ASEAN, Peran Aktif Indonesia pada Forum Regional

1121
ASEAN
2nd ASEAN-US Summit yang berlangsung di Myanmar, 13 November 2014 (Sumber: asean.org)

1001indonesia.net – Kita perlu melihat “suasana panas” dunia di masa 50-an dan 60-an. Ada persaingan besar bukan hanya dalam ideologi besar, melainkan juga perebutan pengaruh di wilayah-wilayah Asia Afrika. Provokasi kekerasan bersenjata, ancaman nuklir, penggunaan tekanan-tekanan politik internasional menjadi warna umum di masa itu. Asia Tenggara menjadi bagian dari target tersebut. Persaingan, kecurigaan, dan perlombaan senjata muncul dalam suasana yang demikian. Dari situlah ASEAN lahir.

ASEAN atau Association of Southeast Asia didirikan pada 8 Agustus 1967. Pendirian organisasi negara-negara di Asia Tenggara ini dinyatakan berdiri saat para menteri luar negeri dari 5 negara, Indonesia, Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia bertemu di Bangkok dan menandatangani deklarasi ASEAN.

Para menteri itu adalah Adam Malik dari Indonesia, Abdul Razak dari Malaysia, Narciso Ramos dari Filipina, S. Rajaratnam dari Singapura, serta Thanat Khoman dari Thailand.

Para menteri luar negeri dari kelima negara di Asia Tenggara tersebut membuat kesepahaman dan mendirikan sebuah organisasi untuk membangun bangsa-bangsa yang bernaung di dalamnya. Kesepahaman tersebut akhirnya dirumuskan dalam sebuah nota di Bangkok dan berisi tujuan dari organisasi yang bernama ASEAN.

Pada awalnya, pendirian organisasi regional ini lebih merupakan sebuah upaya untuk membangun kepercayaan para anggotanya untuk mengembangkan kerja sama antar-negara. Namun seiring bergulirnya waktu, fokusnya bukan cuma masalah ekonomi dan sosial budaya saja, aspek politik dan keamanan pun akhirnya menjadi fokus negara-negara ASEAN di kemudian hari.

Di akhir dekade 60-an, ASEAN menjadi prioritas politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif Indonesia. Dengan merangkul negara-negara sekitar dipercaya dapat membuat situasi yang kondusif di kawasan Asia Tenggara. Situasi yang demikian, kemudian menjadi modal bagi perekonomian dan pembangunan Indonesia sendiri.

Sejak organisasi ini didirikan, Indonesia yang dianggap sebagai salah satu negara inisiator menjadi penting dalam kancah perpolitikan dunia. Indonesia menjadi aktif dalam berbagai forum regional maupun internasional dengan menyumbangkan ide-ide dalam berbagai isu yang dihadapi banyak negara di dunia.

Ada banyak hal yang dilakukan Indonesia melalui organisasi negara-negara Asia Tenggara ini. Berikut beberapa diantaranya:

  1. Berperan dalam menciptakan perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Indonesia banyak membantu negara-negara anggota ASEAN lain yang sedang mengalami konflik, seperti yang dialami Vietnam dan Kamboja. Indonesia menjadi penengah kedua belah pihak sejak tahun 1987. Hingga akhirnya, pada tahun 1991 kedua negara sepakat untuk berdamai.
  2. Indonesia berperan menjadi mediator perjanjian damai Moro National Front Liberation (MNLF)—Pemerintah Filipina sejak 1993—yang kemudian berujung pada disepakatinya perjanjian damai pada 2 September 1996 di Manila, Filipina.
  3. Indonesia mengusulkan pembentukan Komunitas ASEAN pada KTT ASEAN IX di Bali. Usulan tersebut mencakup peningkatan di bidang keamanan, sosial-budaya, dan keamanan.
  4. Menggelar pertemuan khusus yang membicarakan tentang bagaimana mengatasi gempa bumi dan tsunami. Pertemuan tersebut diadakan pada bulan Januari 2005.
  5. Pada KTT ASEAN XIX, tahun 2011 di Indonesia, dibuat kesepakatan bahwa ASEAN adalah kawasan bebas Nuklir (Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone atau SEANWFZ). Melalui kesepakatan ini, negara-negara anggota wajib untuk tidak mengembangkan, memproduksi, membeli, ataupun mempunyai senjata nuklir.

Indonesia memahami bahwa kawasan regional adalah juga rumah Indonesia. Kemampuan membuat rumah yang nyaman didiami oleh warganya membuat rumah itu menjadi rumah yang sanggup memunculkan peradaban besar. Indonesia mengambil peran yang tidak kecil dalam membuat ASEAN menjadi rumah Indonesia sendiri. Optimisme Indonesia dibangun sebagai optimisme ASEAN.

LEAVE A REPLY

eleven + 1 =