Jaran Kepang, Seni Pertunjukan Kuda Lumping di Indonesia

488
Jaran Kepang
Foto: dictio.id

1001indonesia.net – Jaran kepang merupakan salah satu jenis tarian kuda lumping di Indonesia. Aslinya, tarian yang berasal dari Ponorogo ini merupakan dari bagian pertunjukan Reog.

Jaran kepang ditarikan menggunakan kuda mainan yang terbuat dari anyaman bambu. Istilah jaran sendiri dalam bahasa Jawa berarti kuda, sedangkan kepang berarti anyaman.

Selama menari, kuda mainan berbentuk pipih tersebut dijepit di antara dua kaki penarinya. Pada kuda-kudaan tersebut ditambahkan asesori serta pewarnaan sehingga bentuknya menyerupai kuda sungguhan. Iringan musiknya sederhana, didominasi kenong dan terompet.

Kesenian tradisional ini juga dikenal dengan sebutan jathilan. Kata jathil berasal dari bahasa Jawa, yaitu jarane jan thil-thilan, yang berarti kuda yang menari tidak beraturan.

Di beberapa kesempatan memang penari jathilan ini kerasukan. Akan tetapi, untuk penari di masa sekarang para penari jathilan pada pertunjukan Reog tidak kerasukan sehingga tidak melakukan berbagai atraksi berbahaya seperti halnya dengan tarian kuda lumping dari daerah lain.

Di masa silam, seni pertunjukan ini ditarikan oleh laki-laki. Seiring perkebangan waktu terjadi perubahan. Saat ini, jaran kepang sering kali ditarikan oleh wanita. Tarian ini aslinya menggambarkan kekuatan prajurit berkuda, namun ditarikan dengan indah dalam gemulai gerakan penarinya.

Dulu, tarian ini sering kali terpisah dengan pertunjukan Reog. Tarian ini banyak dilakukan di pedesaan sebagai kesenian hiburan bagi rakyat. Namun di Ponorogo khususnya, tarian ini menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan dari pertunjukan Reog.

Baca juga: Reog Ponorogo, Seni Barongan Asli Indonesia

Pada mulanya, jathilan bukanlah sebuah seni pertunjukan. Di masa silam, tarian ini merupakan bagian dari ritual tolak bala untuk mengatasi berbagai musibah, juga ritual untuk meminta kesuburan pada lahan pertanian serta mengharap keberhasilan panen dan supaya masyarakat aman dan tenteram.

Masyarakat Tradisional Nusantara percaya bahwa musibah datang ketika terjadi ketidakselarasan atau ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia. Di masa lalu, jaran kepang merupakan bagian dari ritual untuk mengembalikan keselarasan tersebut.

Baca juga: Tolak Bala, Tradisi Masyarakat Nusantara Menangkal Marabahaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.