Larung Sembonyo, Wujud Syukur Masyarakat Nelayan Prigi

61
Larung Sembonyo
Sebagai ungkapan rasa syukur, masyarakat nelayan di pesisir selatan Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menggelar Larung Sembonyo. (Foto: beritajatim.com)

1001indonesia.net – Terdapat beragam tradisi upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah laut yang dimiliki masyarakat nelayan di Indonesia. Demikian pula masyarakat nelayan di pesisir Prigi, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sebagai ungkapan rasa syukur, mereka menggelar upacara adat Larung Sembonyo setahun sekali.

Tradisi Larung Sembonyo dimulai dari arak-arakan tumpeng raksasa dari Kecamatan Watulimo menuju pantai. Sepanjang jalur arak-arakan, ribuan warga menonton, layaknya sebuah festival kesenian. Setiba di pantai, tumpeng raksasa diletakkan di atas pelampung yang terbuat dari pelepah pisang dan kayu untuk kemudian dibawa ke tengah laut.

Kegiatan melaut nelayan dihentikan selama tiga hari untuk menghormati acara Larung Sembonyo. Acara ini benar-benar harus disakralkan oleh masyarakat setempat, sebagai bentuk ucapan syukur atas rezeki yang telah laut berikan Yang Maha Kuasa kepada nelayan dan warga sekitar dengan hasil tangkapan yang melimpah.

Upacara Larung Sembonyo ini dilaksanakan ini digelar oleh nelayan setempat setahun sekali, setiap bulan Selo pada pasaran Kliwon dalam penanggalan Jawa. Larung Sembonyo disebut juga sebagai Sedekah Laut atau Labuh Laut yang merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain sebagai wujud syukur atas tangkapan ikan di laut, upacara adat ini juga digelar untuk memperingati pernikahan Raden Tumenggung Yudho Negoro, seorang Kepala Prajurit Mataram, dengan Putri Gamba Inten.

Raden Tumenggung Yudho Negoro adalah orang yang berhasil membuka kawasan Teluk Prigi dengan jaminan bersedia menikahi Putri Gamba Inten, salah seorang putri Adipati Andong Biru.

Pada tahun ini, upacara adat Larung Sembonyo telah dilaksanakan pada 18 Juni 2022, setelah dua tahun sebelumnya tidak dilaksanakan akibat pandemi. Sampai saat sekarang, tradisi sedekah laut ini terus dijaga oleh masyarakat nelayan setempat dan menjadi daya tarik bagi pariwisata.

Baca juga: Taber Laot, Ungkapan Rasa Syukur atas Hasil Laut yang Melimpah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.