Dambus, Alat Musik Petik Khas Bangka Belitung

304
Dambus
Dambus (Foto: pinterest.com)

1001indonesia.net – Dambus adalah alat musik petik khas Kepulauan Bangka Belitung. Alat musik tradisional ini sampai sekarang masih dimainkan. Bentuknya yang mengambil inspirasi dari kepala rusa mencerminkan kedekatan masyarakat Babel dengan alam sekitar. Bentuk ini pula yang menegaskan bahwa alat musik ini merupakan karya asli masyarakat Bangka Belitung.

Ada sebagian sumber yang menyebut, lahirnya alat musik tradisional ini karena pengaruh dari alat musik Timur Tengah bernama oud gambus atau yang populer disebut gitar gambus. Sebagian sumber lain menyebut, dambus sesungguhnya merupakan produk budaya asli masyarakat Babel.

Sebuah buku tua berjudul Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden terbitan tahun 1852 menyebutkan bahwa di rumah tradisional orang Bangka biasanya terdapat alat musik senar yang digantungkan di beranda. Franz Epp, seorang peneliti dari Jerman yang menulis buku tersebut, menemukan fakta itu ketika ia berkunjung ke rumah-rumah tradisional Bangka pada 1830-an untuk melakukan penelitian.

Franz mendeskripsikan alat musik tersebut terbuat dari kayu keras tapi ringan. Di bagian perut alat musik itu terdapat lubang yang ditutup dengan kulit monyet. Apa yang dilihat oleh Franz itu kemungkinan adalah alat musik yang sekarang disebut dambus.

Bisa dimengerti jika penamaan dambus terpengaruh dari alat musik Arab dengan iramanya yang disebut gambus. Namun, bentuk fisik dan cara memainkan alat musik petik khas Babel ini rasanya tidak menyerap unsur-unsur gambus. Jadi, hanya namanya saja yang diserap.

Beberapa sumber menyebut gitar khas Bangka ini dulu bernama alat musik petik senar. Ketika masuk Islam, diseraplah nama gambus menjadi dambus. Selebihnya, dambus sangat khas Bangka. Hal ini tampak jelas dari bentuknya yang merepresentasikan satwa rusa atau kijang.

Rusa atau kijang merupakan hewan penting dalam kehidupan masyarakat Bangka. Hal itu tampak dalam tradisi Nganggung. Pada tradisi itu, daging rusa atau kijang merupakan makanan yang paling istimewa.

Nganggung adalah tradisi membawa makanan di dulang (nampan) untuk disantap bersama di surau atau masjid. Biasanya, tradisi makan bersama ini diadakan saat hari besar agama Islam, saat ada pesta adat, maupun untuk menyambut tamu-tamu penting.

Baca juga: Nganggung, Semangat Kebersamaan Masyarakat Bangka Belitung

Untuk menangkap rusa atau kijang, diperlukan ritual khusus. Sebelum berburu, kelompok pemburu (belapun atau berasuk) harus meminta dulu izin kepada dukun hutan. Pembagian rusa atau kijang hasil buruan pun harus dilakukan secara adil dan merata, tidak boleh ada satu pun yang terlewat.

Bentuk kijang atau rusa juga berkaitan dengan harapan. Orang-orang di zaman dulu susah menangkap hewan ini karena gerakannya sangat cekatan. Kepala rusa kemudian diambil sebagai bentuk dambus dengan harapan agar anak-cucunya cekatan saat mereka memainkan alat musik ini.

Kecekatan tangan dalam memainkan dambus memang amat penting karena alat musik ini tidak memiliki petak nada layaknya gitar. Karena itu, tingkat kesulitan memainkannya sangat tinggi. Pemain hanya mengandalkan rasa. Itu sebabnya, jam terbang tinggi dibutuhkan agar makin piawai dalam memetik dawai dambus.

Dambus
Foto: KOMPAS/PRIYOMBODO

Bentuk dambus yang merepresentasikan kepala rusa atau kijang tersebut juga menegaskan bahwa alat musik ini khas Bangka. Sebab, dalam Islam, bentuk alat musik tidak boleh menampakkan sesuatu karena akan menyerupai berhala.

Bagi masyarakat Bangka, dambus juga tak sekadar alat musik, tapi memiliki nilai tinggi. Pembuatannya tak sembarang, harus melalui proses ritual. Bahan yang digunakannya pun mengikuti aturan tertentu.

