Debus, Atraksi Kesenian Bela Diri Ekstrem dari Daerah Banten

120
debus
Foto: www.indonesia.travel

1001indonesia.net – Debus merupakan pertunjukan kesaktian khas Banten yang mengandalkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam dan panasnya api. Kesenian tradisional ini sudah dipraktikkan sejak abad ke-16, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532–1570).

Pada awalnya, Sultan Maulana Hasanuddin menggunakan Debus sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam. Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1692), permainan ini menjadi sarana untuk memompa semangat juang rakyat Banten melawan VOC. Saat ini, permainan Debus menjadi sebuah seni pertunjukan yang digelar untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Bagi sebagian masyarakat awam, kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrem dan berbahaya. Kesenian ini mempertunjukkan gerakan silat dengan penggunaan senjata. Para pemain memamerkan kekebalan tubuh mereka terhadap senjata tajam.

Sejarah

Istilah debus sendiri sampai saat ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Ada yang berpendapat bahwa istilah debus berasal dari bahasa Arab Dabbas yang berarti sepotong besi yang runcing yang dianalogikan dengan jarum. Ada juga yang berpendapat istilah debus berasal dari bahasa Persia, yang dalam bahasa Indonesia berarti tusukan.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa debus berasal dari kata “tembus”. Hal ini dapat dilihat dari alat yang digunakan dalam permainan Debus, yaitu benda tajam yang apabila ditusukkan ke tubuh akan dipastikan tembus karena ketajamannya. Namun, berkat kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemain debus, alat tersebut tidak dapat menembus tubuhnya, bahkan tidak dapat melukainya sedikit pun.

Dilihat dari sejarahnya, kesenian tradisional debus Banten bersumber dari ajaran beberapa tarekat. Hal ini terlihat dari latar belakang Sultan Hasanuddin sendiri, yakni sebagai orang
yang pertama yang memperkenalkan kesenian tersebut dan juga termasuk penganut ajaran beberapa tarekat.

Tarekat-tarekat yang diperkirakan memengaruhi secara kuat terhadap kesenian
debus tersebut adalah tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, Syadziliyah, dan Naqsyabandiyah. Hal tersebut dapat dilihat dari silsilah, ritual, hizib, dan bacaan-bacaan wirid atau zikir yang dibacakan pada setiap pertunjukan serta tata cara mempelajari kesenian debus Banten.

Di awal kemunculannya, permainan ini tidak bisa dipraktikkan oleh sembarang orang. Yang dapat melakukan praktik debus hanya orang yang sudah taat betul dengan ajaran-ajaran agama. Apabila orang yang belum taat dalam mengamalkan ajaran agama melakukan hal semacam debus ini, maka senjata tajam yang digunakan bisa melukai tubuhnya.

Praktik kekebalan sendiri sudah ada sebelum masuknya Islam. Banyak orang yang berpendapat bahwa pesatnya perkembangan Islam melalui jalur tarekat pada masa-masa awal di Nusantara disebabkan karena ajarannya yang dekat dengan budaya masyarakat Nusantara.

Waktu itu, banyak orang masuk tarekat bukan karena untuk meningkatkan kesadaran spiritual mereka dengan mensucikan jiwanya, tetapi karena mengharapkan mendapat ngelmu atau kesaktian dan kedigdayaan.

Unsur lokal

Meski bersumber dari tarekat, kesenian ini juga mendapat pengaruh dari tradisi lokal, seperti jangjawokan, silat, dan musik pengiring.

Jangjawokan merupakan bacaan-bacaan yang dipercayai memiliki kekuatan luar biasa apa bila diamalkan dengan penuh kesungguhan dan diikuti segala ketentuannya. Berbeda dengan wirid yang berbahasa Arab, jangjawokan mempergunakan bahasa Jawa atau Sunda.

Adapun permainan silat dalam pertunjukan Debus adalah sesuatu yang baru ditambahkan kemudian. Sebelumnya, Debus tidak diiringi dengan permainan silat, tetapi suatu tarian yang tampaknya tidak disiapkan secara khusus.

Permainan silat dalam pementasan debus akhir-akhir ini merupakan upaya penggabungan dengan permainan Debus yang asli. Apalagi sekarang ini ada kecenderungan kuat bahwa pemain Debus itu bukan mereka yang pada awalnya mempelajari tarekat, tetapi mereka
yang semenjak awal sudah tertarik pada ilmu persilatan, terutama dari kelompok para jawara.

Unsur lokal yang ketiga adalah musik pengiring yang disebut waditra. Musik ini berfungsi untuk atraksi permainan. Alunan musik biasanya disesuaikan dengan atraksi yang sedang
berlangsung. Jumlah pemain musik ini sekitar lima orang, sesuai dengan alat-alat musik yang dipergunakan saat pertunjukan berlangsung, yakni yang berasal peralatan musik tradisional Banten.

Peralatan musik yang sering dipakai untuk mengiringi atraksi sebagai berikut:

  1. Sebuah gendang yang berfungsi sebagai pengiring gerak tari. Alat musik ini memiliki dua buah wajah yang bisa dipergunakan keduanya. Bagian depan dari alat musik ini memiliki garis tengah antara 20–25 cm, sedangkan bagian belakangnya memiliki garis tengah sekitar 15 cm. Panjang gendang sekitar 50 cm.
  2. Dua buah kulantar (gendang kecil) yang berfungsi sebagai pelengkap gendang.
  3. Sebuah terbang/rebana besar yang berfungsi sebagai gong. Terbang ini terbuat dari kayu dan kulit besar yang bagian depannya bergaris tengah 60 cm, sedangkan bagian belakangnya berukuran sekitar 40 cm, dengan ketebalan sekitar 20 cm.
  4. Dua buah tingtit/dogdog kecil yang terbuat dari kayu dan kulit kerbau. Alat musik ini memiliki garis tengah bagian depan sekitar 15 cm.
  5. Satu buah kecrek yang berfungsi sebagai pelengkap dan pengatur dalam setiap gerakan pemain. Kecrek biasanya terbuat dari beberapa keping logam atau perunggu pipih yang berbentuk lingkaran kecil.

Kesenian Debus masih bertahan sampai saat ini. Meski demikian, seperti nasib banyak kesenian tradisional lainnya, seni pertunjukan tradisional yang sudah diakui PBB sebagai kesenian asli Banten ini semakin jarang dijumpai.

*) Diolah dari berbagai sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − seventeen =