Bau Nyale, Tradisi Maritim dari Nusa Tenggara Barat

946
Tradisi Bau Nyale
Perayaan tradisi Bau Nyale di Pantai Seger, Pujut, Lombok Tengah, NTB, yang dipadati oleh ribuan warga. (Foto: KOMPAS.COM/KARNIA SEPTIA)

1001indonesia.net – Tradisi Bau Nyale merupakan bagian dari kebudayaan maritim di wilayah Nusa Tenggara Barat. Konon tradisi ini berasal dari kisah mengharu-biru tentang pengorbanan seorang putri demi keselamatan kerajaan beserta seluruh rakyatnya dari ancaman para pangeran yang memperebutkannya.

Asal Muasal

Dikisahkan pada zaman dahulu di Pulau Lombok bagian selatan terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Negeri ini dipimpin oleh Raja Tonjang Beru dengan permaisuri Dewi Seranting. Sang Raja terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya.

Sang raja mempunyai seorang putri yang sangat elok parasnya serta baik budinya bernama Putri Mandalika. Kecantikan Sang Putri menarik para pemuda dari berbagai negeri datang untuk melamarnya. Namun, Sang Putri menolaknya.

Penolakan Sang Putri membuat Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Meliawang sangat murka. Mereka mengirim berdua mengirim senggeger (mantra pemikat) kepada Sang Putri secara bersamaan. Mantra pemikat yang dikirimkan dua pangeran tersebut membuat Putri Mandalika tak bisa makan dan tidur. Seluruh rakyat Tonjang Beru berduka melihat penderitaan Sang Putri yang tubuhnya menjadi kurus kering.

Penolakan Sang Putri terhadap semua lamaran yang ditujukan padanya bukan tanpa alasan. Sang Putri sadar, manakala ia menjatuhkan pilihan pada salah satu lamaran, maka para pangeran lain akan marah. Hal ini akan menimbulkan bencana pada Kerajaan Tonjang Beru.

Mendapat masalah yang berdampak pada nasib seluruh kerajaan, Sang Putri bersemadi. Ia memohon petunjuk Sang Kuasa. Dalam semadinya, Sang Putri menerima pesan gaib untuk mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak di pantai Seger, Kuta, yang terletak di bagian selatan Pulau Lombok.

Pertemuan itu diadakan pagi-pagi buta menjelang azan subuh. Para pangeran harus disertai seluruh rakyat masing-masing. Ada 6 pangeran beserta rakyatnya yang menerima undangan tersebut. Akibatnya, massa menyemut di pantai Seger.

Kemudian, dengan membelakangi laut lepas dan berdiri di atas batu, Sang Putri melihat seluruh tamu undangan. Dengan ketetapan hati dan suara lantang, ia berujar,

“Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu di antara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale di permukaan laut.”

Semua orang yang mendengarkan tidak mengerti maksud Sang Putri. Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata tersebut, Sang Putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan meloncat ke dalam laut lepas disertai angin kencang, kilat, dan petir yang menggelegar. Ia masuk ke dalam dahsyatnya ombak yang menggulungnya tanpa bekas.

Semua orang terhenyak melihat peristiwa yang terjadi. Kemudian muncullah binatang kecil berbentuk cacing laut yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai nyale. Binatang-binatang kecil itu dipercaya sebagai jelmaan Sang Putri. Rakyat Tonjang Beru kemudian berlomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai tanda rasa cinta kasih mereka pada Sang Putri.

Menjadi Tradisi

Sejak itu, Bau Nyale atau penangkapan nyale menjadi tradisi turun-menurun di Pulau Lombok. Bau berasal dari bahasa Sasak yang berarti menangkap. Nyale merupakan cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut.

Penduduk setempat percaya bahwa nyale memiliki tuah yang membawa kesejahteraan bagi orang-orang yang menghargainya. Mereka juga percaya orang-orang yang meremehkan nyale akan mengalami kesialan.

Tradisi Bau Nyale (Foto: phinemo.com)
Tradisi Bau Nyale (Foto: phinemo.com)

Saat ini, tradisi Bau Nyale berlangsung lebih meriah. Festival Bau Nyale diadakan setiap tanggal 20 bulan kesepuluh dalam kalender Sasak di Pantai Seger, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Orang-orang berkumpul sejak sore hari. Mereka membangun kemah dan mengisi waktu dengan berbagai kesenian tradisional. Juga digelar drama kolosal yang mengisahkan pengorbanan Putri Mandalika dan festival kuliner.

Orang-orang sengaja berkumpul sejak sore atau malam hari karena nyale muncul sekitar pukul 03.00-07.00 Wita. Saat itulah para warga berburu cacing laut bersama-sama. Cacing laut yang diburu itu berwarna hijau, cokelat, dan merah. Selain dipercaya membawa berkah, nyale kaya akan protein sehingga menjadi bahan makanan yang sangat baik.

Tradisi Bau Nyale menjadi salah satu gambaran kedekatan masyarakat Nusantara dengan laut. Selain itu, acara yang didukung oleh masyarakat setempat dan banyak pihak ini menjadi wadah untuk memupuk rasa kebersamaan dan kolektivitas dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Baca juga: Pantai Tanjung Aan, Pesona Pantai di Kawasan Mandalika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 − 4 =