Teungku Fakinah, Berjuang Untuk Kermerdekaan Tanah Air dan Pendidikan

oleh Siti Muniroh

158
Ilustrasi

1001indonesia.net – Teungku Fakinah atau singkatnya Teungku Faki merupakan ulama perempuan terkenal sekaligus seorang pejuang dan pendidik dari Aceh. Gelar Teungku pada nama depannya menunjukkan bahwa dirinya memiliki pengetahuan agama Islam yang luas. Gelar ini disematkan baik kepada laki-laki maupun perempuan. Siapa pun yang menyandang gelar ini memiliki tanggung jawab untuk memosisikan diri sebagai tokoh yang layak menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Fakinah dilahirkan sekitar tahun 1856 M, di desa Lam Diran kampung Lam Beunot (Lam Krak), Aceh. Nantinya, ia menjadi ulama besar setelah mengenyam ilmu pengetahuan agama Islam yang luas dari Datuk Mahmud, bapaknya.

Datuk Mahmud merupakan pejabat pemerintahan pada zaman Sultan Muhammad Sa’at yang terkenal dengan Tengku Cik Lam Pucok, pendiri Dayah Lam Pucok. Dayah (pesantren) ini sendiri banyak melahirkan ulama sekaligus pahlawan Aceh. Tengku Chik di Tiro, yang mempunyai nama lain yakni Muhammad Saman, adalah salah satunya.

Pada 1872, oleh orang kampung Lam Beunot, Teungku Fakinah dikawinkan dengan Tengku Ahmad yang bergelar Teungku Aneuk Glee. Suaminya ini lalu membuat satu dayah yang dibiayai oleh mertuanya atas dukungan orang Lam Beunot dan Imuem Lam Krak.

Pesantren ini banyak dikunjungi oleh anak-anak muda dari tempat lain di sekitar Aceh Besar dan Aceh Pidie.  Namun sayang, dayah yang dikelola oleh suami istri secara langsung ini hanya berumur satu tahun lantaran terjadi serangan Belanda saat Perang Aceh Pertama (1873-1874). Tengku Aneuk Glee gugur di dalam perlawanan ini bersama dengan Tengku Imam Lam Krak, Panglima Rama Setia, beserta perwira lainnya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 8 April 1873.

Perjuangan Mempertahankan Tanah Air

Teungku Fakinah tidak pernah menempuh pendidikan formal. Pengetahuan agama, seperti ilmu tauhid, tafsir, hadits, fiqih, akhlak-tasawuf dan bahasa arab, dipelajari dari orangtuanya. Ilmu keputrian pun ia peroleh dari ibunya. Ia juga mengikuti pendidikan militer menjelang pecahnya perang Aceh melawan Belanda.

Selain itu, ia mempelajari keahlian menjahit dan kerajinan kerawang sutera emas dan perak. Teungku Fakinah dikenal tidak hanya sebagai ahli agama melainkan juga ahli kerajinan kerawang.

Sejak ditinggal Teungku Aneuk Glee, Tengku Fakinah membentuk Badan Amal Sosial. Bersama dengan janda-janda lain, ia mengumpulkan sumbangan rakyat berupa perbekalan dan uang pribadi. Perbekalan ini untuk perang. Anggota-anggota lain bahu-membahu mempersiapkan makanan untuk orang yang datang dari luar, seperti Pidie, Meureudu, Samalanga, Peusangan dan lain-lain, di samping membantu menuangkan timah untuk pelor senapan.

Setelah selesai membangun Kuta (benteng) Tjot Weue, Teungku Fakinah yang juga bergelar Panglima Perang ini dijodohkan dengan Teungku Nyak Badai atas mufakat orang-orang sekitarnya. Suami keduanya ini merupakan lulusan murid Dayah Tanoh Abee yang berasal dari Pidie.

Pernikahan kedua ini membuat Teungku Fakinah bertambah giat mengumpulkan segala perlengkapan persenjataan dan makanan untuk keperluan tentara pengikutnya. Namun naas, tahun 1896 suami keduanya ini tewas ketika terjadi penyerbuan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Komandan Kolonel J. W Stempoort.

Cut Nyak Dhien amat mengenal Teungku Fakinah. Sejak perang di Aceh Besar berkecamuk, kedua perempuan hebat ini telah amat dekat satu sama lain. Cut Nyak Dhien, baik dalam pertarungan mereka di Montasik, Lamsi maupun ketika kedatangannya ke Lam Krak, sering berkunjung ke rumah Teungku Fakinah. Selain bercengkrama satu sama lain, Cut Nyak Dhien juga meminta bantuan perbekalan perang bagi pengikut-pengikut suaminya, yakni Teuku Umar. Tengku Fakinah memberi bantuan beras, kain hitam, dan uang tunai.

