Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, Legenda Cerita Silat Indonesia

1046
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (Foto: aspertina.org)

1001indonesia.net – Bagi para penggemar cerita silat tentu tak asing dengan Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (1926-1994). Pria peranakan Tionghoa ini telah melahirkan ratusan judul cerita silat berlatar Tiongkok dan puluhan judul cerita berlatar Jawa, baik dalam bentuk cerita bersambung maupun cerita lepas.

Cerita silat karyanya begitu memukau dengan berbagai pertarungan para pendekar sakti dengan jurus-jurus mautnya. Tak hanya itu, tak sedikit nilai kebajikan baik dari ajaran Buddha, Tao, maupun Konghucu muncul dalam cerita.

Meski muncul dari latar belakang agama dan budaya tertentu, nilai-nilai itu sejatinya bersifat universal menyangkut kehidupan manusia. Inilah yang menarik dari karya Kho Ping Hoo. Tulisannya tak sekadar bagus untuk dinikmati tetapi juga penuh dengan ajaran mengenai keberanian, welas asih, sikap tanpa pamrih, dan nilai pengorbanan.

Sedari kecil, pria kelahiran 17 Agustus 1926 di Sragen ini sudah gemar membaca. Nilai-nilai religius dan filosofis lambat laun meresap dalam dirinya. Tidak heran jika nilai-nilai inilah dikemudian hari menjiwai karya-karyanya.

Kho Ping Hoo terlahir bukan dari keluarga kaya. Sebagian besar kemampuannya ia peroleh secara autodidak. Pendidikan formalnya hanya sampai pada kelas 1 Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau sekolah dasar untuk bumiputera pada zaman kolonial Belanda.

Karier Kho Ping Hoo sebagai penulis bermula pada 1952 dengan membuat cerita-cerita pendek bernuansa roman percintaan yang saat itu sedang populer. Enam tahun kemudian, karyanya berhasil dimuat untuk pertama kalinya di majalah Star Weekly.

Sejak itu, Kho Ping Hoo semakin giat menulis. Ia menambahkan “Asmaraman” pada namanya untuk mendampingi karyanya yang bersifat romantis. Tambahan nama Sukowati merujuk nama lain dari Sragen, kota kelahirannya. Pada masa awal kariernya ini, Kho Ping Hoo masih belum berani menjadikan penulis sebagai profesi utamanya.

Kho Ping Ho kemudian menerbitkan majalah Teratai bersama beberapa pengarang lain. Majalah tersebut memuat cerita silat pertama yang ditulisnya berjudul Pedang Pusaka Naga Putih. Cerita yang dimuat secara bersambung karena mendulang kesuksesan besar.

Kesuksesan ini menjadi titik balik kariernya sebagai penulis profesional yang sangat produktif. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai juru tulis dan mulai fokus menjadi penulis cerita. Selama kariernya sebagai penulis, tidak kurang 400 judul cerita silat berlatar Tiongkok dan 50 judul berlatar Jawa telah ia tulis.

Walaupun piawai dan sangat produktif dalam menulis cerita silat berlatar Tiongkok, sejatinya Kho Ping Hoo tidak mampu membaca dan menulis dalam bahasa mandarin. Bahkan ia hanya sekali mengunjungi Tiongkok.

Inspirasi untuk tulisannya banyak didapat dari film-film silat Hong Kong dan Taiwan. Dapat dimaklumi jika sejarah dan geografi Tiongkok dalam ceritanya kurang sesuai dengan yang senyatanya karena ia tidak mempunyai sumber-sumber langsung yang bisa dijadikan rujukan.

Karya-karya Kho Ping Hoo memiliki arti penting bagi pembacanya. Khususnya para pembaca pada masa Orde Baru yang merepresi budaya-budaya Tionghoa. Karya Kho Ping Hoo seakan menjadi sumber yang langka bagi orang-orang yang ingin mengetahui sejarah dan kebudayaan Tionghoa, walaupun sebenarnya karya tersebut sebagian besar hanyalah tuangan fantasi Kho Ping Hoo semata.

Sampai saat ini, bahkan setelah ia meninggal 22 Juli 1994 akibat serangan jantung dan dimakamkan di Solo, nama Kho Ping Hoo tetap melegenda dalam penulisan cerita silat dan belum tergantikan. Karya-karyanya yang dengan mudah didapat melalui daring dalam bentuk ebook tetap dibaca hingga sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + 3 =