Dahulu, untuk membuat kayu pemutar kunci nadanya, masing-masing bahannya berasal dari enam jenis kayu berbeda, yang diambil dari enam hutan yang berbeda pula. Hutan-hutan tersebut masing-masing dipisahkan oleh sungai kecil. Sementara pemetiknya menggunakan gigi harimau.

Biasanya alat musik ini diberi jimat agar suara yang keluar dari dambus membuat rindu atau menjerat hati pendengarnya. Caranya dengan mengasapi dambus menggunakan kemenyan, lalu diberi mantra.

Begitu juga dengan para pemain dambus. Ada sejumlah ritual, bentuknya bisa berbeda-beda. Hal itu dilakukan oleh para pemain dambus agar penonton atau pendengar terpikat alunan dambus yang mereka mainkan sehingga mereka akan selalu rindu untuk mendengar kembali alunan musik ini.

Seiring perkembangan zaman, kemat dan ritual-ritual semacam itu sudah banyak ditinggalkan. Begitu juga dengan material dambus berupa enam jenis kayu dari enam hutan berbeda.

Saat ini, dambus umumnya terbuat dari kayu nangka, kayu ludai, kayu pulai, dan lain sebagainya. Di Belitung, dambus yang disebut juga gambus, sebagian bahkan dibuat dari kayu-kayu limbah atau kayu-kayu sisa.

Dambus umumnya dimainkan sebagai hiburan, misalnya pada upacara ngembaruk atau panen padi pertama saat bulan purnama. Selain ditampilkan secara tunggal, dambus juga ditampilkan bersama alat musik lain berupa gendang induk, gendang anak, tawak-tawak, dan gong, juga bersama tarian yang disebut dincak dambus.

Sebelum Islam masuk Bangka di abad ke-16, dambus diyakini menjadi sarana hiburan dan pergaulan muda mudi. Namun setelah Islam masuk, selain berfungsi sebagai hiburan dan sarana pergaulan muda-mudi, dambus juga digunakan untuk syiar agama. Petuah, ajaran, larangan, dan nasihat diselipkan dalam syair lagu yang berbentuk pantun yang dinyanyikan oleh pemain dambus.

Salah satu syair lagu dambus yang sangat dikenal setelah era masuknya Islam adalah “Abu Samah”. Sebelum Islam masuk, ada “Aliun”, “Hantu Berayun”, dan “Ancok Ati”. Syair-syair lawas itu sampai sekarang masih dimainkan.

Sampai akhir tahun 1990-an, musik tradisional ini masih populer. Dambus dimainkan di panggung-panggung hajatan yang berhubungan dengan upacara daur hidup, seperti cukur rambut, sunatan hingga perkawinan, juga di acara seperti taber (ruwatan) kampung dan sedekah rumah. Tak jarang, pemain dambus bahkan menjadi idola masyarakat.

Seperti nasib kesenian tradisional di Tanah Air lainnya, seiring perkembangan zaman, tak banyak lagi yang tertarik menekuni dambus. Saat ini, pemain dambus umumnya adalah orang-orang tua yang usianya sudah di atas 50-an tahun.

Di berbagai panggung perhelatan, posisi alat musik tradisional ini semakin tergeser oleh organ tunggal, yang dinilai jauh lebih menarik dan kekinian ketimbang dambus.

Dengan kondisi seperti itu, upaya pewarisan alat musik tradisional ini kepada generasi muda menghadapi tantangan besar. Padahal, sejak tahun 2003, dambus sebenarnya telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Beruntung, di tengah berbagai persoalan lambatnya regenerasi karena labelnya yang dianggap kuno dan tidak modern, sejumlah terobosan terus dilakukan meski hanya oleh segelintir orang.

Kini, gitar khas Kepulauan Bangka Belitung ini dipertunjukkan dalam kemasan yang lebih modern. Alat musik tradisional ini digabungkan dengan alat-alat musik lain, seperti kibor, biola, dan gitar. Selain itu, dibuat komposisi musik baru dengan tetap memosisikan dambus sebagai instrumen utama. Sambutannya cukup positif.

Sumber: Setianingsih, AS Dwi dan Wisnu Dewabrata, “Dambus Sang Pemanggil Rindu”, https://interaktif.kompas.id/musik_dambus 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − 3 =