Tuk Serco, Kearifan Lokal Menjaga Mata Air

157
Foto: KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO

1001indonesia.net – Air sangat penting artinya bagi kehidupan. Sebab itu, banyak sekali kearifan lokal di Nusantara yang menekankan pentingnya menjaga mata air. Salah satunya di lereng Ungaran, tepatnya di Dusun Ngijo, Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Secara bergotong royong, masyarakat di sana menjaga Tuk Serco agar tetap lestari.

Peran Tuk Serco sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar sangat vital. Sumber air alami yang berasal dari celah Gunung Ungaran ini selalu mengalir sepanjang tahun. Uniknya, pada musim kemarau, saat sumur-sumur di daerah sekitarnya mengering, debit air Tuk Serco justru meningkat.

Sakral

Tuk Serco bukanlah mata air biasa. Masyarakat setempat percaya sumber air tersebut sakral. Ada keyakinan secara turun temurun, air Tuk Serco tidak hanya dapat menyegarkan badan, tetapi juga menyembuhkan sakit ringan, seperti badan kelelahan, batuk, pilek, ataupun sakit kepala.

Bahkan airnya diyakini berkhasiat membuat awet muda. Gadis-gadis dari desa lain sering ikut mandi di sendang Tuk Serco karena meyakini airnya dapat membuat rupa mereka semakin berbinar.

Ada nilai positif juga dari kepercayaan tradisional ini. Kepercayaan akan kesakralan sumber air ini membuatnya tetap lestari. Tidak ada warga yang berani merusak lingkungan di mata air.

Bahkan, jika ada warga habis mandi dan membawa pulang batu kerikil dari dalam kolam, dipercaya bersangkutan akan menderita demam tinggi. Ia baru sembuh ketika batu yang dibawanya dikembalikan ke dalam kolam.

Sebagai penghormatan, ungkapan rasa terima kasih, dan untuk menjaga sumber air tetap lestari, terdapat tradisiĀ nyadran. Tradisi yang diwarisi turun-temurun ini dilaksanakan setiap tahun pada Jumat Pahing menjelang bulan Ramadhan. Saat itu warga akan membuat sesaji tumpeng untuk dibawa ke dekat mata air. Mereka kemudian berdoa. Ritual ini kemudian diakhiri dengan makan bersama.

Selain itu, warga bahu-membahu menjaga kebersihan mata air dan area sekitarnya. Di lokasi tersebut terdapat tempat sampah sederhana yang digunakan warga untuk menampung sampah setelah mereka mandi.

Warga sekitar sudah memiliki kesepakatan untuk menjaga mata air yang berada di kaki perbukitan ini tetap lestari. Upaya yang dilakukan antara lain dengan menanam pohon di sekitar mata air. Yang ditanam adalah tanaman keras, seperti pohon sengon, tanaman kopi, durian, dan pohon petai.

Pohon-pohon tersebut tidak boleh sembarangan ditebang. Ada kesepakatan di antara warga terkait pohon yang boleh ditebang. Pohon sengon baru boleh ditebang setelah berumur 4-5 tahun, tinggi 30 meter, dan diameter batang 70-80 centimeter. Setiap pohon yang ditebang mesti segera diganti. Selain itu, penebangan tidak boleh dilakukan secara serentak di satu kawasan.

Larangan lain di antaranya adalah tidak boleh mencuci perkakas yang berjelaga, tidak boleh mencuci daging yang berdarah dengan membelakangi mata air, dan tidak boleh mencuci bekas masakan atau ikan. Masyarakat juga tidak boleh mendirikan bangunan semipermanen dan permanen di sekitar Tuk Serco.

Konon ceritanya, sendang Tuk Serco menjadi cikal bakal berdirinya Dusun Ngijo. Dahulu, kawasan dusun yang merupakan hutan itu mulai didatangi warga dan kemudian tinggal di sekitar Tuk Serco.

Di bawah sumber air Tuk Serco terdapat dua kolam seluas masing-masing 2 meter persegi dengan kedalaman 60 sentimeter persegi. Satu untuk pria, dan satunya lagi untuk wanita. Meskipun letaknya terbuka di tepi jalan, banyak warga mandi dan membasuh badannya di kolam ini.

Selain digunakan untuk keperluan sehari-hari, sumber air Tuk Serco juga digunakan untuk keperluan irigasi lahan pertanian yang mengairi lebih dari 6 hektare sawah.

Sejumlah warga yang mampu kini mulai membuat jaringan pipa paralon untuk memudahkan aliran air Tuk Serco masuk ke rumah mereka masing-masing. Panjang jaringan pipa paralon dari sumber air ke rumah warga paling jauh mencapai 1,5 kilometer.

Warga juga memfasilitasi pembuatan jaringan paralon guna mengalirkan air bersih ke sarama fasilitas umum, seperti sekolah dan tempat ibadah.

Tak bisa disangkal, manusia merupakan bagian dari alam. Ketika manusia berbuat semaunya, alam menjadi rusak. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang akan dirugikan oleh tindakan tersebut. Sebab itu, menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari merawat kehidupan.

LEAVE A REPLY

14 − two =