Lawang Sewu, Cagar Budaya Perkeretaapian Indonesia

143
Gedung Lawang Sewu
Gedung Lawang Sewu yang unik dan megah saat ini difungsikan sebagai museum perkeretaapian di Indonesia. (Foto: heritage.kai.id)

1001indonesia.net – Lawang Sewu merupakan cagar budaya yang menampilkan perjalanan sejarah perkeretaapian di Indonesia. Sempat tak terurus, bangunan Lawang Sewu kini tampak megah. Dengan bangunannya yang unik, kini gedung bersejarah di Kota Semarang ini menjadi magnet pariwisata.

Dilansir dari situs heritage.kai.id, Lawang Sewu merupakan gedung milik PT Kereta Api Indonesia (Persero). Awalnya, bangunan yang sudah berusia 100 tahun lebih ini digunakan sebagai Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Gedung yang terletak di Semarang ini dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 meter persegi. Gedung utama dibangun pada 27 Februari 1904 sampai Juli 1907. Sementara bangunan tambahan dibangun pada 1916 hingga 1918.

Perancang gedung Lawang Sewu adalah Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam. Bangunannya didesain menyerupai huruf L serta memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara.

Banyaknya jumlah pintu yang dimiliki gedung ini membuat masyarakat menamainya sebagai Lawang Sewu yang berarti pintu seribu. Meski dinamai “pintu seribu”, jumlah sebenarnya adalah 425 lubang pintu dan 928 daun pintu.

Selain desain bangunanya yang unik, gedung ini memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten. Kaca patri tersebut bercerita tentang kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim, serta kejayaan kereta api.

Ornamen kaca patri di Gedung Lawang Sewu. (Foto: goodpiknik.com)

Ragam hias lainnya adalah ornamen tembikar pada bidang lengkung di atas balkon, kubah kecil di puncak menara air yang dilapisi tembaga, dan puncak menara dengan hiasan perunggu.

Gedung ini juga memiliki ruang bawah tanah, tingginya hingga 2,5 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Ruang ini dibuat karena gedung dibangun di atas tanah yang lembek. Itu sebabnya, untuk membangun fondasi harus dilakukan pengerukan secara dalam. Pengerukan ini menyisakan ruang yang kemudian dimanfaatkan sebagai basement.

Ruang bawah tanah semacam ini lazim ditemukan pada bangunan-bangunan kuno gaya Eropa.

Sejarah

Dilansir Kompas.id, keberadaan Lawang Sewu berawal dari dibangunnya jalur kereta api pertama di Indonesia. Jalur kereta api yang berada di Kemijen, Semarang, tersebut dibangun pada 1864 oleh perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS atau NISM).

Pembangunan jalur beserta empat stasiun dari Semarang hingga Tangoeng (kini Tanggung), Grobogan, itu selesai pada 1867.

Pada 10 Agustus 1867 dilangsungkan perjalanan KA dari Stasiun Samarang NIS hingga Tangoeng, sepanjang 25 kilometer, dengan waktu tempuh 1 jam. KA berhenti di Stasiun Allas-Toewa (Alastua) di Semarang dan Broemboeng (Brumbung) di Demak. Meskipun digunakan juga untuk mengangkut orang, prioritas lebih pada pengangkutan hasil perkebunan.

Pembangunan jalur ke Ambarawa menjadi syarat dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat mengabulkan permohonan konsesi NIS. Percabangan jalur itu untuk kepentingan militer karena ada Benteng Willem di Ambarawa.

Baca juga: Museum Kereta Api Ambarawa, Berwisata Sekaligus Belajar Sejarah Kereta Api

Dalam perkembangannya, sesuai konsesi, rute berlanjut menjadi Semarang-Surakarta-Yogyakarta (1873). Selain itu, juga ada percabangan jalur dari Kedungjati ke Ambarawa.

NIS juga mendapat konsesi membangun jalur KA Jakarta-Bogor mulai 1869. Sementara di Semarang, dibangun juga jalur Semarang-Juana, serta jalur trem kota yang beroperasi mulai 1882, oleh swasta lainnya, Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Kemudian, juga dibangun jalur Semarang-Cirebon oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), juga swasta, pada akhir abad ke-19.

