Eratnya Hubungan Umat Hindu dan Muslim di Pulau Bali

300
Eratnya Hubungan Umat Hindu dan Muslim di Pulau Bali
Eratnya hubungan umat Hindu dan Muslim melahirkan berbagai tradisi sebagai jalan untuk mempererat tali persaudaraan. Di antaranya tradisi ngejot. (Foto: Istimewa)

1001indonesia.net – Eratnya hubungan umat Hindu dan Muslim terasa sekali di Bali. Selama ratusan tahun mereka hidup berdampingan secara damai. Mereka bahkan hidup membaur menjadi satu kesatuan. Ini tercermin dari beragam tradisi dan budaya yang menegaskan kuatnya rasa persaudaraan di antara keduanya.

Masuknya Islam ke pulau Bali sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Pada abad XVI, kerajaan-kerajaan Hindu di Bali, seperti kerajaan Gelgel di Klungkung, Kerajaan Pamecutan (Badung), dan Kerajaan Buleleng memiliki banyak pengiring dan prajurit yang direkrut dari orang-orang Islam. Prajurit yang direkrut dari orang-orang Islam ini bekerja sama dengan prajurit yang beragama Hindu dan mereka setia mengabdi kepada raja-raja Hindu di kerajaan-kerajaan tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian para pengiring dan prajurit yang direkrut dari orang-orang Islam itu, kerajaan Hindu tersebut mengizinkan dan memberikan suatu
area khusus pemukiman untuk ditempati oleh orang-orang Islam.

Gelgel dan Kepaon, misalnya, adalah tanah pemberian raja-raja Hindu untuk ditempati oleh orang-orang Islam. Sampai sekarang di kedua kampung ini banyak ditemui orang-orang Islam yang secara turun-temurun tinggal di sana dan berinteraksi dengan masyarakat Hindu.

Penganut Hindu yang mayoritas juga sering kali “melibatkan” atau mengundang umat Islam untuk terlibat dalam kegiatan mereka, baik kegiatan keagamaan atau kegiatan lainnya. Hal ini dilakukan sebagai tanda penghormatan dan penerimaan terhadap umat Islam.

Eratnya hubungan umat Hindu dan Muslim melahirkan berbagai tradisi sebagai jalan untuk
mempererat tali persaudaraan. Di antaranya tradisi ngejot. Istilah ngejot dalam bahasa Bali berarti memberi. Ngejot merupakan tradisi memberikan makanan menjelang hari raya kepada tetangga yang berbeda agama.

Penganut agama yang akan merayakan hari rayanya mengantar aneka rupa menu khas Bali, baik berupa camilan ataupun makanan berat, yang disebut dengan jotan. Isinya aneka rupa menu khas Bali, seperti nasi campur, ayam betutu, dan jukut ares (sayur dari batang pisang). Selain makanan pokok, ada juga kue dan camilan, seperti jaja kukus, jaja uli, begina, dan tape ketan.

Saat hari raya Lebaran, orang-orang Islam di beberapa daerah Buleleng melakukan tradisi ngejot kepada tetangganya yang beragama Hindu. Begitu pula masyarakat Hindu di Buleleng, saat hari raya Galungan, Kuningan, atau hari raya lainnya, mereka juga ngejot, yaitu memberikan makanan, buah-buahan atau jajanan kepada masyarakat muslim tetangganya.

Ngejot tidak hanya berfungsi untuk membagi makanan, tetapi juga untuk membagi kebahagiaan. Saat mengantarkan ngejot, orang akan memberikan selamat pada yang
merayakan hari raya. Dalam hal ini, ngejot merupakan tradisi lokal dalam merayakan keberagaman di Bali. Perbedaan tidak dianggap sebagai batasan, tetapi sebagai sarana untuk saling mengisi.

Jika terjadi masalah karena bentroknya pelaksanaan ibadah kedua agama, masalah tersebut akan diselesaikan dengan dialog dan diambil keputusan yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Misalnya, perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada hari Jumat. Maka, dibuatlah sistem agar umat Islam tetap bisa melaksanakan salat Jumat tanpa mengganggu umat Hindu dalam melaksanakan ibadah Nyepinya, yaitu (1) ibadah Jumat di masjid dilaksanakan
tanpa pengeras suara, (2) bagi umat muslim yang terpaksa harus melewati desa adat untuk menunaikan ibadah salat Jumat, maka pecalang akan mengantarkannya.

Pernah juga Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri terjadi secara bersamaan, tepatnya pada 1994 dan 1995. Kedua perayaan tersebut tetap berlangsung dengan lancar karena
masing-masing mau berkorban.

Umat Islam dengan sukarela tak melakukan pawai takbir dan menggunakan pengeras suara. Sementara umat Hindu merelakan umat Islam melakukan takbir di musala dengan menggunakan lampu.

