila bulan Ramadhan tiba, meski tak banyak pembeli yang singgah ke gubuk-gubuk legen di pinggir jalan, pedagangnya bisa menjual hingga 80 liter per hari. Hal ini dikarenakan rasa legen yang nikmat sebagai minuman pembuka puasa. Para konsumen biasa membeli legen di wadah botol yang berukuran 1,5 liter untuk dibawa pulang dan dipersiapkan sebagai pembuka puasa.

Bulan suci Ramadhan kiranya bukanlah masa pengurangan rezeki bagi para penjual makanan dan minuman. Bulan suci puasa justru menjadi berkah bagi para penjual, termasuk penjual legen. Sejumlah warga bahkan rela menjadi penjual legen dadakan lantaran banyak konsumen yang meminatinya.

Saran

Bila Anda adalah petualang kuliner yang tangguh, Anda dapat mencari legen asli, yakni yang baru saja diambil langsung dari pohonnya, di pelosok desa sekitar Pantura. Untuk satu botol besar ukuran satu setengah liter minuman legen, Anda cukup membayar Rp8.500 saja.

Selamat mencoba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 3 =