Elly D Luthan, Maestro Tari yang Berpijak pada Tradisi

341
Elly D Luthan
Elly D Luthan menampilkan koreografi tari dengan judul Wisik pada pentas Tidak Sekedar Tari di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Rabu (27/6/2012) malam. (Foto: Dwi Prasetya/JIBI/SOLOPOS)

1001indonesia.net – Elly D Luthan dikenal sebagai penari dan koreografer yang berpijak pada tradisi, terutama Jawa klasik. Elly lahir di Makassar, Sulawesi Selatan dari pasangan RS. Hariemurti dan S. Tinie pada 27 Juli 1952. Namun, wanita bernama asli Indah Harie Juliati ini menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama paman dan bibinya di Jember, Jawa Timur.

Manari dan menata tari kemudian lekat dengan kehidupan Elly. Ia memang memiliki darah seni dalam dirinya karena ibunya seorang penyanyi keroncong. Tapi seni menari tidak ia dapatkan dari ibunya.

Elly belajar tari berkat dorongan bibinya. Dibesarkan oleh kedua orangtua angkatnya di Jember, ia akrab dengan berbagai kesenian Jawa, seperti wayang kulit, wayang wong, dan ketoprak. Tokoh wayang kegemarannya kala itu adalah Cakil dan Bima.

Foto: perspektifbaru.com
Foto: perspektifbaru.com

Menjadi juara kelas dari tingkat SD hingga SMP, pemerintah Kabupaten Jember kemudian mengirimnya belajar ke sanggar tari milik Bagong Kussudiardja setiap kali libur panjang.

Namun, Elly kemudian memilih melanjutkan pendidikan ke STM jurusan bangunan karena merasa dirinya tidak terlalu perempuan (tomboi). Cita-citanya waktu itu cukup unik, menjadi tentara.

Gagal meneruskan cita-cita sebagai tentara, ia kemudian pergi ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik Nasional (STTN) di Cikini.

Lokasi STTN yang berdekatan dengan Taman Ismail Marzuki membuat Elly kembali bersinggungan dengan dunia tari. Ia bersahabat dan akhirnya menikah dengan Dedy Luthan, temannya sesama penari. Mereka dikaruniai tiga orang anak. Bersama suaminya, Elly turut mengembangkan Dedy Luthan Dance Company.

Sejak 1970, Elly mengabdikan diri sebagai penari dari para tokoh tari terkemuka Indonesia. Elly sempat memimpin Padepokan Bagong Kussudiardjo cabang Jakarta selama tiga tahun.

Sebagai penata tari, Elly menciptakan banyak karya tari, seperti “Kunti Pinilih”, “Drupadi Mulat”, Tjut Nyak”, dan “Gendari”. Saat ini, pensiunan pegawai negeri di Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Provinsi DKI Jakarta ini dikenal sebagai salah satu koreografer wanita Indonesia terkemuka.

Elly dikenal sebagai koreografer yang sangat intens menggeluti beragam bentuk tari yang berpijak dari tradisi, terutama Jawa klasik. Ia banyak belajar pada para seniman tari tradisi. Meski berpijak pada tari tradisi Jawa, Elly juga terpikat mempelajari tari-tari tradisi dari luar Jawa. Ketertarikan ini tumbuh sejak ia bertemu dan akhirnya menikah dengan Deddy Luthan.

Selain itu, Elly merupakan koreografer yang selalu konsisten berbicara tentang perempuan sampai sekarang. Selama kurun 15 tahun terakhir, ia telah melahirkan beberapa karya tari yang mengangkat masalah perempuan ataupun simbol-simbol perempuan. Ini yang membuat dirinya berbeda dengan koreografer lain.

Meski dikenal sebagai maestro tari, penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi pada 2014 ini tetap tampil sederhana tanpa pernah menonjolkan diri. Dengan tulus, Elly D Luthan membagikan ilmunya pada para penari muda. Ia pun membuka diri pada berbagai komunitas pecinta tradisi yang ingin belajar berkesenian.

Sumber:

  • Mawar Kusuma, “Sang Koreografer Kampung”, Kompas, Minggu, 19 Februari 2017.
  • https://m2indonesia.com/tokoh/sastrawan/elly-d-luthan.htm

LEAVE A REPLY

three × five =