Aksara Lontara, Huruf Tradisional Masyarakat Bugis-Makassar

2807
Aksara Lontara, Huruf Tradisional Masyarakat Bugis-Makassar
Bentuk naskah dari daun lontar yang memuat aksara Lontara. (Foto: wisatasambilkerja.blogspot.com)

1001indonesia.net – Aksara Lontara adalah salah satu dari 4 aksara tradisional yang ada di Sulawesi Selatan. Penggunaan aksara Lontara yang paling fenomenal ada pada karya Sureg Galigo, sebuah karya epos terpanjang di dunia.

Aksara Lontara terdiri atas 23 huruf konsonan dan 6 huruf vokal mandiri. Aksara ini sebenarnya memiliki sistem penulisan angka,  tapi masyarakat banyak yang tidak mengetahuinya karena informasi dan data yang tersedia sangat minim.

Disebut aksara Lontara karena aksara ini pada awalnya memang ditulis pada daun lontar. Proses penulisan dilakukan dengan menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (sembilu). Daun lontar ini lebarnya sekitar 1 cm dengan panjang sesuai panjang naskah yang ditulis. Tiap-tiap daun lontar disambung dengan benang. Daun lontar yang jadinya panjang tersebut kemudian digulung pada poros kayu dan dijepit sehingga bentuknya mirip seperti gulungan pita kaset tape recorder.

Menurut Mattulada dalam disertasinya, bentuk aksara Lontara terinspirasi oleh bentuk belah ketupat (empat sisi) atau biasa disebut sulapaq eppaq. Kepercayaan mistis masyarakat Bugis-Makassar memandang bahwa sulapaq eppaq menyimbolkan susunan alam semesta dengan empat unsur dimensi mikrokosmos, yakni tanah, api, air, dan angin sebagai simbol kejadian manusia. Oleh karena itu, aksara ini disebut sebagai aksara sulapaq eppaq wola suji.

Tentu, yang terjadi bisa saja sebaliknya. Bukan filsafat sulapaq eppaq yang menginspirasi lahirnya aksara ini, tapi bentuk aksara ini yang menyerupai belah ketupat yang kemudian memperkuat pandangan yang dimiliki oleh masyarakat Bugis tersebut.

Huruf konsonan Lotara. (Foto: wikipedia)
Huruf konsonan Lotara. (Foto: wikipedia)

Penelitian mengungkapkan kemungkinan besar aksara Lontara sudah ada sejak zaman Sriwijaya (abad ke-7–10), atau setidaknya sejak abad ke-10. Pandangan ini didasarkan atas temuan sejarah dari tahun 977 M.

Saat itu, Raja P’uni (Brunei) mengirim upeti yang disertai tulisan kepada kerajaan China. Surat itu disegel, dilampirkan pada sebuah tas kecil, dan tidak ditulis pada kertas China. Bahan yang digunakan untuk surat mengilat sedikit hijau, dengan panjang beberapa kaki, dan lebarnya 1 inci dalam bentuk rol. Jenis tulisan yang digunakan ukurannya kecil dan dibaca secara horizontal.

Memang tidak bisa dipastikan bahwa surat itu ditulis dengan aksara Lontara. Namun, media daun lontar yang dibentuk seperti gulungan pita kaset dan cara baca horizontalnya menunjukkan bahwa Lontara sudah ada saat itu. Juga, ciri-ciri yang didapatkan dari keterangan atas surat itu memberi petunjuk bahwa aksara yang ditulis dalam lontar itu kemungkinan jenis aksara Lontara yang paling tua.

Pada umumnya, para ahli sependapat bahwa aksara Lontara merupakan perkembangan dari aksara Kawi. Akan tetapi, bagaimana tepatnya aksara Kawi menurunkan aksara tersebut, tiap sejarawan memiliki pandangan yang berbeda.

Namun yang jelas, perkembangan aksara Lontara mencirikan masyarakat Nusantara yang terbuka dan mau menyerap apa yang datang dari luar, lalu dipadu-olah dengan apa yang sudah ada sehingga menghasilkan suatu karya yang sesuai dengan budaya setempat. Saat ini, aksara Lontara masih digunakan dalam lingkup kecil masyarakat Bugis-Makassar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × two =