Tari Sintren, Tarian Mistis Asal Cirebon

oleh Siti Muniroh

196
Foto: kamerabudaya.com

1001indonesia.net – Di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, terdapat satu kesenian tari yang bercorak mistis. Di dalamnya terdapat prosesi pemanggilan roh untuk menari dalam tubuh manusia yang tidak sadarkan diri.  Kesenian ini disebut tari sintren atau lais. Tarian ini menyebar di beberapa daerah, yakni Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan.

Konon, tari ini bersumber dari kisah asmara Raden Sulandono dengan Sulasih dari Desa Kalisasak. Hubungan asmara ini tidak direstui oleh Ki Bahurekso, bapak R. Sulandono yang saat itu menjabat sebagai bupati Kendal yang pertama.

Sebab itu, R. Sulandono memutuskan untuk pergi bertapa. Kekasihnya pun memilih menjadi penari. Sebelum berangkat, ibu dari R. Sulandono, yakni Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar, memberikan sebuah kain kepada putranya. Kain ini dijadikan sebagai ‘jalan penghubung’ agar putranya dapat sering bertemu dengan kekasihnya melalui alam gaib.

Adapun proses pertemuannya yakni sang ibu memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih. Sang putra pun dipanggil ibunya. R. Sulandono kemudian turun dari pertapaan. Saat ia melihat kekasihnya, ia melemparkan kain pemberian ibunya ke tubuh kekasihnya itu. Sulasih pun pingsan. Hal ini memudahkan R. Sulandono untuk membawa Sulasih pergi dan bermadu-kasih.  Sejak itulah tarian ini terkenal sebagai tarian pemanggilan roh oleh pawangnya ke dalam tubuh seorang remaja putri.

Penari sintren sendiri bukanlah sembarang orang. Ia mesti seorang perawan. Sebelum menari, ia harus puasa terlebih dahulu serta menjaga diri untuk tidak berbuat dosa demi kelancaran masuknya roh ke dalam tubuhnya saat akan melakukan gerakan tari sintren.

Prosesi 

Pertama-tama, sang pawang dan para pembantunya menyiapkan kemenyan, sesajen, kurungan, dan tali. Mereka kemudian melakukan dupan, yaitu berdoa bersama untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kelancaran dan dijauhkan dari bahaya yang ada selama pertunjukan dilaksanakan.

Setelah itu, sang penari utama (karena ada penari lain berjumlah 4 orang yang disebut dayang) dengan pakaian biasa, duduk dengan posisi kedua kaki diduduki tubuhnya. Lantas sang pawang memegang kedua tangan si penari utama dan ditempelkan ke asap kemenyan.

Setelah itu, penari tersebut diminta berdiri. Ia kemudian dililit dengan kain batik dari bawah leher hingga ujung kaki, dan diikat dengan tali. Ikatan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga penonton yang melihatnya pun berpikir bahwa si penari tak akan bisa melepas diri ikatan tersebut tanpa bantuan orang lain.

Penari sintren dililit kain disekujur tubuhnya lalu diikat. (Foto: Fitraya/detikTravel)

Setelah selesai, sang pawang lalu melakukan gerakan seperti hipnotis secepat mungkin dengan menempelkan tangan ke dahi sang penari, sambil membaca mantra, hingga membuat si penari pingsan. Saat itulah sang penari direbahkan di atas tikar lalu ditutup dengan tikar tersebut.

Di dekat kepala sang penari telah disediakan kurungan. Bila berhasil dalam prosesi pemantraan dan segala usaha mistiknya, maka si penari akan hilang dan telah pindah ke dalam kurungan tersebut. Pawang kemudian mengitari kurungan itu dengan membawa kemenyan dan terus membaca mantra untuk pemanggilan roh Dewi Lanjar.

Saat kurungan bergerak, pawang dan para pembantunya mengangkat kurungan tersebut dan terlihatlah sang penari yang sudah berganti kostum yakni kostum menari dengan dandanan rapi dan berkaca mata hitam. Ikatan di tubuhnya pun sudah lepas. Namun ia tetap dalam keadaan pingsan.

