Belajar dari Kerukunan Antarumat Beragama di Bali

173
Ilustrasi Belajar dari Kerukunan Antarumat Beragama di Bali
Masjid Agung Ibnu Batutah dan Gereja Katolik Maria Segala Bangsa di Kompleks Puja Mandala, Nusa Dua, Bali menjadi saksi kerukunan antarumat beragama di Bali. (Foto: KHOMAINI).

1001indonesia.net – Bali layak dijuluki sebagai “Surga Dunia Terakhir”, bukan hanya alamnya yang sangat indah, tapi juga keindahan budayanya yang sangat memukau dan keramahan penduduknya. Di sana, budaya dan agama terjalin erat, mewarnai kehidupan masyarakatnya.

Meski mayoritas masyarakat Bali adalah umat Hindu, sejatinya pulau itu dihuni oleh masyarakat multi-agama dan multikultur. Selain umat Hindu, ada juga penganut agama lain yang tinggal di sana, seperti penganut Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu.

Sebagian masyarakat non-Hindu adalah para pendatang. Sebagian lain, merupakan penduduk Bali asli, terutama yang tinggal di perkampungan-perkampungan Islam di Bali. Kampung-kampung Islam ini sudah ada di Bali sejak ratusan tahun lalu.

Belum lagi para wisatawan asing yang datang ke Bali. Sebagai salah satu pusat wisata dunia, Bali dikunjungi oleh orang-orang dari banyak negara. Sebagian dari mereka bahkan ada yang memilih untuk menetap di Bali. Hal ini membuat Bali dihuni oleh masyarakat yang benar-benar multikultur.

Dalam keragaman agama dan budaya tersebut, kita mendapati orang Bali tetap mampu memegang keyakinannya sekaligus memiliki nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Kerukunan antarumat beragama di Bali yang tetap terjaga selama ini menjadi bukti bagaimana kuatnya nilai persaudaaraan di antara masyarakat Bali.

Bom Bali

Kerukunan antarumat beragama di Bali sempat mendapat ujian ketika ledakan bom mengguncang Bali pada 2002 dan 2005. Namun, peristiwa tersebut tidak menggoyahkan rasa persaudaraan masyarakat Bali.

Masyarakat Bali memang frustrasi dengan bom yang bukan hanya mengakibatkan korban manusia, tapi juga membuat perekonomian Bali yang banyak bersandar pada sektor pariwisata melesu. Berlalu sudah masa-masa jaya pariwisata Bali yang mendatangkan banyak sekali dolar.

Keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Bali yang multikultur juga sempat terganggu. Kecurigaan mayoritas masyarakat Bali yang beragama Hindu terhadap umat Muslim terjadi dikarenakan para pelaku bom memang membawa nama Islam dalam aksinya.

Namun, kekerasan tidak merembet ke mana-mana. Orang Bali tidak melakukan sesuatu sebagai balasan, seperti banyak yang terjadi di daerah lain di Indonesia. Bukannya  mencari-cari siapa yang salah, pertama-tama yang dilakukan masyarakat Bali adalah menggelar upacara suci untuk menghilangkan kekotoran yang membuat jagat tidak seimbang, mengembalikan ke posisinya semula.

Sebenarnya, sejarah Bali bukannya tanpa kekerasan. Bali pernah mengalami ketegangan politik. Pasca-Indonesia merdeka, di Bali seperti juga di daerah lain, muncul beragam
partai politik yang kerap bertabrakan. Situasi ini kemudian memuncak pada pertengahan 1960-an.

Saat itu, terjadi pembantaian massal atas ratusan ribu tertuduh komunis tanpa melalui pengadilan yang jelas. Bahkan, bagi orang Bali sendiri, peristiwa ini menjadi tanda tanya besar. Mereka menikam sesama orang Bali. Padahal, orang Bali dikenal sangat religius, santun, bersahaja, dan begitu teguh memegang ajaran mereka yang mengutamakan keharmonisan dan keselarasan.

Namun, selama ratusan tahun, Bali membuktikan diri mampu mengelola perbedaan. Sampai saat ini, hubungan antarumat agama terjadi dengan harmonis tanpa ada yang merasa terpinggirkan.

Keragaman bukannya tidak menimbulkan masalah dan gesekan, terutama jika terjadi dua
peribadatan dari agama yang berbeda saling berbenturan, misal hari raya Nyepi yang jatuh pada hari Jumat atau tepat pada hari Lebaran. Masyarakat Bali mampu menyelesaikan persoalan ini dengan dialog sehingga dua peribadatan dapat tetap berlangsung dengan lancar.

Kearifan lokal yang dimilikinya membuat Bali mampu merawat keharmonisan dalam masyarakatnya yang multikultur. Ajaran Hindu Bali menekankan keselarasan baik dalam
hubungan dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia, maupun dengan alam. Bali sendiri identik dengan Hindu. Ajarannya meresapi segala aspek kehidupan dan menjadi etos masyarakat Bali.

Alhasil, mereka mampu mengintegrasikan masyarakatnya yang berbeda latar belakang budaya dan agama. Ini terjadi terutama dalam relasi antara penganut Hindu dengan masyarakat Muslim. Kedua agama ini banyak memiliki ritual yang bertentangan yang
sangat mungkin menyebabkan konflik. Namun, masyarakat Bali dengan kearifan lokalnya terbukti mampu menyelesaikan setiap masalah dengan jalan damai.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud ToleransiDimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + 5 =