Degung, Gamelan dari Tatar Sunda yang Terancam Punah

88
Degung, Kesenian Musik Tradisional Khas Sunda
Foto: Infobudaya.net

1001indonesia.net – Degung merupakan kesenian musik tradisional khas Sunda, biasanya dimainkan pada acara hajatan. Sayang, saat ini tidak banyak orang yang mengenal kesenian tradisional ini. Seperti banyak kesenian Nusantara lainnya, keberadaan degung kalah pamor dibanding kesenian modern.

Degung sendiri berasal dari kata ngadeg (berdiri) dan agung (megah) atau pangagung (menak; bangsawan). Nama ini menunjukkan fungsi kesenian ini untuk menunjukkan keagungan atau martabat kaum bangsawan. Dulu, gamelan khas Sunda ini hanya dimiliki oleh para pangagung (pembesar).

Pada mulanya, degung merujuk pada instrumen musik berujud 6 gong kecil yang biasanya digantungkan pada kakonco atau rancak/ancak. Alat musik tersebut juga disebut dengan nama bende renteng atau jengglong gayor.

Seiring waktu, istilah degung kemudian digunakan untuk menyebut seperangkat gamelan. Awalnya, gamelan tersebut berlaras degung, tetapi kemudian ditambahkan dengan nada sisipan sehingga berkembang menjadi laras lain, bisa laras  Madenda/Nyorog atau laras mandalungan/Kobongan/Mataraman.

Alat musik ini pernah populer di kalangan masyarakat. Degung digunakan sebagai musik pengiring/pengantar. Instrumen yang digunakan antara lain gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, dan rebab.

Iringan musik degung selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional. Degung juga digunakan sebagai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.

Kesenian degung mengalami perkembangan pesat pada era 1950-an sampai 1960-an. Masa itu bisa dibilang merupakan masa keemasan degung. Diciptakanlah berbagai kreasi kesenian degung. Musik tradisional ini juga hadir hampir di setiap acara perayaan masyarakat Sunda.

Ketika itu muncul seniman Sunda yang berperan besar dalam mengembangkan seni degung, yaitu Raden Arya Adipati Wiranatakusuma ke-5 yang menjabat sebagai Bupati Bandung. Lalu muncul juga tokoh-tokoh populer, seperti Encar Carmedi, Djuju Sain dan lainnya dengan lagu yang ditampilkan berjudul Pajajaran, Galatik Manggut, Bima Mobos.

Di era 1980-1990, seni degung berkembang menjadi degung kawih. Seniman degung terpopuler pada era ini adalah Nani Suratno. Sampai kini, karya-karyanya masih diperdengarkan dan dimainkan.

Seiring berkembangnya musik modern, popularitas seni degung mengalami penurunan. Kini bahkan sulit menemukan generasi muda yang mau menekuni seni degung. Kesenian ini juga semakin terpinggirkan. Degung semakin jarang ditampilkan di panggung rakyat karena kalah pamor dengan pertunjukan musik modern.

Meski kurang populer di tanah kelahirannya sendiri, beberapa perguruan tinggi seni dan musisi di luar Indonesia justru mengembangkan musik tradisional ini. Di antaranya Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santa Cruz, USA), musisi Paraguna (Jepang), serta Evergreen, John Sidal (Kanada).

Di Melbourne, Australia, ada satu set gamelan degung milik University of Melbourne yang sering digunakan sebuah komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan di festival-festival.

Sudah selayaknya, kekayaan kesenian tradisional ini dijaga jangan sampai punah. Beberapa upaya bisa dilakukan, seperti mengembangkannya atau memadu-padankannya dengan alat musik lainnya. Hal ini sudah dilakukan oleh beragam alat musik tradisional Nusantara lainnya. Dengan cara ini, degung mampu menyesuaikan diri dan bertahan dalam gempuran budaya modern.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + nine =