Bahasa dan Sastra Nusantara

601

1001indonesia.net – Bahasa dan sastra Nusantara dimasukkan ke dalam kelompok Melayu-Polynesia dalam rumpun Austronesia dan ke dalam kelompok Papua. Baik dengan pola penjelasan “Wallacea-Weber” maupun dengan pola penjelasan perkembangan kerajaan-kerajaan Nusantara, kita dapat mengamati bagaimana bahasa dibentuk bersamaan dengan persebaran manusia. Baik pengetahuan, teknologi, dan susastra kemudian dibentuk dalam persebaran tersebut.

Terdapat sekitar 746 bahasa-bahasa daerah di Nusantara (menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Sebagian besar bahasa ini terangkum dalam karya sastra sehingga orang dapat mempelajari sumber-sumber tulisan atau melalui percakapan (termasuk dalam foklor). Sebagian lain dipelajari dengan simbol yang muncul dalam bangunan atau penanda ruang (landmark).

Ratusan bahasa ini menghadirkan keunikan Nusantara dalam arti, antara lain:

  • Persebaran kelompok-kelompok masyarakat di Nusantara terjadi secara bergelombang. Penutur bahasa Melayu mendapatkan akses terhadap bahasa dan sastra Melayu melalui perkembangan kerajaan dan perniagaan. Termasuk dalam hal ini perkembangan dalam masing-masing suku, misalnya yang terjadi dalam bahasa Aceh, Minangkabau, dan Palembang. Persebaran ini juga diakses suku-suku yang berkembang di Indonesia Timur, seperti Bugis, Makassar, dan Nusa Tenggara.
  • Bahasa-bahasa yang berdiri sendiri, yang asing sama sekali terhadap penutur lain mencerminkan bahwa masyarakat penutur hidup secara interaksi minimal dengan suku lain, dan dengan pengandaian bahwa situasi penghidupan mereka memungkinkan untuk hidup dalam pola demikian. Hal ini dapat ditemui misalnya di Papua dan Nusa Tenggara Timur.
  • Dalam bahasa-bahasa Nusantara, kita menemukan karakter kata “keras” dan “lemah” (seperti dalam bahasa Jerman), misalnya ditemukan dalam bahasa Muna. Juga, kita menemukan tense atau karakter waktu dan konjugasi (subjek-predikat), misalnya kita temukan dalam bahasa Muna.
  • Bahasa-bahasa Nusantara juga secara langsung berinteraksi dengan bahasa-bahasa dunia. Kita menemukan interaksi bahasa antara bahasa Jawa dengan Sansekerta, dan Bugis-Makassar dengan Arab, Melayu dengan Arab, atau bahasa Indonesia dialek Betawi dengan bahasa Mandarin dan Kanton.

Tersirat dari paparan di muka, bahasa-bahasa Nusantara tetap mengikuti pergerakan penutur dan melakukan interaksi, dengan atau tanpa bahasa Indonesia—sebaliknya, bahasa Indonesia mengambil peran sebagai lingua franca dan bahasa standar dalam ruang pendidikan dan pemerintahan.

Pada saat yang sama, minimnya penelitian dan preservasi bahasa-bahasa Nusantara ini membuat beberapa bahasa tersebut di ambang kepunahan, jumlahnya bahkan mencapai sekitar 50 bahasa. Hal ini juga terkait dengan penuturnya yang kurang dari 500 orang, dan kebanyakan dari mereka pun sudah tua.

LEAVE A REPLY

nine + 8 =