Erix Soekamti, Vokalis Band Rock Punk yang Peduli pada Pendidikan

1149
Erix Soekamti
Erix Soekamti, vokalis band rock punk Endank Soekamti yang peduli pada pendidikan anak muda. (Foto: liputan6.com)

1001indonesia.net – Sekilas, Erik Kristianto atau yang dikenal dengan nama panggung Erix Soekamti terlihat bengal. Sepasang lengannya bertato. Kedua daun telinganya bertindik besar. Ia pun gemar memakai kaus tanpa lengan yang dengan jelas menampakkan tato di tangannya.

Inilah penampilan seorang vokalis band rock bernuansa punk dengan penggemar lebih dari dua juta orang, Endank Soekamti. Siapa sangka, di balik penampilannya yang sangar, ia menjadi harapan banyak anak muda yang ingin menapaki industri kreatif sebagai animator.

Endank Soekamti

Nama panggung Erix Soekamti ia gunakan untuk menyesuaikan dengan nama band Endank Soekamti. Grup band ini ia dirikan di Yogyakarta, tepat pada tahun baru 2001. Personil awalnya adalah Erik, Fendy, Tony S, dan Ulog. Formasi ini kemudian berubah. Ulog menjadi road manager Soekamti. Sementara Fendy dan Tony S keluar, menjadi anggota band lain.

Ari dan Dory kemudian bergabung. Dengan Dory di posisi gitar, Ari di posisi drum, dan Erik memainkan bas merangkap vokalis utama, band rock ini bertahan belasan tahun dan mendapatkan banyak penggemar fanatiknya. Saat ini, Erik hanya ditemani Dory. Ari yang mundur dari grup band tetap dinanti kedatangannya.

Konser grup ini selalu dipadati oleh penggemar fanatiknya yang tergabung dalam Kamtis Family. Anggotanya sekitar 2,2 juta orang. Umumnya mereka adalah anak-anak muda yang senang musik berisik. Bersama Endank Soekamti, Erik punya jadwal padat. Dalam sebulan, rata-rata ia manggung delapan kali.

DOES University

Erik mendirikan DOES University pada 2015 dengan modal awal sekitar Rp 300 juta. Ini bukanlah universitas formal yang mencetak sarjana, melainkan bersifat informal mirip sekolah bakat. Sepuluh orang fans menjadi pesertanya. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan Balikpapan.

Lembaga pendidikan ini difungsikan sebagai tempat belajar anak muda yang fokus pada praktik membuat animasi. Saat menjalani masa pendidikan yang berlangsung selama 6 bulan, para peserta dikarantina. Mereka tidak dipungut biaya, kecuali biaya patungan untuk makan.

Saat ini, DOES University telah memasuki angkatan yang kedua dengan jumlah murid 58 orang. Sebagian belajar dan tinggal di lantai 3 Hotel Ungaran. Setiap murid menggunakan satu komputer bermonitor layar lebar dengan spesifikasi bagus agar memberi hasil maksimal.

Pengajarnya adalah kaum muda alumni DOES University gelombang pertama. Para pengajar ini telah menyelesaikan pendidikan di daerah Godean. Prinsipnya “bayar ilmu dengan ilmu”. Para peserta yang telah menyelesaikan program pendidikan dituntut untuk mau terlibat mengajar angkatan berikutnya.

DOES University bertempat Hotel Ungaran Cantik, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hotel berlantai tiga tersebut ia ambil alih manajemennya dan sebagian lantainya ia fungsikan sebagai DOES University.

Erik membentuk DOES University sebagai tanggung jawab sosial band dan manajemennya. Ketika Kamtis Family membesar, Erik melihat potensi para remaja itu. Dia tidak mau para penggemarnya sekadar bersorak atau berfoto bersama saat Endank Soekamti naik panggung. Erik merasa para pemuda itu bisa diberdayakan.

DOES University ia dirikan sebagai wadah kreatif bagi Kamtis Family. Sebelum memulainya, Erik mengumpulkan orangtua dari murid yang terpilih. Ia meyakinkan para orangtua bahwa profesi animator di Indonesia memiliki prospek yang bagus.

Untuk menutup biaya operasional DOES University, Erik menyewakan dua lantai kamar hotel. Ia juga menyisihkan penghasilan dari manggung, penjualan album, dan cendera mata. Kekurangannya ditalangi dari dana patungan dan donasi. Pembelian komputer di masa awal, misalnya, didapat dari hasil penjualan DVD film VLOG Fest 2016 The Movie besutan Euforia Audio Visual, perusahaan bentukan Endank Soekamti.

Perusahaan itu menjadi payung band sejak keluar dari label rekaman besar pada 2011. Sejak saat itu, trio yang telah menghasilkan tujuh album itu berdikari. Selain manggung dan rutin menggarap album setiap tiga tahun sekali, band ini merekam aktivitas sehari-hari dalam bentuk video lantas mengunggahnya ke Youtube.

Erik juga akhirnya bikin video personal dalam seri Diary of Erix Soekamti, disingkat DOES, setiap hari. Dari sinilah nama DOES University berasal. Lewat video-video itu, penggemar baru bermunculan.

Atas kepeduliannya pada pendidikan anak-anak muda melalui DOES University, vokalis kelahiran Surabaya 31 Maret 1982 ini mendapatkan Danamon Social Enterpreneur Awards 2016.

Sumber:

  • Endank Soekamti, “Biography: Catatan Perjalanan Endank Soekamti,” http://soekamti.com/biography
  • Herlambang Jaluardi dan P. Raditya Mahendra Y., “Erik Kristianto: Anak Punk yang Tak Terhentikan,” Kompas, Sabtu, 19 November 2016.
  • Tribun Jogja, “Bayar Ilmu dengan Ilmu di DOES University,” http://jogja.tribunnews.com/2016/01/28/bayar-ilmu-dengan-ilmu-di-does-university

LEAVE A REPLY

4 × 1 =