Bengkel Teater Rendra

2286
WS Rendra, pendiri Bengkel Teater.

1001indonesia.net – Bengkel Teater didirikan oleh Willibrordus Surendra Brata atau Rendra (1935-2009). Pertama berdiri di Yogyakarta pada 1967. Kelompok ini giat berteater hingga Rendra pindah ke Jakarta lalu ke Depok pada 1970-an. Bengkel Teater memiliki pengaruh yang kuat pada perkembangan dunia teater di Indonesia.

Rendra, sang pendiri, dikenang sebagai seorang maestro yang memiliki tempat yang terhormat di dunia teater Indonesia. Dalam karya-karyanya terkandung pemahaman yang mendalam mengenai tindak kesewenang-wenangan Orde Baru.

Untuk melawan kesewenang-wenangan tersebut, Rendra membentuk suatu budaya tandingan: urakan. Tindakan ini jelas tidak disukai oleh penguasa. Sebab itu, sejak 1975, pementasan Rendra dipersulit.

Seperti umumnya seniman masa 1950-60-an, karya pertama Rendra berciri realistik. Realisme konvensional berlanjut hingga ia kembali dari studi selama tiga tahun di Amerika, juga ketika ia bereksperimen dengan Teater Mini Kata.

Rendra kemudian mendirikan Bengkel Teater di Yogya.  Di Bengkel Teater, ia menggelar karya seperti Perjuangan Suku Naga, dan karya gubahan dari Oedipus the King, Antigone, dan Lysistrata dalam gaya yang bersumber pada Bertold Brecht.

Bengkel Teater sering menyajikan permasalahan sosial dan politik dalam setting yang tidak terduga. Oleh karenanya, kelompok ini segera menjadi sangat terkenal di Indonesia dan dianggap memberi suasana baru dalam dunia teater Indonesia. Namun, karena ini pula, mereka mendapatkan tekanan dari penguasa.

Sejak 1977, pertunjukan Bengkel Teater dipersulit. Tak pelak, keadaan ini membuat Bengkel Teater Yogya sukar bertahan. Untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya, Rendra hijrah ke Jakarta, lalu ke Depok.

Di Depok, ia mendirikan Bengkel Teater Rendra. Selama tahun 1980-an pementasannya semakin berkiblat pada Brecht melalui Panembahan Reso. Di sisi lain, dalam pementasan Selamatan Cucu Sulaeman, ia menekankan daya tarik yang lebih dramatik terhadap pancaindra, mirip dengan pendekatan Antonin Artaud.

Kedua bengkel yang didirikan Rendra memiliki pengaruh yang kuat dalam dunia teater di Indonesia. Beberapa seniman terkemuka lahir darinya. Pada 1990-an, Teater Rendra surut karena alasan ekonomi dan politik. Namun demikian, teaternya di Depok masih menjadi pusat usaha teatrikal dan artistik.

Sang maestro teater meninggal pada 2009, mewariskan ribuan karya sastra serta kompleks Bengkel Teater seluas 3 hektare di daerah Cipayung, Depok. Kompleks yang memiliki beragam fasilitas ini mulai dibangun setelah Rendra dan Bengkel Teaternya sukses menggelar Panembahan Reso di beberapa tempat di Eropa dan di Istora Senayan pada 1986.

Sampai saat ini, Bengkel Teater tetap aktif di bawah pimpinan Ken Zuraida, istri Rendra. Para anggotanya tetap bergiat, meneruskan apa yang sudah dirintis Rendra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 3 =