Candi Kalasan, Simbol Kerukunan Umat Beragama di Masa Lampau

718
Candi Kalasan
Candi Kalasan merupakan candi Buddha yang dibangun oleh Rakai Penangkaran yang beragama Hindu Siwa. Bangunan ini menjadi simbol upaya menjalin kerukunan antaragama di masa silam. (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

1001indonesia.net – Candi Kalasan merupakan candi Buddha yang didirikan sebagai tempat untuk memuja Dewi Tara. Selesai dibangun pada 778 M oleh Rakai Panangkaran dari Wanga Sanjaya, candi yang terletak di daerah Kalasan ini menjadi candi Buddha tertua di wilayah Yogyakarta.

Candi Kalasan atau Candi Tara dibangun sebagai hadiah bagi perkawinan Pancapana dari Wangsa Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari Wangsa Syailendra. Kedua wangsa yang bersama-sama memerintah Kerajaan Mataran Kuno atau Kerajaan Medang periode Jawa Tengah tersebut memiliki keyakinan yang berbeda.  Wangsa Sanjaya beragama Hindu aliran Siwa, sementara Wangsa Syailendra beragama Buddha.

Dengan demikian, Candi Kalasan dibangun oleh Rakai Panangkaran yang beragama Hindu Siwa untuk persembahyangan umat Buddha. Bangunan ini menjadi bukti bahwa di masa lalu telah ada upaya untuk menjalin kehidupan yang harmonis antaragama.

Keterangan mengenai Candi Kalasan dimuat dalam Prasasti Kalasan yang ditulis pada tahun Saka 700 (778 M). Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan huruf prenagari.

[Baca juga: Aksara Nusantara, Kekayaan Tradisi Tulisan Bangsa Indonesia]

Dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha.

Menurut prasasti Raja Balitung (907 M), yang dimaksud dengan Tejapurnama Panangkarana adalah Rakai Panangkaran, putra Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Hindu.

Diperkirakan bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk memuja Dewi Tara adalah Candi Kalasan, sementara biara bagi para pendeta Buddha adalah Candi Sari yang letaknya tak jauh dari Candi Kalasan.

Keistimewaan Candi Kalasan adalah pahatan reliefnya yang sangat halus dan indah. Keistimewaan lainnya adalah digunakannya bajralepa (vajralepa) yang melapisi bagian luar candi terutama pada reliefnya. Bajralepa merupakan sejenis semen kuno yang terbuat dari getah pohon sebagai pengawet batu supaya tidak aus. Bajralepa juga digunakan di Candi Sari yang letaknya sekitar 300 meter dari Candi Kalasan.

Foto: Tiwuk Suwantini/kfk.kompas.com
Foto: Tiwuk Suwantini/kfk.kompas.com

Candi Kalasan memiliki tinggi 34 meter, panjang 45 meter, dan lebar 45 meter. Di pojok timur candi terdapat sumur yang airnya dipercaya umat Buddha sebagai tirta suci. Tirta ini digunakan untuk perbersihan diri dan diyakini dapat mengusir bencana

Konon katanya, Candi Kalasan menjadi salah satu bangunan suci yang menginspirasi Atisha, seorang Buddhis asal India yang pernah mengunjungi Borobudur dan menyebarkan agama Buddha di Tibet.

Bangunan kuno ini telah dipugar pada 1927 dan 1929. Meski demikian, banyak bagian candi yang hilang membuat kita sulit untuk membayangkan keindahan candi seutuhnya.

Candi Kalasan terletak di Desa Kalibening, Tirtamani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya sekitar 16 km ke arah timur dari kota Yogyakarta. Sesuai dengan lokasi desa di mana bangunan ini berdiri, Candi Kalasan disebut juga dengan Candi Kalibening.

Sampai sekarang, tempat pemujaan ini masih digunakan untuk acara ritual umat Buddha, seperti perayaan Waisak, Asadha, Khatina, dan Maghapuja.

Sumber:

  • Gagas Ulung, Wisata Ziarah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.
  • http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_kalasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 16 =