Butet Manurung dan Sokola Rimba, Pendidikan bagi Suku Pedalaman

1056
Butet Manurung dan Sokola Rimba, Pendidikan bagi Suku Pedalaman
Butet Manurung (Foto: hipwee.com)

1001indonesia.net – Bernama asli Saur Marlina Manurung, tapi lebih dikenal sebagai Butet Manurung. Ia merupakan perempuan tangguh yang mendedikasikan hidupnya menjadi guru bagi suku Anak Dalam.

Atas dedikasinya sebagai perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat pedalaman di Indonesia, pada 2014 Butet memperoleh penghargaan nobel versi Asia, Ramon Magsaysay Award. Sebelumnya, pada 2013, Miles Production mengangkat buku yang ia tulis, Sokola Rimba, dalam sebuah film yang disutradarai oleh Riri Riza.

Dilahirkan di Jakarta pada 21 Februari 1972, sejak kecil Butet sudah mencintai petualangan di alam bebas. Berangkat dari kecintaan tersebut, ia kemudian masuk Warung Informasi Konservasi (WARSI), sebuah lembaga swadaya yang peduli terhadap masalah konservasi hutan di Sumatra. Dari komunitas ini, ia kemudian masuk ke hutan belantara untuk mengembangkan pendidikan bagi orang rimba yang tinggal di pedalaman hutan tropis Bukit 12, Jambi.

Awalnya, tidak mudah bagi Butet Manurung untuk mengembangkan pendidikan bagi orang rimba. Bagi orang-orang yang tinggal di pedalaman hutan ini, orang terang (istilah mereka untuk para pendatang) sangat mungkin menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu, mereka butuh diyakinkan bahwa pendatang tersebut benar-benar sehat sebelum mereka bisa menerimanya.

Selain itu, orang rimba selalu memandang dengan curiga orang luar yang datang menawarkan bantuan pada mereka. Bagi mereka, orang luar yang datang ke tempat mereka pasti karena menginginkan sesuatu. Oleh karena itu, mereka sulit percaya bahwa Butet dan teman-temannya murni datang untuk memberikan pendidikan. Walhasil, selama berbulan-bulan, Butet berputar keluar masuk hutan karena terus-menerus ditolak.

Butuh waktu 7 bulan bagi Butet Manurung untuk bisa diterima sebagai teman oleh orang rimba tersebut. Sejak kedatangannya di rimba Jambi pada 24 September 1999, baru pada 22 April 2000 untuk pertama kalinya anak-anak orang rimba meminta bersekolah. Sejak itu, ia bersama teman-temannya mengembangkan suatu pendidikan alternatif bagi orang rimba.

Ia kemudian mendirikan Sokola Rimba pada 2003, dengan slogan “Pendidikan untuk masyarakat adat.” Sebuah sekolah tak berdinding dan nomaden di belantara hutan tropis Jambi. Di sekolah ini, Butet menerapkan metode olahannya sendiri yang ia sebut sebagai metode silabel.

Proses belajar mengajar yang ia lakukan tidak jarang mendapat rintangan. Masyarakat Suku Anak Dalam masih beranggapan bahwa ilmu dari luar yang diajarkan Butet bisa membawa malapetaka. Namun, Butet tetap gigih mengajar dan berusaha dengan keras meyakinkan mereka akan pentingnya pendidikan.

Dalam pikiran Butet adalah wajar orang rimba curiga dengan apa yang datang dari luar komunitas mereka. Rasa curiga tersebut disebabkan karena orang rimba merasa tertekan oleh orang luar yang menilai mereka primitif dan bodoh karena hidup di hutan. Padahal mereka merasa nyaman dengan hidup seperti itu. Terlebih, banyak orang luar yang melakukan penipuan kepada mereka, juga pencurian kayu atas nama organisasi yang tidak mereka mengerti.

Namun, hal ini justru lebih meyakinkan Butet bahwa memang orang-orang ini membutuhkan pendidikan. Dengan pendidikan, mereka lebih bisa berinteraksi, tidak mudah ditipu, dan mampu menjaga hutan mereka dari gangguan orang-orang luar.

Setelah mendapat pendidikan dasar dari Butet, orang rimba yang menjadi komunitas didiknya mulai memahami dan mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan orang luar yang datang ke tempat mereka. Mereka juga sudah bisa menghitung dan membaca, termasuk tahu kepada pihak mana mereka bisa mengadukan perilaku individu atau organisasi yang melakukan pembalakan liar, pencurian kayu, dan tindakan kriminal lainnya.

Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Butet di komunitas tersebut telah banyak membantu mereka untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan mereka.

Setelah berhasil mengembangkan Sokola Rimba di Jambi, Butet berpikir untuk lebih mengembangkan yayasan pendidikan alternatif yang dapat menjangkau komunitas-komunitas adat di Indonesia yang belum terjamah oleh pendidikan formal. Yayasan itu namanya adalah Yayasan Sokola.

Ia pun mengganti slogan Sokola Rimba menjadi “Sokola literasi dan advokasi untuk komunitas adat di Indonesia.” Jika dulu Sokola Rimba mengajarkan semua keahlian dasar pada masyarakat adat dan berusaha untuk menyelesaikan semua masalah, saat ini kegiatannya lebih berfokus pada pendidikan advokasi dan literasi agar masyarakat adat dapat mandiri dan berdaya menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Saat ini, yayasan ini telah merambah ke berbagai pelosok tanah air, bahkan sampai Papua. Metode belajar yang ia terapkan masih sama, yaitu metode silabel. Melalui Yayasan Sokola, Butet telah banyak merekrut orang-orang yang mau diajak menjadi relawan pengajar. Butet sungguh-sungguh mau mengembangkan Yayasan Sokola menjadi salah satu “kurikulum” alternatif yang terkait dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat setempat.

LEAVE A REPLY

six − one =