Kalian Bisa Jadi Pawang Hujan Dadakan Kaya Mba Rara Loh…!

oleh Latifatul Qolbiyah, Mahasiswi Antropologi Universitas Brawijaya

333
Pawang Hujan
Mbak Rara, Pawang hujan sirkuit Mandalika. (Foto: Twitter.com/MotoGP)

1001indonesia.net – Hari gini siapa yang tidak tahu Mbak Rara? Pasti semua tahu dong! Namanya disorot media-media karena aksinya saat hujan turun menjelang Start MotoGP Mandalika viral di media sosial.

Loh emang ngapain kok pas hujan-hujan viral?

Mba Rara viral karena profesinya yang unik daripada yang lain, yaitu pawang hujan. Ya… pawang hujan.

Sebenarnya bukan kali ini saja Mba Rara menjadi pawang hujan di gelaran besar. Sebelumnya ia bahkan menjadi pawang hujan saat ASEAN GAME 2018.

Sebenernya pawang hujan itu apa sih?

Dalam KBBI kalo kalian cari apa itu pawang hujan, maka di sana akan tertulis pawang hujan adalah orang yang pandai menolak hujan.

Kok bisa menolak hujan emang hujan confess ke dia? Eh ga gitu!

Jika dikaji dari sisi budaya, maka keberadaan pawang hujan termasuk ke dalam kepercayaan masyarakat akan kemampuan spiritual seseorang.

Orang yang menjadi pawang hujan dipercaya dapat berkomunikasi dengan hal gaib dan memiliki kekuatan untuk mengendalikan angin, api, air, dan udara. Tidak hanya menolak hujan, seorang pawang hujan juga dipercaya dapat menurunkan hujan.

Tidak sampai di situ. Dalam budaya tradisional, ada banyak cara dalam menangani hujan. Cara yang dimaksud di sini di antaranya melalui ritual. Di masa lalu, masyarakat melakukan ritual untuk menangani hujan.

Dengan kata lain, untuk mengatasi kendala akibat hujan, tidak harus dengan memanggil pawang hujan. Ada banyak kearifan lokal, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, tentang bagaimana caranya meminta ataupun menolak hujan.

Berikut beberapa contoh kearifan lokal, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia lain.

Bagi kalian yang mau seperti Mba Rara … informasi ini bisa jadi sangat berguna.

Baca juga: Okol, Tanding Gulat Madura untuk Meminta Hujan

Beragam cara menangani hujan di Indonesia

Berikut contoh caranya dari beberapa tempat di Indonesia.

Lombok

Selain kemarin ada Mbak Rara yang beraksi di Lombok, masyarakat setempat sebenarnya memiliki ritual hujannya sendiri. Tapi yang ini bukannya menangkal hujan, tapi malah meminta hujan guys.

Masyarakat Lombok memohon hujan melalui Ritual Turun Taun. Ritual ini dilakukan pada masa menjelang musim tanam. Di dalam ritualnya terdapat iringan lirik atau mantra meminta hujan.

Berikut mantra yang digunakan masyarakat Lombok:

Turun taun léq Gedong Sari (Turun hujan dari Gedong Sari)

Mumbul katon suarga mulia (Semburan hujan laksana sorga mulia)

Langan Dé Sida Allah nurunang sari (Berkah rahmat Tuhan menurunkan kebahagiaan)

Sarin merta sarin sedana… (Sumber kebahagiaan hidup)

Jawa

Kalo di Jawa bentuk ritualnya juga menggunakan mantra tertentu, namun juga menggunakan sarana, seperti sapu lidi dan bawang merah atau brambang.

Permohonan menolak hujan dilakukan dengan memasang sapu lidi yang didirikan terbalik di luar rumah dengan ujung sapu lidi tersebut ditusukkan cabai dan bawang merah. Setelah sapu lidi sudah terpasang lalu dilafalkan mantranya.

Berikut mantra yang digunakan untuk menangkal hujan di Jawa:

Niat ingsun ora ngadekaké sapu biasa (Niat hamba bukan sekedar mendirikan sapu biasa)

Nanging sapu jagat kanggo ngresiki mendhung (Tetapi sapu jagad yang mampu membersihkan mendung)

Udan lan angin saka daérah nama daerah (Hujan dan angin di wilayah nama daerah )

Dibuang menyang Weleri (Dipindahkan ke daerah Weleri)

Sawetara wektu rong ndina (Untuk jangka waktu 2 hari)

Saking kersaning Allah ingkang murbéng jagad (Ini terjadi atas berkah Allah, Penguasa Semesta Alam)

Bali

Di Bali, ritual menangani hujan menjadi hal yang penting mengingat upacara keagamaan umat Hindu sering dilakukan. Di Bali, ritual menangkal hujan disebut Nerang Tolak Hujan. Ritualnya lebih kompleks daripada ritual di daerah lainnya.