Masyarakat Bali juga peduli dan turut membantu perayaan Islam. Misalnya, umat Islam dipersilakan menggunakan Lapangan Badung yang terletak di kota Denpasar untuk
melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul Adha. Secara tradisional, Lapangan Badung ini biasanya dipakai oleh umat Hindu saat mereka menyelenggarakan upacara hari-hari besar keagamaan dan upacara persembahyangan bersama.

Organisasi sosial masyarakat Bali pun, meski sangat terkait dengan kehinduan, memberi tempat pada umat Islam. Banjar Adat memiliki tradisi sima karma, yaitu upaya untuk menyerap aspirasi masyarakat baik dalam bentuk saran, masukan hingga kritik, yang diadakan sebulan sekali dengan tidak melihat latar belakangnya. Mereka yang datang dalam forum sima karma bisa berdialog dengan bebas tanpa memandang perbedaan agama.

Koeksistensi juga terjadi dalam organisasi subak yang beranggotakan petani Hindu dan Islam sebagaimana yang terjadi pada subak Pancoran, Tegalinggah, Pemogan, dan Banyubiru.

Tradisi Subak merupakan organisasi pengairan tradisional masyarakat Bali. Tradisi ini erat dengan ritual Hindu. Tentu saja, saat umat muslim menjadi anggota subak, terjadi berbagai penyesuaian sehingga mereka menjalankan ritual menurut agama yang mereka anut.

Subak, Sistem Pengelolaan Air Bersama Ala Masyarakat Bali
Indahnya hamparan sawah di Bali yang dikelola dengan sistem subak. (Sumber: mobgenic.com)

Pada ranah budaya, peminjaman budaya merupakan hal yang umum. Pada bidang kesenian misalnya, ada geguritan Ahmad Muhammad. Kidung ini tidak hanya penting bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat Hindu. Khususnya di Desa Pamogan, Kidung Ahmad
Muhammad merupakan perlengkapan penting pada saat berlangsung upacara melasti dalam rangkaian perayaan Hari Raya Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi.

Umat Hindu di Desa Pamogan membuat sesajen khusus terbuat dari jajanan. Pada saat sesajen dipersembahkan, dinyanyikanlah Kidung Ahmad Muhammad. Setelah itu, sesajen ditutupi dengan kain putih yang dibentuk menyerupai kubah, mengingatkan kita pada kubah masjid. Dalam konteks kehinduan, kubah bisa pula bermakna sebagai alam semesta.

Peminjaman budaya juga terjadi dalam tradisi pemberian nama. Masyarakat Hindu Bali memiliki penanda yang khas dalam hubungannya dengan pemberian nama berdasarkan
urutan kelahiran seseorang. Dari namanya dapat diketahui orang tersebut adalah anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Nama yang digunakan sebagai penanda urutan kelahiran adalah Wayan/Gede/Putu, Nengah, Made, Nyoman dan Ketut. Namun, tak hanya umat Hindu yang menggunakan nama-nama tersebut. Masyarakat Islam di Pegayaman juga menggunakan tradisi penamaan Bali ini.

Kemudian ada tradisi Nyapar yang dilakukan oleh masyarakat muslim di Kabupaten Buleleng, contohnya di Desa Pegayaman. Safar atau Nyapar dilaksanakan setiap tahun hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar (bulan kedua dalam penanggalan Hijriah) pada sore hari. Mereka pergi ke pantai untuk mengaji, berzikir, dan berdoa. Kemudian mereka makan bersama.

Tradisi Nyapar merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas semua rizki dan berdoa memohon keselamatan, juga sebagai kegiatan untuk menolak bala. Umat muslim di Bali, tidak hanya di Pegayaman, masih meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau bulan bencana.

Dalam tradisi Hindu, kegiatan keagamaan yang dilakukan di pinggir pantai adalah upacara melasti.

Upacara Melasti merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi. (Foto: balimediainfo.com)

Pengaruh budaya Hindu juga tampak pada tradisi Maulud Nabi. Saat memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw., umat Islam di Kabupaten Buleleng Bali membuat bale suji yang kemudian diarak terlebih dahulu sebelum diletakkan di dalam masjid. Bale suji ini mengingatkan kita pada ogoh-ogoh yang diarak umat Hindu menjelang Hari Raya Nyepi.

Masih banyak lagi tradisi masyarakat Bali yang menggambarkan keharmonisan umat Hindu dan Muslim, di antaranya tradisi megibung di Karang Asem, adanya banten Selam (sesajen
Islam) dalam upacara Sugihan Jawa, dan upacara Ngusaba Dangsil di Bungaya yang melibatkan Nyama Selam (Islam) pada puncak acaranya.

Eratnya Hubungan Umat Hindu dan Muslim di Pulau Bali
Tradisi Megibung, sebuah potret keharmonisan antarumat beragama di Bali. (Foto: menara-fm.com)

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud ToleransiDimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − seventeen =