Pada perkembangannya, NIS tumbuh menjadi maskapai KA terbesar di antara belasan perusahaan swasta yang pernah mengoperasikan jalur rel di Indonesia.

Pemerintah Hindia Belanda akhirnya juga mendirikan maskapai bernama Staatsspoorwegen (SS) dengan jalur pertama Surabaya-Pasuruan. Perusahaan pemerintah yang berpusat di Bandung itu juga mengambil alih jalur Jakarta-Bogor dari NIS hingga kemudian menjadi maskapai terbesar mengalahkan NIS.

Jajaran pintu di Gedung Lawang Sewu. (Foto: kids.grid.id)

Awalnya, Stasiun Samarang juga sekaligus menjadi kantor NIS. Kantor NIS tak cuma di bagian atas Stasiun Samarang, tetapi juga pada bangunan-bangunan yang terpencar di sekitarnya.

Seiring berkembangnya perusahaan dan bertambahnya jumlah pegawai, kantor administrasi baru dibangun. Letaknya di sekitar Wilhelmina Plein (kini Tugu Muda Semarang) atau di ujung selatan Bodjongweg (kini Jalan Pemuda). Lokasi itu berjarak 4,5 kilometer dari Stasiun Samarang NIS yang kala itu mudah diterjang rob. Kantor itulah yang kini disebut Lawang Sewu.

Lawang Sewu digunakan sebagai Kantor Pusat Administrasi NIS sejak Juli 1907.
Pada 1942-1945, Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang).

Pada 1945, setelah Indonesia merdeka, gedung ini digunakan sebagai Kantor Eksploitasi Tengah DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).

Pada pertempuran 5 Hari di Kota Semarang, tepatnya tanggal 15-19 Oktober 1945, Lawang Sewu menjadi menjadi salah satu titik pertempuran yang hebat antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai dari Jepang.

Pada 1946, Lawang Sewu digunakan sebagai markas tentara Belanda sehingga kegiatan perkantoran DKARI pindah ke bekas kantor de Zustermaatschappijen.

Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949, gedung ini digunakan Kodam IV Diponegoro. Pada 1994, gedung ini diserahkan kembali kepada kereta api (Perumka) yang kemudian statusnya berubah meniadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Dalam perkembangannya, Lawang Sewu sempat telantar. Salah satunya karena tingginya biaya perawatan bangunan kuno. Lantaran tidak terawat, Gedung Lawang Sewu, yang juga pernah akan dijadikan hotel mewah, lebih sering disebut sebagai gedung berhantu. 

Pada 2009 dilaksanakan restorasi oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Pada 5 Juli 2011, Ibu Negara Ani Yudhoyono meresmikan Gedung Lawang Sewu yang rampung dipugar, sekaligus pembukaan Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011.

Saat ini Lawang Sewu difungsikan sebagai museum perkeretaapian di Indonesia. (Foto: heritage.kai.id)

Museum Perkeretaapian

Saat ini Gedung Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Kompleks Lawang Sewu terdiri dari empat bangunan, dua yang utama bernama A dan B dan dua yang lebih kecil bernama C dan D.

Gedung A digunakan sebagai ruang pamer yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Koleksi yang dipamerkan, antara lain mesin hitung, mesin tik, surat berharga dan foto-foto bersejarah lainnya. Ada juga koleksi miniatur lokomotif uap dan baju seragam asli tokoh revolusi PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2009-2014.

Gedung B merupakan bangunan tambahan yang didirikan sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918. Gedung B saat ini diperuntukkan untuk penyewaan ruangan, seperti untuk kegiatan pameran, pertemuan, pemotretan, shooting, pesta pernikahan, festival, bazar, pentas seni, dan workshop.

Gedung C memuat informasi tentang perjalanan bersejarah perkeretaapian Indonesia. Juga ada informasi mengenai proses pemugaran Lawang Sewu, baik dalam bentuk foto maupun video dokumentasi. Di ruangan ini juga dipajang koleksi persinyalan Alkmaar dan mesin cetak tiket Edmonson.

Gedung D digunakan sebagai ruang P3K, ruang menyusui, gudang, tempat istirahat, dan smoking area.  Bagian gedung ini sering dimanfaatkan oleh pengunjung untuk melepas lelah dengan beristirahat sejenak.

Pesona Lawang Sewu di malam hari. (Foto: portalwisata.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.