Tempat yang digunakan seseorang untuk nerang hujan tergantung jenis kegiatan yang ingin dilakukan.

Misalnya, jika kegiatannya di rumah cukup melakukan ritual di sanggah kemulan atau pangijeng karang.

Jika kegiatannya melibatkan dua rumah atau lebih maka ritual dilakukan di pura banjar, di pelinggih begawan penyarikan. Tetapi kalo melibatkan warga antarbanjar, ritual sebaiknya dilakukan di pura kahyangan tiga.

Karena ritual di Bali ini ribet, aku saranin ga usah coba-coba yang ini guys

Cara Menangani Hujan di Dunia

Sekarang bagian bagi kalian yang mau lebih internasional untuk menangani hujan, bisa nih coba dengan ritual penangkal hujan dari negara lain.

Jepang

Di Jepang guna menolak hujan mereka menggunakan boneka putih yang digantung di jendela yang disebut boneka Teru Teru Bozu.

Teru Teru Bozu ini telah ada sejak zaman dahulu sebagai penangkal hujan. Konsep boneka ini mirip dengan boneka hantu yang ada saat Halloween.

Teru Teru Bozu juga dianggap jimat yang diyakini memiliki kekuatan ajaib yang mampu mendatangkan cuaca cerah serta menghentikan atau mencegah hujan.

Teru dalam Bahasa Jepang berarti bersinar atau cerah, dan bōzu dapat berarti bhiksu (kepala botak).

Selain dengan boneka Teru Teru Bozu, juga terdapat sesajen, berupa sake suci yang disiramkan ke boneka. Setelah itu, boneka dihanyutkan ke sungai.

Sekarang ini anak-anak di Jepang membuat Teru Teru Bozu dari tisu atau kapas dan benang. Mereka menggantungnya di jendela saat mereka mengharapkan hari yang cerah, biasanya pada hari piknik sekolah.

Ketika mengharap cuaca cerah boneka Teru Teru Bozu digantung dengan kepala di atas. Sebaliknya, jika digantung secara terbalik mengisyaratkan permohonan agar hujan turun.

Ada sebuah lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak di Jepang saat membuat Teru Teru Bozu.

Berikut lirik lagunya:

Teru-teru-bōzu, teru bōzu

Ashita tenki ni shite o-kure

Itsuka no yume no sora no yō ni

Haretara kin no suzu ageyo Teruteru-bōzu, teru bōzu

Ashita tenki ni shite o-kure

Watashi no negai wo kiita nara

Amai o-sake wo tanto nomashoTeruteru-bōzu, teru bōzu

Ashita tenki ni shite o-kure Sorete mo kumotte naitetara

Sonata no kubi wo chon to kiru zo

Thailand

Kalo negara Gajah Putih punya apa ya untuk menangkal hujan?

Nah … Thailand memiliki ritual penghentian hujan dengan memanfaatkan tumbuhan serai dan seorang gadis.

Ritual ini dilakukan dengan menancapkan tumbuhan serai ke tanah, lalu meminta seorang gadis yang masih perawan untuk memanjatkan doa agar hujan berhenti.

Masyarakat Thailand percaya ritual ini dapat menangkal awan sumber badai untuk menjauh sehingga cuaca menjadi cerah.

India

Negara yang terkenal dengan Bollywood-nya ini juga memiliki ritual menangani hujannya sendiri, yang dikenal dengan nama Varuna Yajna.

Sesuai ajaran agama Hindu, ritual ini dilakukan dengan memuja dewa air yang dipercaya mengatur turunnya hujan. Masyarakat India percaya bahwa turunnya hujan adalah tanda datangnya keberuntungan.

Udah puas belum kukasih tahu cara-cara menangkal dan menurunkan hujan? Siapa tahu pas nangis bombay dighosting gebetan bisa nih nurunin hujan, biar ga terlihat deru-deru air matanya…..

Perlu dipahami ya guys, bahwa pawang hujan dan ritual-ritual menangkal atau memanggil hujan itu adalah bentuk kebudayaan. Kebudayaan ini ada sebagai wujud upaya manusia saat berhadapan dengan fenomena alam.

Tentu saja kalian bisa percaya ataupun tidak terhadap kemampuan seorang pawang hujan. Apa yang dilakukan Mba Rara semata bentuk upaya berkomunikasi dengan alam agar acara yang akan dilangsungkan berjalan dengan lancar. Sesuatu yang sebenarnya umum dilakukan di Indonesia sampai saat ini.

Harus diakui juga, seperti yang diungkapkan beberapa sumber, pawang hujan tidak selalu berhasil menangani hujan. Yah… namanya juga usaha… kadang kesampaian seperti yang dimau … kadang gagal.

Dan terlepas dari kita percaya ataupun tidak, kita patut bersyukur. Gelaran MotoGP Mandalika 2022 itu akhirnya sukses dilaksanakan.

Referensi :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.