Pela Gandong, Menjalin Keharmonisan dalam Masyarakat Maluku yang Beragam

112
Ilustrasi (Foto: Kompas)

1001indonesia.net – Masyarakat Maluku dapat menjadi inspirasi bagi kita tentang bagaimana hidup secara harmonis dalam masyarakat yang beragam. Di sana, umat Islam dan Kristen mampu hidup berdampingan secara damai.

Tidak hanya berdampingan, mereka bahkan saling mengikatkan diri dalam persaudaraan. Dalam bahasa mereka, Islam biasanya disebut Salam, sementara Kristen atau Nasrani disebut Sarani.

Menyangkut hidup bersama dalam perbedaan, masyarakat Maluku memiliki kearifan lokal yang sangat baik yang dikenal sebagai tradisi Pela Gandong. Tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Maluku sejak dulu ini merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh dua negeri (kampung) atau lebih. Melalui pela mereka saling mengikat tali persaudaraan.

Pela Gandong sendiri merupakan intisari dari kata pela dan gandong. Pela adalah suatu
ikatan persatuan. Sementara gandong mempunyai arti saudara (sekandung). Jadi Pela Gandong merupakan suatu ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara. Perjanjian yang mengikat ini diangkat dalam sumpah dan tidak boleh dilanggar.

Biasanya kampung yang beragama Kristen akan mengangkat kampung yang beragama Islam sebagai saudara, atau sebaliknya. Misalnya, ikatan persaudaraan yang dilakukan oleh negeri Kailolo dan Tihulale di Kabupaten Maluku Tengah pada 2 Oktober 2009 di hadapan gurbernur Maluku saat itu.

Dengan ikatan ini, mereka akan menganggap yang muslim ini sebagai saudara kandung. Apa yang dirasakan oleh saudara yang muslim juga akan dirasakan oleh yang Kristen. Karena itu, di Ambon ada ungkapan, “Ale rasa, beta rasa,” yang kamu rasakan, juga aku rasakan. Nilai-nilai, seperti inklusivitas, tenggang rasa, gotong royong, dan kebersamaan, menjadi nilai yang mendasari hubungan masyarakat kedua kampung tersebut.

Dengan ikatan ini, mereka akan selalu membantu ketika saudara yang terikat dalam pela sedang melakukan sesuatu yang besar, misalnya membangun rumah ibadah. Saudara yang Muslim akan membantu saudara yang Kristen ketika mereka sedang membangun
gereja. Begitu juga sebaliknya, saudara yang Kristen akan membantu saudara yang Muslim ketika mereka membangun masjid.

Pada 1999–2002, masyarakat Maluku sempat mengalami konflik bernuansa agama yang banyak memakan korban. Namun, konflik yang sempat menguras habis energi masyarakat Maluku ini membuat mereka sadar betapa merugikannya hidup dalam kebencian dan perkelahian.

Masyarakat kemudian bangkit untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Para pemimpin agama di daerah itu juga berperan aktif dalam proses penyelesaian konflik dengan menyebarkan nilai-nilai perdamaian kepada umatnya.

Mereka kemudian saling mempererat tali silaturahmi. Orang Islam diajak berkunjung ke keluarga Kristen dan begitu juga sebaliknya, orang Kristen diajak ke rumah orang Muslim. Masing-masing kemudian menunjukkan bahwa agama yang mereka anut mengajarkan nilai-nilai kasih sayang kepada semua umat manusia, tanpa melihat latar belakangnya.

Hubungan yang mereka jalin ini kemudian melahirkan rasa persaudaraan yang cukup
mendalam. Dengan ikatan tali persaudaraan ini, agama dan suku tidak lagi menjadi sekat yang memisahkan antarwarga. Masyarakat hidup bersama secara harmonis.