Tjilik Riwut, Putra Dayak yang Menjadi Pahlawan Nasional

oleh Siti Muniroh

85

1001indonesia.net – Dari Suku Dayak Ngaju yang berada di Kalimantan Tengah, tepatnya di Kasongan, pernah lahir seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia. Dialah Tjilik Riwut. Ia memiliki peran penting di balik bergabungnya Kalimantan dengan Indonesia. Ia pula yang yang terdepan dalam memberikan penjelasan mengenai Kaharingan yang merupakan agama asli Suku Dayak kepada pemerintah dan khalayak luas.

Saat usianya masih muda belia, Tjilik telah 3 kali menjelajahi pulau Borneo. Ia melakukannya hanya dengan berjalan kaki atau menggunakan sampan. Ia memang senang menjelajah. Ia terbiasa keluar-masuk hutan hanya dengan celana panjang. Tanpa alas kaki dan baju. Hal ini dilakukannya dengan bangga sebagai “orang hutan”.

Ayahnya, Riwut Dahiang, melakukan balampah (bermunajat) di Bukit Batu guna memohon kepada Yang Kuasa agar memberikan kelangsungan hidup anak laki-lakinya. Sebab, Riwut Dahiang sering kali mendapat anak laki-laki, tetapi wafat di usia belia. Akhirnya, balampah itu pun dikabulkan. Pada 2 Februari 1918, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Tjilik Riwut. Oleh bapaknya, Tjilik kecil ini kemudian sering diajak ke Bukit Batu.

Perjalanan Hidup

Tjilik Riwut menjalani pendidikan dasarnya di kota tempat ia dilahirkan. Ia lalu melanjutkan ke Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung. Setelah tamat, ia tertarik dalam dunia tulis-menulis. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menjadi wartawan.

Pada 1940, ia sudah menjadi pemimpin redaksi majalah Suara Pakat. Sumber lain menyebutkan bahwa ia adalah koresponden Harian Pemandangan. Bersama dengan sastrawan terkemuka angkatan 1920-an hingga 1940-an, yakni Sanusi Pane, ia juga menjadi jurnalis Harian Pembangunan. Dalam dunia juru-warta inilah, ia mengerahkan segala upayanya untuk menyebarkan berita tentang pergerakan nasional di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Tjilik Riwut telah menulis beberapa buku, antara lain Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Kalimantan Memanggil (1958), Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962), Manaser Panatau Tatu Hiang (1965), dan Kalimantan Membangun (1979).

Meski Tjilik Riwut adalah beragama Katolik, tapi dalam buku yang berjudul Manaser Panatau Tatu Hiang (terusan dari judul buku ini adalah Menyelami Kekayaan Leluhur), ia meletakkan pemahaman dasar mengenai hakikat agama Kaharingan (aliran kepercayaan leluhur Kalimantan). Buku terbitan Pustaka Empat Lima di Palangkaraya tahun 2003 ini disunting oleh salah satu putrinya, yaitu Nila Riwut.

Salah satu yang membuat agama leluhur suku Dayak ini dapat bertahan adalah dikarenakan Tjilik Riwut selalu menjadi yang terdepan untuk memberikan penjelasan tentang agama warisan ini setiap kali muncul pertanyaan dari otoritas pemerintah yang berwewenang. Tepatnya pada 1944, ia mulai mengenalkan ajaran nenek moyang ini. Saat itu, ia menjabat sebagai Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin.

Ekspresi peradaban Agama Kaharingan sangat akrab dengan bukit, hutan belantara, lembah, dan ngarai karena kesemuanya diyakini sebagai tempat bersemayam roh leluhur. Hal inilah yang mungkin saja berkesesuaian dengan kebiasaan Tjilik Riwut yang masuk-keluar hutan dengan berjalan kaki atau dengan sampan dalam menyelusuri Pulau Borneo.

Pada saat Jepang berkuasa di Indonesia, putra Dayak ini menjadi intelijen militer Jepang. Tugas yang diembannya adalah mengumpulkan data tentang kondisi Kalimantan. Dalam hal ini, bukanlah ia berkhianat. Seperti pemuda lainnya, ia melakukannya seperti yang dianjurkan oleh Sukarno, yaitu melakukan politik kompromi sembari mengambil ilmu perang dari negara yang berhasil mengusir kekuatan Belanda dari Indonesia itu.

Oleh karena itu juga, putra kelahiran Ngaju ini memanfaatkan jabatannya. Posisi strategisnya dipakai untuk mengakses seluruh daerah di Kalimantan. Ia lantas menjalin komunikasi dan koordinasi dengan beragam suku di sana. Komunikasi ini berisi permintaan untuk tetap berkomitmen dan setia mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Jasa-Jasa Tjilik Riwut

Saat Indonesia baru saja terbentuk, Pangeran Muhammad Noor, Gubernur Borneo waktu itu, menerjunkan Tjilik Riwut ke Kalimantan sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia. Beserta rombongan yang terdiri dari 13 orang Kalimantan (termasuk dirinya) dan dua orang Jawa, mereka berekspedisi ke daerah tersebut.

Di sana, mereka membentuk barisan perjuangan dari usaha mereka menghubungi berbagai suku Dayak yang ada di pelosok-pelosok. Pembentukan ini dilakukan guna menyatukan persepsi rakyat untuk bersama-sama menggalang persatuan dan dukungan kepada Negara Indonesia yang baru terbentuk.

Usaha yang mereka lakukan berhasil. Tercatat dalam sejarah, ia mewakili 185.000 rakyat terdiri atas 142 suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan. Elemen-elemen ini lantas menyatakan setia dan mendukung Pemerintah RI. Sumpah setia tersebut dilakukan di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Desember 1946.

Jasa Tjilik Riwut lainnya terhadap Negara RI adalah ketika ia memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama, yakni pada tanggal 17 Oktober 1947. Pasukan militer kala itu bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Tanggal ini lantas menjadi tanggal bersejarah dan dijadikan hari besar pasukan khas TNI AU. Tjilik Riwut kemudian diberikan pangkat Mayor. Adapun pangkat terakhirnya adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI AU.

Pengalaman perang Tjilik Riwut meliputi sebagian besar Pulau Kalimantan dan Jawa.  Sebelum menjabat sebagai anggota DPR RI (jabatan terakhirnya), ia pernah menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, lalu menjadi Wedana Sampit. Setelah itu, ia menjadi Bupati Kotawaringin dan kemudian menjadi Gubernur Kalimantan Tengah.

Pada hari Senin tanggal 17 Agustus 1987, yang bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Tjilik dipanggil oleh Yang Kuasa setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Suaka Insan karena menderita penyakit lever/hepatitis. Saat itu ia berusia 69 Tahun. Ia beristirahat secara abadi di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Atas berbagai jasanya, Tjilik dianugerahi gelar Pahlawan Nasional (1998) di masa pemerintahan B.J. Habibie. Namanya pun diabadikan sebagai salah satu bandar udara di Palangka Raya. Keluarganya juga mendirikan museum yang dipadu dengan restoran di bangunan bekas tempat tinggal Tjilik Riwut di Palangka Raya.

LEAVE A REPLY

17 − eight =