Fondasi Cakar Ayam, Konstruksi Bangunan Temuan Prof. Dr. Ir. Sedijatmo

768

1001indonesia.net – Bangsa Indonesia mampu menciptakan suatu karya yang diakui dunia, salah satunya dalam bidang konstruksi bangunan, yaitu fondasi cakar ayam. Fondasi cakar ayam adalah salah satu metode rekayasa teknik dalam pembuatan fondasi bangunan yang ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo untuk mengatasi masalah bagi pendirian menara transmisi listrik tegangan tinggi di tanah lembek berawa.

Fondasi cakar ayam juga bisa digunakan untuk bangunan-bangunan lain, seperti gedung bertingkat, hangar, jembatan, dan lain-lain. Selain itu, fondasi cakar ayam juga banyak digunakan untuk perkerasan lapangan terbang maupun jalan raya.

Fondasi cakar ayam ditempatkan secara menggantung pada lapisan tanah permukaan. Kedalaman dasar fondasi cakar ayam jauh lebih kecil dibanding lebar fondasinya sehingga dapat dikategorikan sebagai fondasi dangkal. Dari bentuknya yang melebar, maka fondasi ini termasuk tipe fondasi rakit. Fondasi ini juga dapat dikategorikan sebagai fondasi fleksibel karena pelat cakarnya tipis (10-20 cm).

Pada Mei 1962, PLTU Tanjung Priok di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. Sedijatmo bertanggung jawab terhadap ketersediaan listrik di Gelora Senayan dalam rangka penyelenggaraan Asian Games. Untuk menyalurkan listrik dari PLTU Tanjung Priok ke Gelora Olahraga Senayan, perlu didirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana membangun menara untuk jaringan transmisi di atas tanah lembek berawa sementara waktu yang tersedia sangat singkat.

Berhubung waktunya sangat mendesak—sedangkan sistem fondasi konvensional sangat sukar diterapkan di rawa-rawa tersebut—maka dicarilah sistem baru. Inspirasi datang dari pohon kelapa. Saat berlibur ke Cilincing, Prof. Sedijatmo memandang pohon kelapa yang berdiri tegak di tepi pantai. Ia bertanya mengapa pohon kelapa dapat berdiri tegak di atas tanah yang lembek dan terus-menerus terkena tiupan angin yang keras, padahal pohon itu berakar serabut bukan akar tunjang.

Setelah berpikir, Prof. Sedijatmo berkesimpulan bahwa justru akar serabut sangat efisien karena dengan mencengkeram tanah di area sekelilingnya, akar ini lebih kuat menahan berdirinya pohon.

Kemudian, lahirlah ide Prof. Sedijatmo untuk mendirikan menara dengan fondasi menyerupai akar serabut. Fondasi ini terdiri dari pelat beton yang didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya. Pipa dan pelat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan. Oleh Prof. Sedijatmo, hasil temuannya diberi nama sistem fondasi cakar ayam.

Akhirnya, menara tersebut dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan, dan tetap kokoh berdiri di daerah Ancol hingga sekarang. Temuan Prof. Sedijatmo ini mendapat pengakuan luas, bahkan telah mendapat pengakuan paten internasional di beberapa negara, yaitu Indonesia, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Kanada, dan Denmark.

Fondasi cakar ayam terdiri atas pelat beton tipis setebal 10-20 cm yang didukung oleh sejumlah pipa beton yang dipasang vertikal dan disatukan secara monolit dengan pelat beton pada jarak 200-250 cm. Tebal pipa beton kurang lebih 8 cm dengan diameter luarnya 120 cm. Tinggi pipa antara 150-250 cm, tergantung dari jenis tanah dan beban berat yang didukungnya. Pipa-pipa beton ini gunanya untuk pengaku pelat.

Dalam mendukung beban bangunan, pelat, pipa beton, dan tanah yang terkurung di dalam fondasi bekerja sama, sehingga menciptakan suatu sistem komposit yang secara keseluruhan cara kerjanya identik dengan jenis fondasi rakit (raft foundation).

Inovasi yang dibuat Prof. Sedijatmo kemudian dikembangkan oleh Prof. Ir. Bambang Suhendro, M.Sc, Ph.D., Dr. Ir. Hary Christady Hardiyatmo, M.Eng., DEA., dan Ir. Maryadi Darmokumoro. Pengembangan yang telah dilakukan didasarkan pada evaluasi hasil-hasil penelitian yang dilakukan secara intensif sejak 1990.

Pengembangan Sistem Cakar Ayam baru ini kemudian disebut Sistem Cakar Ayam Modifikasi (CAM). Modifikasi ini diyakini memperbaiki kinerja fondasi cakar ayam baik dari segi teknis maupun dari sisi ekonomis. Sistem ini telah diterapkan pada beberapa proyek pembangunan jalan tol yang dibangun di atas tanah lunak.

Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem yang diciptakan oleh Prof. Sedijatmo ini, antara lain ratusan menara PLN tegangan tinggi, puluhan gedung bertingkat banyak, hangar pesawat terbang, power station, kolam renang, gudang, jembatan, dan tangki-tangki minyak.

Fondasi cakar ayam juga digunakan untuk pengerasan lapangan terbang maupun jalan raya di berbagai jalan tol. Penggunaan sistem cakar ayam untuk pengerasan jalan raya akan memberikan konstruksi jalan yang kuat dan awet sehingga biaya pemeliharaan kecil.

LEAVE A REPLY

19 − sixteen =