Oleh beberapa pembantu pawang, sang penari didirikan sambil ditopang tubuhnya. Pawang ini lantas membaca mantra dan memegang lengan hingga ujung jari si penari sambil membaca mantra sekitar 3 hingga 5 menit. Saat di ujung jari kedua tangan si penari,  pawang berhenti sebentar lantas melepas tangannya dan penari mulai menggerakkan tarian.

Di saat menggerakkan tubuhnya ini, sang penari tidaklah sadar. Ia menari dalam keadaan kesurupan. Boleh dikatakan bahwa penari yang riil adalah roh yang memasuki tubuh si penari. Inilah yang disebut sintren, yaitu menari di saat kesurupan.

Sumber lain mengatakan bahwa sintren dari segi etimologi merupakan gabungan dua suku kata yakni si dan tren. Si dalam bahasa jawa berarti “ia” dan tren berarti “putri”. Jadi, sintren artinya Si Putri yang menjadi pemeran utama dalam acara ini.

Rangkaian seluruh pelaksanaan di atas dinamakan prosesi Paripurna.

Bila penonton ada yang melempar sesuatu ke arah sang penari, seperti halnya dalam sumber kisah tari ini, yakni R. Sulandono melempar kain yang diberikan oleh ibunya kepada Sulasih, maka si penari pingsan kembali. Inilah yang disebut balangan, yaitu pelemparan sesuatu kepada sang penari dan benda ini bisa apa saja asalkan tidak menyakiti tubuh sang penari.

Saat ini, sudah menjadi kebiasaan penonton untuk melempar uang. Lalu pawang membacakan mantra sambil memegang ujung jari kedua tangan si penari. Lantas penari tersebut menari kembali. Begitulah seterusnya hingga acara itu usai.

Dayang-dayang pun tetap menari sedari awal acara hingga usai. Namun mereka menari dalam keadaan sadar dan berfungsi sebagai pengiring tarian sang penari.

Ada pula istilah temohan, yakni saat sang penari memegang nampan dan mendekati penonton untuk mengisinya dengan uang secara sukarela. Temohan ini dilakukan tergantung kepada yang menggelar pertunjukan itu sendiri. Bila dirasa cukup dari balangan saja, maka temohan bisa saja tidak perlu dilakukan.

Ketika pergelaran usai, sang penari pun dibuat pingsan oleh pawang persis seperti yang telah dilakukan di tahap awal. Dalam keadaan itulah si penari dikurung kembali. Pawang kemudian membacakan mantra sambil membawa kemenyan dan mengitari kurungan.

Ketika pawang merasakan sudah waktunya untuk mengangkat kurungan, maka diangkatlah. Sang penari terlihat dalam keadaan duduk tertunduk karena masih dalam posisi pingsan. kemudian pawang meletakkan tangannya di dahi sang penari tersebut dan mengusap matanya. Lalu terbukalah mata sang penari.

Pawang, pembantu-pembantunya, penari, dan dayang-dayang serta penabuh gamelan pun memohon undur diri. Pertunjukan dianggap telah usai.

Atribut Pertunjukan

Kostum yang biasa digunakan oleh penari sintren adalah baju golek, yaitu baju tanpa lengan yang biasa digunakan dalam tari golek. Di bagian bawah biasanya menggunakan kain jarit dan celana cinde. Kepalanya biasa menggunakan jamang, yaitu untaian bunga melati di samping kanan dan koncer di bagian kiri telinga.

Atribut lainnya adalah sabuk, sampur, dan kaos kaki hitam/putih. Tak lupa pula kaca mata hitam yang berfungsi sebagai penutup mata dikarenakan sang penari selalu memejamkan mata saat kesurupan.

Sepanjang acara digelar, alat musik gending ditabuhkan. Penabuhnya yang terdiri dari 6 orang melantunkan tembang Jawa. Saat ini, alat musik yang digunakan adalah alat musik modern, seperti orkes.

Tari sintren kini sudah jarang ditampilkan, termasuk juga di daerah asalnya. Bila ditampilkan, sudah ada beberapa perubahan seperti adanya tambahan bodor (lawak) dan hiburan lainnya.

LEAVE A REPLY

1 + 17 =