Gereja Santo Ignatius Loyola, Rumah Ibadah Tua di Sikka

93
Gereja Santo Ignatius Loyola (Foto: capamaumere.com)

1001indonesia – Selain alamnya yang sangat memesona, Sikka yang berada di Pulau Flores juga memiliki tempat religius bersejarah yang layak untuk dikunjungi, yaitu Gereja Santo Ignatius Loyola.

Rumah ibadah yang juga dikenal sebagai Gereja Tua Sikka ini berada di pinggir pantai Laut Sawu atau di pesisir selatan Pulau Flores, tepatnya di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Gereja Tua Sikka telah berumur lebih dari satu abad, mulai dibangun tahun 1896 dan secara resmi digunakan pada 24 Desember 1899. Seratus lima puluh kubik kayu jati sengaja didatangkan dari Pulau Jawa untuk membuat konstruksinya. Sampai saat ini, gereja tua itu masih berdiri kokoh.

Sejarah

Sejarah Gereja Tua Sikka dan tradisinya terentang jauh sebelum bangunan ini berdiri, yaitu sejak abad ke-14. Konon, Moang Lesu Liardira Wa Ngang yang nantinya menjadi raja Sikka pada abad ke-14 merupakan sosok terpenting di balik sejarah pendirian Gereja Tua Sikka dan tradisi-tradisi di sekitarnya. Kisahnya berawal saat Lesu muda, yang berjuluk Ina Gete Amagahar (pintar, berwibawa, dan didengar), bertualang ke Selat Malaka.

Di Selat Malaka, Lesu bertemu dengan para misionaris Katolik asal Portugis. Misionaris tersebut lantas membaptis Lesu muda dengan nama permandian Don Alexius. Ia kemudian dikenal dengan nama Don Alexu Ximenes da Silva.

Penguasa di Malaka, Jogo Worilla, menghadiahi Da Silva sebuah Senhor atau salib dari Portugis, berikut patung Meniho (kanak-kanak Yesus). Ditemani seorang Portugis bernama Agustinho Rosario da Gama, Da Silva pulang ke Sikka. Di Sikka, ia membangun kapel kecil bagi Senhor dan Meniho yang dibawanya.

Sejak itu, Sikka rutin dikunjungi misionaris Portugis. Pada 1617, gereja Katolik menempatkan pastor pertamanya di Sikka, Pastor Manoel de Sa OP, membangun tradisi Gereja Tua Sikka yang masih kita saksikan hingga kini. Dari Sikka pula para misionaris menjelajah hingga ke Maumere, hingga Stasi Maumere didirikan pada 1873.

Bangunan Gereja Tua Sikka yang sampai kini berdiri memang bukan kapel yang dahulu didirikan Da Silva. Gereja Tua Sikka merupakan bangunan yang selesai didirikan pada 1899. Bangunan ini dirancang oleh Pastor Antonius Dijkmans SJ, seorang arsitek yang juga menjadi perancang Gereja Katedral Jakarta. Tempat ibadah yang bernama Gereja Santo Ignatius Loyola itu dibangun mulai 1893, dan diresmikan Pastor J. Engbers SJ pada 24 Desember 1899.

Bangunan gereja ini ditopang kayu jati besar yang dikombinasikan dengan tembok batu bata sekelilingnya. Langit-langitnya yang dibiarkan terbuka menambah keindahan susunan kayu jati yang menopang bagian atap.

Kekuatan struktur bangunan gereja tua benar-benar ini telah teruji, terutama saat gempa bumi dan tsunami dahsyat mengguncang Maumere pada 1992.

Pada bagian sakristi gereja sayap kanan masih tersimpan organ tua yang sumber bunyinya berasal dari tenaga angin hasil genjotan dua kaki pada panel di bagian bawah. Terlihat pula panji-panji bergambar orang kudus yang sudah agak kusam dimakan usia.

Tempat lilin kuno yang terbuat dari kuningan yang sudah berusia ratusan tahun juga masih dipakai sampai saat ini. Sedikit dipoles saja, benda berornamen indah itu akan tampak berkilau lagi.

Buku-buku misa dan dokumen berusia ratusan tahun juga masih disimpan di sekretariat paroki. Terdapat pula patung salib Yesus warisan Da Silva yang setiap hari raya Jumat Agung diarak umat keliling kampung dalam ritual Logu Senhor.

Ritual Logu Senhor yang sudah menjadi tradisi menjadi daya tarik tersendiri di Sikka. Menurut cerita masyarakat setempat, raja memercayai bahwa dengan salib yang berasal dari Malaka tersebut mampu mengusir wabah kematian dan wabah penyakit yang melanda Sikka.

Umat setempat sangat menjaga kelestarian gereja tua itu dengan segala macam peninggalan lainnya. Hingga kini masih bisa dilihat bangunan gedung pastoran di depan gereja yang berdiri sejak tahun 1892 atau empat tahun sebelum gereja ini dibangun.

Gereja tua ini pernah direnovasi bagian atapnya pada 1931 dan 1952 karena atap sengnya termakan karat akibat korosi uap air laut yang mengandung garap. Sejak atap tersebut diganti dengan genteng pada 1952, gereja itu tak pernah bocor lagi.

Karena keunikannya, keindahan arsitektur, serta sejarahnya, gereja ini menjadi objek kunjungan wisata domestik dan mancanegara. Untuk mencapai gereja ini, pengunjung harus melalui jalan aspal sempit sejauh 9 kilometer.

Gereja tua di Sikka ini kini telah menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Flores, khususnya di Kabupaten Sikka. Keberadaan gereja berusia ratusan tahun tersebut perlu terus dilestarikan mengingat pentingnya nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

LEAVE A REPLY

ten + 5 =