Kuda Lumping, Tarian Tradisional Jawa yang Berbau Mistis

oleh Siti Muniroh

68
(Foto: befotowork/toteczious.deviantart.com)

1001indonesia.net – Kerajinan rotan, sudah amat dikenal oleh publik Indonesia. Banyak sekali barang keperluan sehari-hari masyarakat Indonesia yang berbahan dasar dari rotan. Tidak hanya itu, rotan pun dipakai sebagai bahan dasar barang seni yang menjadi andalan salah satu tarian tradisional masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Pulau Jawa. Tarian tersebut adalah kuda lumping.

Tarian ini memakai anyaman rotan yang berbentuk kuda (namun tanpa kaki) sebagai ciri khas dari pertunjukkannya. Kuda Lumping dimainkan oleh 2 orang (minimal) hingga 8 orang laki-laki, kecuali di Jawa Timur yang saat ini sudah dimainkan oleh para penari perempuan.

Pada kuda lumpingnya, terdapat hiasan berupa rambut (berasal dari tali) yang digelung atau dikepang. Oleh karena itu, di Jawa Tengah tarian ini dikenal dengan nama jaran kepang. Di Jawa Barat, sendiri dikenal dengan nama Kuda Lumping. Sedangkan di Jawa Timur dikenal dengan nama jathilan.

Asal Usul

Ada beberapa versi menyangkut sejarah munculnya tarian ini. Ada yang mengatakan bahwa seni tradisional ini lahir dari dukungan rakyat jelata terhadap Pangeran Diponegoro yang berperang melawan kekuatan kolonial Belanda. Ada juga yang mengatakan bahwa tarian ini muncul di era Kerajaan Mataram saat pasukan penunggang kuda yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I berperang melawan penjajah Belanda.

Versi lain mengatakan bahwa tarian Kuda Lumping adalah cerminan dari perjuangan Raden Fatah yang didampingi Sunan Kalijaga melawan penjajah Belanda. Sementara versi dari Jawa Timur, yang penulis duga merupakan dasar penamaan tarian ini, lahirnya jathilan berhubungan dengan kisah pasukan yang terdiri atas para pemuda rupawan bergelar Jathil yang menunggang kuda putih dengan rambut, ekor, dan sayap emas.

Pasukan tersebut membantu Kerajaan Bantarangin dalam peperangan melawan pasukan penunggang babi hutan dari Kerajaan Lodaya. Riwayat ini didapatkan dari serial legenda Reog abad ke-8.

Dari versi-versi di atas, dapat dilihat benang merah tarian ini, yaitu tentang semangat heroik dari pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini nampak jelas dari gerakan-gerakan lincah dan agresif, baik dalam gerak tubuh maupun kibasan anyaman bambu kuda lumping, yang mencerminkan gerakan penunggang dengan kudanya di tengah peperangan.

Pagelaran

Tarian tradisional ini biasa dipertunjukkan di acara-acara khusus, seperti penyambutan tamu kehormatan, sunatan, dan lain-lainnya.

Para senimannya juga kadang berkeliling dari satu wilayah ke wilayah lain. Bila mendapatkan tanah lapang, mereka akan menggelar kesenian ini. Tarian ini kadang pula dipertunjukkan di sebuah wilayah tertutup, tetapi dengan mengambil jarak terpisah antara pemain dengan penonton.

Baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah, tarian ini juga mengikutsertakan atraksi mistis dari para penari yang diawasi oleh dukun. Mereka menari diiringi dengan musik tradisional, seperti angklung, gong-gong, , drum-drum dog-dog, kendang, gamelan pelog, kenong, dan terompet khas kuda lumping (ada juga yang memordernisasikan peralatan musiknya dengan menambahkan musik pengiring, seperti drum, gitar dan bas elektrik guna menampilkan sound musik yang bagus). Mantra-mantra pun dibacakan hingga para penari kesurupan.