Teungku Fakinah pun sering datang ke rumah Cut Nyak Dhien di Lampadang, Bitai dan tempat-tempat lain di mana Cut Nyak Dhien tinggal.

Pada suatu hari, Teungku Fakinah terkejut ketika mendengar Teuku Umar telah bekerja sama dengan Belanda untuk menyerang kota Tungkop kecamatan Darussalam Aceh Besar. Kota ini adalah tempat pertahanan daerah  XXVI Mukim dan daerah pertahanan Teungku Fakinah di Ulee Tanoh. Untuk mengantisipasi hal ini maka didirikanlah tiga buah Kuta: Tjot Pring, Tjot Raja, dan Tjot Ukam. Teungku Fakinah sendiri mempunyai resimen yang memiliki 4 balang (bataliyon). Balang-balang ini merupakan kumpulan para pendekar perempuan  yang tak pernah menyerah kepada Belanda.

Terdapatlah dua orang perempuan yang menyerahkan nazar mereka untuk ikut berperang beserta sumbangannya. Sumbangan dari orang-orang Bitai dan Peukan Bada pun turut serta. Teungku Fakinah meminta bantuan dua perempuan ini  menyampaikan surat “peringatan” kepada Cut Nyak Dhien.

Menurut catatan Ali Hasymi dalam bukunya Wanita Aceh, surat yang berbahasa Aceh itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Isinya adalah sbb: “… Saya harap agar Cut Nyak menyuruh suaminya, Teuku Umar, untuk memerangi perempuan-perempuan yang telah menanti di Kuta Lamdiran (markas Sukey Fakinah), sehingga akan dikatakan orang bahwa dia adalah pahlawan yang berani, Johan Pahlawan seperti yang digelarkan oleh musuh kita Belanda .…”

Surat ini lantas menyadarkan Cut Nyak Dhien. Kepada Pang Abdulkarim (Do Karim, seorang Sastrawan sekaligus penyair Aceh saat itu), Ia berkata: “Apalagi Pang Karim, sampaikan kepada suamiku bahwa Tengku Fakinah telah siap sedia menanti kedatangannya di Lamdiran. Sekarang, barulah dinilai perjuanganmu cukup tinggi, pria lawan wanita, yang belum pernah terjadi di masa nenek moyang kita. Kafir sendiri segan memerangi wanita. Karena itu, Teuku didesak berbuat demikian. Sudah dari dulu kuperingatkan: janganlah menyusu kepada badak .…” Ia lalu mengutus Do karim untuk menyampaikan hal ini kepada Teuku Umar.

Pesan inilah kiranya yang membuat Teuku Umar kemudian berbalik perjuangan melawan penjajah Belanda. Ia memboyong banyak persenjataan penjajah ini.

Meneruskan Perjuangan di Bidang Pendidikan

Tengku Fakinah menikah lagi dengan Tengku Ibrahim. Pada 1915 M, bersama suaminya ini beliau naik haji ke Makkah dan bermukim agak lama di sana untuk meneruskan belajar agama.

Di Makkah, mereka menumpang di rumah wakaf Aceh, Jalan Kusya Syiah yang diurus oleh Syekh Abdul Gani (berasal dari Aceh Besar). Setelah melaksanakan ibadah haji, ia mempelajari ilmu pengetahuan dan memperdalam ilmu fikih kepada Tengku Syekh Muhammad Saad yang berasal dari Peusangan di sudut Masjidil Haram.

Setelah berjalan 3 tahun dan memasuki tahun ke-4, suaminya wafat di Makkah. Teugku Fakinah lalu kembali ke Aceh. Saat itu adalah tahun 1918. Di tempat kelahirannya ini ia kembali mengelola pesantrennya dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang telah didapatnya. Ia juga membuka pendidikan ilmu bertukang (mebel dan teknik sipil) selain tentu saja pendidikan menjahit.

Pada tanggal 8 Ramadhan 1359 H (1938M), Tengku Fakinah wafat di kediamannya yang terletak di kampung Beuha Mukim Lam Krak dalam usia 75 tahun.

*) Sumber utama tulisan ini adalah karya Zuriah berjudul “Teungku Fakinah: Telaah Ulang Peran Keulamaan Perempuan di Aceh” dalam kumpulan tulisan Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia, KH. Helmy Alie Yafie, ed., KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), 25-27 April 2017, hal. 6-12.

LEAVE A REPLY

5 × 2 =