Tumbang Kalang, Hidup Harmonis dalam Masyarakat Majemuk

96
Empat rumah ibadah dibangun secara berdampingan di Desa Tumbang Kalang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Toleransi sudah menyatu dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Tumbang Kalang. (Foto: humas.kotimkab.go.id)

1001indonesia.net – Hidup secara harmonis dalam perbedaan sudah menjadi bagian dalam praktik keseharian masyarakat Desa Tumbang Kalang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Di sini ada yang disebut “Kampung Toleransi”. Di atas bukitnya, dibangun empat tempat ibadah secara berdampingan menjadi bukti adanya keberagaman dan perbedaan tidak menjadi masalah.

Seperti yang dilansir Kompas (28/06/2017), masyarakat Desa Tumbang Kalang memang sangat beragam. Ada bermacam-macam agama di sini. Etnisnya juga beragam dengan datangnya para transmigran dan orang yang berpindah bekerja ke desa ini.

Namun, dengan kuatnya nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya, perbedaan tersebut tidak menimbulkan ketegangan dan perpecahan. Kehidupan beragama di desa ini sangat harmonis. Misalnya, pada saat bulan puasa, orang yang tidak ikut berpuasa pun terbiasa ikut menyiapkan menu berbuka puasa. Masyarakat nonmuslim pun tak segan-segan ikut menyemarakkan perayaan Islam.

Desa Tumbang Kalang merupakan ibu kota Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Dari Palangkaraya, jaraknya sekitar 230 kilometer atau enam jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Saat ini, Tumbang Kalang dihuni 478 keluarga dari berbagai latar suku, seperti Dayak, Banjar, Jawa, dan Batak. Sekitar 50 persen penduduknya menganut Islam, sisanya Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu Kaharingan yang merupakan agama asli suku Dayak di Kalimantan.

Pada 2015, sebagai langkah untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama, pemerintah daerah membangun empat tempat ibadah secara berdampingan di bukit sebelah atas perkampungan. Keempat bangunan tersebut adalah Balai Basarah milik umat Hindu Kaharingan yang terletak di paling kiri, kemudian Gereja Katolik Stasi Kudus, Gereja Kristen Eka Shinta, dan Masjid Al Haddi di paling kanan.

Konflik

Keberagaman desa ini terbentuk setelah 1980-2000 ketika tempat ini kedatangan banyak perusahaan kayu dan sawit yang mengonversi lahan. Kedatangan itu juga membawa warna baru dari berbagai daerah.

Namun, hubungan antarwarga dalam masyarakat yang beragam ini tidak selamanya berjalan mulus. Pada 2001, konflik terjadi di Sampit, Kotawaringin Timur, yang merembet hingga Kecamatan Antang Kalang. Ribuan orang meninggal dalam kerusuhan itu. Ekonomi lumpuh, warga desa tidak pergi ke ladang karena takut keluar rumah. Untuk bertahan, mereka menunggu bantuan dan bergantung pada sisa panen yang ada.

Peristiwa tersebut begitu kuat membekas dalam ingatan masyarakat. Mereka tidak ingin masa kelam tersebut berulang. Untuk itu, berbagai upaya dilakukan, terutama dengan menjalin dialog antarpemuka umat agama.

Upaya untuk menciptakan perdamaian juga  dilakukan dengan kembali menggali kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat. Leluhur suku Dayak memiliki rumah betang atau rumah panjang yang di dalamnya terkandung filosofi hidup bersama secara damai.

Di rumah betang yang mampu menampung selusin keluarga, setiap keluarga dibebaskan memilih agama masing-masing. Relasi antarkeluarga terjadi dengan harmonis, bahkan tiap penghuni mendistribusikan kesejahteraan ke penghuni lain. Orang Dayak yang hidup sebagai petani dan pemburu terbiasa membagi hasil yang mereka dapatkan untuk dinikmati bersama. Kebisaan ini menjadi tradisi dan terjaga sampai saat ini. Sebab itu, rumah betang dapat menjadi simbol hidup bersama secara harmonis.

Di Tumbang Kalang, upaya untuk mengembalikan kedamaian berhasil. Perbedaan agama dan etnis tidak lagi menjadi penyebab perpecahan masyarakat. Prinsip berbagi dan hidup bersama secara damai mereka pegang teguh.

LEAVE A REPLY

4 × two =