Pecutan cambuk menjadi tanda bahwa para penari sudah kerasukan roh halus. Atraksi-atraksi pun dimulai. Macam-macam yang dilakukan, namun kesemua laga ini bukanlah tindakan yang normal. Ada yang memakan rumput, mengunyah kaca, menyayat lengan dengan pisau, dibacok dengan golok, mengangkat benda berat, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dipecut oleh cambuk, mengupas sabuk kelapa dengan gigi, dan lain sebagainya.

Atraksi ini dipertontonkan dengan maksud untuk memperlihatkan kekebalan tubuh penari-penari tersebut pada saat kesurupan. Ada pula yang menari dengan menaiki kuda anyaman lantas melompat-lompat, berjingkrak-jingkrak, hingga berguling-guling di tanah.

Di wilayah Bali, tarian ini dikenal dengan nama Sang Hyang Jaran karena roh yang memasuki para penari diidentifikasi sebagai hyang. Di wilayah ini pula, para penonton dapat terlibat di dalam kor nyanyian untuk mengiringi tarian ini.

Sedangkan di beberapa wilayah lainnya, para penari menjadi mediator pengiriman pesan dari alam gaib bagi siapa saja yang membutuhkan ramalan. Kesemua aksi ini dipandu oleh dukun yang menggunakan cambuk yang dipukulkan ke tanah. Setelah mereka sadar dari kesurupan, para penampil mengatakan kalau mereka tidak ingat apa pun yang telah mereka lakukan saat pertunjukan.

Tampaknya atraksi ini merupakan cerminan dari kekuatan supranatural yang digunakan oleh pejuang-pejuang di lingkungan kerajaan Jawa, sebagai modal kekuatan non-militer guna melawan pasukan Belanda.

Pada pertunjukkan Kuda Lumping di jalanan, para penari mendekati penonton dengan maksud meminta uang secara sukarela.

Jathilan

Di Jawa Timur, tarian yang disebut jathilan ini menjadi bagian dari pagelaran Reog Ponorogo. Jathil adalah para penunggang kuda yang muda nan rupawan. Namun tidak seperti jaran kepang, jathilan bukanlah suatu tontonan tarian mistik dengan atraksi-atraksi tak biasa seperti yang telah disebutkan di atas. Secara tradisional tarian jathilan digelar dengan gemblakan.

Perlengkapan

Selain kuda anyaman (berbahan rotan untuk orang-orang dewasa dan bambu untuk anak-anak) sebagai perlengkapan utama, para penarinya memakai kostum warna-warni dengan dekorasi manik-manik. Terkadang mereka menggunakan baju yang mengesankan baju ketentaraan.

Mereka juga memakai bel-bel kecil yang berbunyi halus di sekitar pergelangan kaki. Perhiasan ini betul-betul menambah seru keriuhan pertunjukan, terutama bila sang penari sudah kesurupan lantas ia bergerak menari, melompat-lompat, dan berjingkrak-jingkrak.

Tak lupa pula hiasan di kepala. Kostum para penari, jelas lebih feminin ketimbang kostum sang dukun.

Respon Publik

Tarian kuda lumping dikenal luas. Tetapi publik Indonesia mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai kesenian ini. Ada yang memandang bahwa pagelaran ini adalah pertunjukan setan, dan oleh karenanya musyrik (sesat karena menyamakan kekuatan Tuhan).

Di waktu kecil, pertunjukan ini pernah dibubarkan oleh sesepuh daerah di mana penulis tinggal karena dianggap sesat. Pembubarannya persis di saat atraksi mistis tengah dilakukan oleh para pemain.

Meski begitu, ada pula yang memandangnya sebagai kekayaan budaya Indonesia, yang merupakan warisan dari nenek moyang dan tidak ada kaitannya dengan kesesatan. Kini, tarian kuda lumping juga telah berkembang ke Suriname, Malaysia, dan Singapura.

LEAVE A REPLY

2 × three =